Perjanjian Cinta Ladista

Perjanjian Cinta Ladista
Reuni?


__ADS_3

"Selamat siang Fa, sorry kalau aku ganggu waktu kamu!" ucap Fany dengan senyum manis.


"Bagaimana bisa kamu sampai di kantor ku??" tanya Daffa penasaran.


Fany tersenyum lembut dan berkata " Waktu itu kamu bilang kalau kamu menggantikan papa mu memimpin perusahaannya. Yang aku tahu adalah Wiguna Grup. Jadi bisa ku pastikan disinilah kantor mu."


"Benar juga!" jawab Daffa.


"Lalu ada perlu apa kamu mencari ku?" tambah Daffa.


"Emm.. aku ke sini karena butuh bantuan kamu Fa. Maaf sebelumnya karena harus merepotkan kamu." ujar Fany.


"Bantuan apa?"


"Sudah lama aku meninggalkan Jakarta, dan baru sebulan ini aku kembali. Di sini aku tidak punya sanak keluarga. Hanya mengenal beberapa teman termasuk kamu." Fany menjeda ucapannya.


"Aku butuh pekerjaan untuk bertahan hidup. Aku sudah melamar ke beberapa perusahaan, tapi kata mereka belum ada lowongan. Teman-teman yang aku kenal juga sudah berusaha membantu ku, tapi hasilnya nihil. Sebenarnya aku malu meminta bantuan kepada mu." tambah Fany.


"Tidak usah sungkan untuk meminta bantuan ku! Tapi.. untuk saat ini tidak ada posisi bagus yang kosong." ucap Daffa.


"Posisi apa saja Fa, yang penting aku bisa menghidupi diri ku sendiri. Kalau hanya mengandalkan tabungan lama-lama akan habis juga."


"Divisi keuangan butuh orang, tapi hanya posisi karyawan biasa. Apa kamu mau?" tanya Daffa.


"Iya nggak apa-apa. Aku bersedia." jawab Fany lemah, tersirat kekecewaan di matanya.


Ceklek... pintu terbuka.


"Sayang... kamu sudah sampai!" sapa Daffa dengan senyum penuh kasih sayang. Saat melihat Dista muncul dari balik pintu.


"Iya mas, apa mas Daffa sedang sibuk?" tanya Dista. "Apa aku tunggu di luar saja?"


"Aku nggak sibuk. Sini sayang!" Dista berjalan mendekati suaminya.


"Ini siapa mas, sepertinya aku belum pernah lihat!" tanya Dista.


"Oh ya, kenalkan ini Fany teman SMA ku. Dia akan bekerja di sini. Dan Fan, ini Dista istri ku tercinta." ucap Daffa sambil menarik pinggang Dista dan memeluknya erat.


"Fany." Fany mengulurkan tangannya.


"Dista." jawab Dista sambil menyambut uluran tangan Fany.


"Senang berkenalan dengan mu." ucap Fany ramah. "Jadi ini istri Daffa, sepertinya bukan dari kalangan berada." batin Fany.


"Kenapa ya mbak Fany lihatin aku begitu banget." batin Dista.


"Besok kamu bisa mulai bekerja, datang jam 8 pagi. Jangan lupa bawa CV kamu " ujar Daffa, yang seakan mengusir wanita itu.


"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih atas bantuan kamu Fa." Jawab Fany.


Usai makan siang bersama suaminya, Dista kembali ke apartemen. Dista merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Baru beberapa saat Dista memejamkan matanya, terdengar hapenya berbunyi.


"Hallo... " ucap Dista setelah menggeser tombol hijau di ponselnya.


"Lemes banget nona manis!" terdengar suara di seberang.

__ADS_1


"Kamu sih, ganggu orang mau istirahat!" omel Dista.


"Sorry.. sorry! Aku kangen aja sama kamu." ucap pria diujung telepon yang tidak lain adalah Ramon.


"Heh, pamali kangen sama bini orang. Dosa tahu.." ujar Dista terkekeh.


"Hahaha... gimana kabar kamu?" tanya Ramon.


"Aku baik. Udah deh nggak usah basa-basi, ada perlu apa kamu nelpon aku?"


"Galak amat sih!" gerutu Ramon.


"Udah cepetan, aku mau istirahat nih."


"Anak-anak alumni SMP kita mau ngadain reuni. Kamu mau ikut nggak?" tanya Ramon.


"Kapan acaranya?" tanya Dista penasaran.


"Dua Minggu lagi. Kalau kamu mau ikut, kita bisa berangkat bareng." usul Ramon.


"Emang acaranya dimana?"


"Kata Doni sih di aula hotel Nusa."


"Emm... aku tanya mas Daffa dulu. Besok aku kabari. Oke?"


"Siap nona manis!"


"Ya sudah, aku mau lanjut bobok! Assalamualaikum!"


*******


"Gimana pekerjaan hari ini mas?" tanya Dista sambil menyodorkan piring yang telah ia isi dengan nasi dan lauk.


"Alhamdulillah semua lancar!" jawab Daffa.


"Mas Daffa, perempuan yang tadi siang di kantor mas Daffa beneran teman SMA mas Daffa?"


"Iya, emang kenapa sayang?" tanya Daffa sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Cuma teman?" tanya Dista memastikan.


"Emang kenapa?" Daffa menatap sang istri dengan intens.


"Mungkin dia punya perasaan sama mas Daffa."


Uhukk... uhukk... Daffa tersedak mendengar ocehan istrinya.


"Ya ampun mas, hati-hati makannya. Nih minum!" Dista menyodorkan segelas air kepada Daffa.


"Apa aku harus jujur sama Dista kalau Fany itu mantan pacarku. Aku takut dia marah, karena aku menerima Fany bekerja di perusahaan. Tapi kalau nggak jujur, bisa saja nanti dia tahu dari orang lain." batin Daffa.


"Mas..." panggil Dista saat melihat suaminya bengong.


"Mas Daffa!" Dista menambah volume suaranya karena tidak mendapat respon dari Daffa.

__ADS_1


"Eh, iya apa?" Daffa gelagapan.


"Mas Daffa kenapa melamun?"


"Enggak kok!"


"Jangan kebanyakan ngelamun, tahu nggak gara-gara pak Ogah ngelamun, tetangganya hamil!" celetuk Dista.


"Emang bisa? Apa hubungannya?" tanya Daffa penasaran.


"Nggak ada! Tetangganya kan punya suami, jadi wajar dong kalau hamil." Ucap Dista terkekeh.


"Sayang.. kamu ngerjain aku ya!" protes Daffa.


"Hahaha... ya udah lanjutin makannya."


Saat ini Daffa dan Dista telah berbaring di tempat tidur. Dista menyenderkan kepalanya pada dada bidang sang suami.


"Oh ya mas, teman-teman SMP ku mau mengadakan reuni. Apa aku boleh ikut?" tanya Dista.


"Reuni? Teman SMP? Ada Ramon juga?"


"Iyalah, dia kan juga satu sekolah dengan ku!" jawab Dista polos.


"Nggak boleh!" jawab Daffa ketus.


"Kenapa sih mas, kok nggak boleh?" tanya Dista agak menjauhkan tubuhnya untuk menatap wajah tampan suaminya.


"Nanti kamu ganjen, tebar pesona sama cowok-cowok di sana."


"Ih, mereka rata-rata pasti masih kuliah mas. Mana ada yang mau godain emak-emak bersuami kayak aku!" Dista terkikik.


"Pokoknya nggak boleh! Sini peluk lagi." pinta Daffa.


"Iya .iya.. aku nggak ikut."


Daffa kembali mengusap lembut puncak kepala Dista dengan penuh kasih sayang.


"Oh, ya sayang! Ada yang mau aku omongin. Hemm.. soal Fany!"


"Kenapa dengan dia mas?"


"Sebenarnya... dia itu... dia itu..!" Daffa tampak ragu untuk mengatakannya.


"Dia kenapa?"


"Dia mantan pacarku!"


"Apa?!" pekik Dista. "Jadi benar kan dugaan aku, kalau dia itu punya perasaan sama kamu. Jangan-jangan kalian masih saling mencintai." ujar Dista yang mulai terisak.


"Jangan nangis dong. Aku nggak ada perasaan apa-apa lagi sama dia. Hati aku sudah penuh terisi oleh nama mu. Tidak ada tempat untuk orang lain." Daffa mencoba menenangkan istrinya.


"Lalu kenapa kamu terima dia kerja di perusahaan mas?"


"Biar kamu bisa ketemu tiap hari sama dia?" tambah Dista sambil cemberut.

__ADS_1


"Bukan begitu sayang! Aku cuma kasihan. Lagi pula dia berbeda lantai dengan ku, jadi akan jarang ketemu."


Bersambung. .


__ADS_2