
Tampak dua anak manusia berbalut selimut tebal, tengah menormalkan nafas yang terengah-engah. Waktu menunjukkan pukul dua belas malam. Sepasang suami istri baru saja menyelesaikan pertempuran panas di atas ranjang. Yang berlangsung selama tiga jam, hanya dengan beberapa kali jeda.
"Sayang..." panggil Daffa sambil mengecup pipi sang istri yang tengah bergulung dalam pelukannya.
"Hemm..." jawab Dista lemah.
"Capek??" tanya Daffa.
"He'em.. mas Daffa nggak ada puasnya! Aku kewalahan menghadapi serangan kamu." protes Dista dengan manja.
Daffa terkekeh mendengar jawaban sang istri.
"Tapi kamu suka kan? Buktinya kamu terus mendesah nikmat!" goda Daffa.
"Sok tahu!" ketus Dista dengan pipi merona menahan malu.
"Tuh kan pipinya merah!" goda Daffa sambil menguyel pipi istrinya.
"Sayang, mulai besok kamu nggak perlu bawain aku makan siang ke kantor!" ucap Daffa.
"Kenapa mas?" tanya Dista penasaran sambil mengangkat kepalanya dari dada bidang sang suami.
"Kamu pasti capek harus bolak balik ke kantor antar makan sian ku. Aku mau kamu banyak istirahat, supaya harapan mama segera terwujud." tutur Daffa.
"Harapan mama?" Dista membeo.
"Iya, yang pengen cepet-cepet punya cucu!" jawab Daffa.
Dista semakin tersipu, wajahnya pun kian merona.
"Apa mas Daffa juga pengen aku cepat hamil?" tanya Dista menatap netra suaminya.
Daffa mengangguk cepat dan mengecup sekilas bibir sang istri. Tersungging senyum manis di bibir Dista.
"Sebenarnya aku nggak capek kok mas tiap hari harus datang ke kantor bawain makan siang kamu. Tapi kalau menurut mas Daffa itu yang terbaik, aku nurut saja!" timpal Dista.
Daffa tersenyum dan membelai rambut Dista.
"Apa mas Daffa mau aku siapkan bekal di pagi hari, biar bisa mas Daffa bawa ke kantor?" tawar Dista.
"Nggak usah sayang! Aku bisa makan di luar, atau pesan makanan online. Kamu nggak perlu khawatir. Yang terpenting sekarang, kamu jaga kesehatan jangan terlalu capek." ujar Daffa.
"Siap mas!" jawab Dista yang kian meleleh mendapat perhatian dari Daffa.
"Mulai besok, biar aku suruh orang buat bersihin apartemen. Kamu cukup urus keperluan aku. Oke?" tambah Daffa.
__ADS_1
"Terserah kamu mas." jawab Dista kemudian kembali mengecup bibir Daffa dengan luma tan kecil. Tentu Daffa tak menyia-nyiakan sinyal dari sang istri. Daffa membalas ciuman itu dengan lembut.
"Kamu mau lagi?" bisik Daffa di samping telinga Dista saat ia menjeda ciumannya.
Dista tak menjawab, hanya menunduk malu. Dengan cepat Daffa mulai beraksi. Meskipun tubuh Dista serasa remuk, tapi nyatanya ia juga masih menginginkannya.
Dan terjadilah yang seharusnya terjadi. Satu ronde ekstra pun mereka nikmati.
Darah muda yang mereka miliki tentunya masih sangat membara. Menggiring keduanya menuju puncak nirwana.
Sinar mentari pagi menyapa bumi. Cahaya hangatnya masuk melalui celah-celah gorden yang tidak tertutup sempurna.
Dua insan masih terlelap dalam tidurnya. Hingga cahaya itu menyilaukan mata. Dista membuka matanya, mendapati kamarnya sudah terang benderang oleh cahaya matahari.
Diraihnya ponsel di atas meja.
"Jam tujuh?" pekiknya.
"Mas Daffa bangun, sudah siang!!" Dista menggoyangkan tubuh sang suami.
"Hemm..." Daffa menggeliat dan membuka matanya.
"Ayo bangun, kita kesiangan! Sudah jam tujuh!" Dista hendak beranjak tapi Daffa mencekal lengannya.
Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Dista menyiapkan baju kerja Daffa di atas ranjang. Kemudian bergegas menuju dapur.
Dua puluh menit kemudian Daffa menyusul Dista ke dapur. Ia Sudah siap dengan setelan jas dan dasi yang menggantung belum disimpul.
"Mas, aku cuma buatin kamu sandwich pakai sosis dan telur." ucap Dista sambil meletakkan kopi yang baru diseduhnya.
"It's oke. Apapun masakan istri ku tercinta, pasti yang terlezat." puji Daffa.
Dista meraih dasi yang masih menggantung dileher sang suami. Disimpulnya dengan rapi. Ditepuk pelan bahu Daffa, tanda semua sudah rapi. Mereka menikmati sarapan seadanya.
Genap seminggu Dista tak lagi datang ke perusahaan Wiguna grup. Ia hanya menghabiskan waktu dengan menonton TV atau membaca buku. Untuk membersihkan apartemen pun ia tak diperbolehkan.
"Mas, aku bosan di apartemen terus. Aku izin jalan-jalan sebentar ya, di dekat sini aja!" pinta Dista lewat sambungan telepon.
"Tunggu aku pulang saja. Nanti aku usahakan pulang cepat!" jawab Daffa.
"Aku cuma pengen beli gado-gado di dekat taman." rengek Dista.
"Sekalian beli persediaan obat yang udah pada habis." tambahnya lagi.
"Ya..ya.. nyonya Daffa emang nggak bisa dibantah?!" Daffa pun harus mengalah pada sang istri.
__ADS_1
"Kamu hati-hati sayang, jangan terlalu capek?" tambah Daffa.
"Iya mas!" jawab Dista kemudian menutup teleponnya.
Usai menikmati satu porsi gado-gado, Dista menuju ke sebuah apotek yang berada di seberang jalan. Saat memasuki pintu apotek, ada seseorang yang menyapanya. Dan suara itu tak asing baginya.
"Bu Dista ya?" sapa seorang perempuan. Dista menoleh ke sumber suara.
"Iya!" jawab Dista sambil memperhatikan perempuan tersebut yang tidak lain adalah Fany.
"Mau membeli obat Bu?" basa basi Fany.
"Iya, kamu sendiri sedang apa disini? Bukannya ini masih jam kerja?" tanya Dista.
"Oh, saya baru selesai meeting bersama pak Beny di dekat sini. Karena ada yang harus saya beli, jadi mampir kesini." jawab Fany.
"Nggak sama mas Daffa?" timpal Dista.
"Beliau ada rapat mendadak di kantor. Jadi mewakilkan kepada kami." ujar Fany.
"Ini mbak obatnya." ucap seorang apoteker sambil menyodorkan beberapa obat kepada Fany.
"Oh ya Mbk, tolong tambah pil kontrasepsi. Hampir lupa!" perintah Fany kepada gadis tersebut.
Dista mengernyitkan keningnya. "Bukannya Fany seorang janda, kenapa membeli pil kontrasepsi? Huh, ya sudahlah bukan urusan aku juga!" batin Dista.
Setelah membayar, Fany segera pamit kepada Dista.
"Bu Dista, saya duluan ya! Saya buru-buru, ini sudah hampir lewat jam makan siang! padahal saya belum menyiapkan makan siang buat apak Daffa." pamit Fany.
"Biasanya mas Daffa suruh kamu pesankan makanan untuknya?" tanya Dista asal. Sudah pastilah, siapa lagi yang memesankan makanan kalau bukan sekretarisnya.
"Tidak Bu. Saya selalu memasak sendiri dan kata pak Daffa masakan saya lebih lezat daripada beli di restoran. Seminggu yang lalu kebetulan saya bawa bekal, dan pak Daffa sempat mencicipi. Kata beliau suka dengan masakan saya, makanya beliau minta saya supaya membawakan makan siang untuknya setiap hari." terang Fany yang sudah pasti adalah kebohongan belaka.
"Oh...." hanya itu yang keluar dari mulut Dista.
"Saya permisi Bu!" Fany pun berlalu meninggalkan Dista yang masih termenung.
"Kenapa pas sekali, bukankah seminggu yang lalu mas Daffa melarang ku datang ke kantor untuk membawa makan siang! Apakah ini alasan yang sebenarnya, bukan karena takut aku kecapekan? Tapi karena masakan mantan pacarnya lebih enak daripada masakan ku?" pikiran Dista kusut. Ia termenung cukup lama sampai suara sang apoteker membuyarkan lamunannya.
"Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya Apoteker tersebut.
"Ah, iya mbak!" jawab Dista tergagap.
Bersambung....
__ADS_1