Perjanjian Cinta Ladista

Perjanjian Cinta Ladista
Gembel di pasar


__ADS_3

"Mas..." sapa Dista saat memasuki pintu apartemennya.


Bruk..


"Apa ini mas?" tanya Dista dengan mata berkaca-kaca.


"Aku sudah kemas barang-barang mu. Kamu tinggalkan tempat ini sekarang!!" ucap Daffa dengan suara rendah tapi penuh penekanan. Tampak sekali bahwa ia sedang menekan amarahnya.


"Tapi mas, aku..aku bisa jelaskan semuanya. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan." ucap Dista mulai terisak.


"Kurang jelas apa lagi Dis!" Daffa menatap tajam istrinya. Masih berusaha meredam kemarahannya.


"Aku muak melihat penghianat seperti mu. Berpura-pura sok baik, tapi menusuk ku dari belakang."


Daffa mendudukkan diri di sofa, kemudian memejamkan matanya.


"Pergilah!" ucap Daffa lagi.


Dista meraih koper, mengusap air matanya. Hatinya terasa sakit bagai diremas. Ia tak sanggup lagi mengatakan apa-apa. Bibirnya kelu. Hanya air mata yang terus mengalir membasahi pipi mulusnya.


Saat sampai di pintu, Dista berhenti. Menoleh Daffa yang masih memejamkan matanya.


"Aku pergi mas, maaf jika membuat mu terluka. Sekali lagi aku tegaskan, aku tidak bersalah. Aku dijebak. Suatu hari nanti, Allah pasti akan membuka semuanya." pamit Dista dengan suara bergetar.


"Aku pun terluka, sama seperti mu mas. Semoga Allah memberikan kita kesabaran." batin Dista saat memasuki lift.


Dista berdiri di pinggir jalan. Ia bermaksud memanggil taksi, saat sedan mewah menghampirinya. Seseorang turun dari pintu belakang.


"Dista!" panggil wanita paruh baya yang tidak lain adalah Ratih. Ratih memeluk erat menantunya itu. Buliran air mata menetes di pipinya.


"Mama.. Kenapa mama ada di sini?" tanya Dista gugup.


"Mama sudah tahu masalah yang sedang kamu hadapi. Tadi Beny telepon mama." ucap Ratih menjeda ucapannya.


"Entahlah Dis, tapi hati mama mengatakan bahwa kamu tidak bersalah. Kalian pasti dijebak. Ada orang yang iri dengan keharmonisan rumah tangga kalian." ujar Ratih mengutarakan isi hatinya.


Tangisan Dista semakin pilu. Sesak di dalam dadanya tak bisa ia tahan lagi. Dista menumpahkan segala kesedihan yang menerpa hatinya.


"Ayo ikut mama, kita bicara di dalam mobil." ajak Ratih.


"Mas Daffa sangat marah ma, bahkan dia nggak mau lihat muka Dista." ucap Dista lirih di sela isakan tangisnya saat mobil mulai melaju perlahan.


"Kamu tenangkan diri dulu." bujuk Ratih sambil mengelus punggung menantunya itu.


"Mama nggak marah sama Dista?" tanya Dista memandang manik mata perempuan paruh baya yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri.

__ADS_1


Ratih menggeleng "Mungkin ini ujian untuk rumah tangga kalian. Dan mama yakin, kamu bukan perempuan seperti itu. Kasih Daffa waktu untuk menenangkan diri!!"


"Dista berani bersumpah ma, Dista nggak pernah selingkuh. Dista hanya berteman dengan Ramon, tidak lebih." Dista menggenggam erat tangan Ratih berharap mertuanya bisa merasakan kejujurannya.


"Iya sayang." Ratih menghela nafas.


"Apa kamu bisa ceritakan, kenapa kamu bisa berakhir seperti ini?"


"Semalam ada yang telepon Dista dan mengatakan kalau mas Daffa kecelakaan. Dista panik ma! Saat orang itu bilang ada orang suruhan mas Daffa yang akan jemput, tanpa pikir panjang Dista ikut saja." Dista menarik nafas dalam-dalam.


"Saat diperjalanan, orang itu memberikan Dista minum. Setelah minum minuman itu, kepala Dista pusing dan tidak sadarkan diri. Pas bangun, sudah ada mas Daffa. Dan yang lebih mengejutkan, ada Ramon ditempat tidur yang sama dengan Dista." lanjut Dista.


Ratih mendengarkan dengan seksama. Dan ia yakin tidak ada kebohongan dalam setiap ucapan Dista.


"Kamu ikut mama ke rumah ya!" ajak Mama Ratih.


"Maaf ma, tapi Dista merasa tidak enak kalau tinggal di rumah mama. Bisa antar Dista ke kostan lama Dista?" tolak Dista.


"Apa kamu yakin mau pergi ke sana?"


"Iya ma, teman Dista masih tinggal di sana. Dista bisa numpang sementara." jawab Dista meyakinkan Ratih.


"Baiklah."


Sampai di depan pintu kamar kost milik Ana, Dista mengeluarkan hape dari saku jaketnya. Ditekan nomor sahabatnya itu.


"Aku ada di kost mu, dimana kuncinya?" tanya Dista tanpa basa-basi.


"Eh, ngapain kamu ada di kostan ku?" Ana kaget mendengar temannya berada di sana. Karena semenjak Dista menikah, mereka hanya bertemu beberapa kali dan itupun di luar.


"Aku mau numpang istirahat sebentar, lagi suntuk!" jawab Dista.


"Kamu lagi berantem sama suami mu?" tebak Ana.


"Bawel banget, dimana kuncinya? Aku cari di bawah taplak meja nggak ada!" ujar Dista.


Ana terkekeh. "Di bawah keset!" jawab Ana.


"Oke makasih!" Dista langsung mematikan sambungan teleponnya. Di seberang gadis itu menggerutu kesal dengan sikap temannya itu.


Dista segera menuju kamar mandi. Tadi pagi belum sempat mandi, hanya mencuci muka saja. Selesai dari kamar mandi ia merebahkan tubuhnya di kasur.


Pikirannya melayang, mengingat semua kenangan manis yang ia lalui bersama Daffa. Ia mendesah lelah.


"Aku harap semua akan baik-baik saja mas. Semoga kamu percaya sama aku. Aku sangat mencintai mu mas!" ucap Dista dengan mata berkaca-kaca memandangi foto mereka saat berbulan madu.

__ADS_1


Sementara di apartemen Daffa.


Laki-laki tampan itu tampak kusut seperti baju belum diseterika. Matanya sembab, menandakan ada tangisan sebelumnya. Ia duduk di lantai, menyandarkan tubuhnya pada ranjang.


Daffa sangat kacau. Hatinya sama sekali tak ingin mempercayai apa yang ia lihat pagi ini. Tapi akal sehatnya mempercayai bukti yang terpampang di hadapannya.


Bahkan sebelum ini terjadi, Fany sering mengirim foto Dista bersama Ramon. Mereka tampak akrab. Dan tatapan Ramon penuh binar cinta.


Daffa merasa sangat frustasi.


Tok..tok..


Suara ketukan pintu tak ia hiraukan. Hingga wanita paruh baya muncul di hadapannya.


"Sayang .." panggil wanita yang tidak lain adalah Ratih.


Daffa menoleh. Ingin sekali menyembunyikan kesedihannya ini dari sang ibu. Tapi sungguh ia tak sanggup. Air mata mengalir dari kedua sudut matanya. Daffa berhambur memeluk Ratih.


"Ma...!" hanya itu yang mampu keluar dari mulutnya.


"Mam sudah tahu masalah yang menimpa rumah tangga kamu. Mama ikut prihatin." Ratih mengusap punggung anak sulungnya.


"Aku kecewa ma, kenapa Dista tega lakuin ini ke aku ma?!"


"Kamu tenangkan diri dulu sayang. Mungkin ini hanya salah paham." Daffa mendelik mendengar ucapan mamanya.


"Maksud mama mata ku ini bermasalah?" ucap Daffa dengan nada tinggi.


"Aku melihat mereka dengan kedua mata ku sendiri ma! Bagaimana ini cuma salah paham."


"Aku pergi ke luar kota belum sampai sehari, tapi dia berakhir di hotel bersama laki-laki lain."tambah Daffa dengan emosi.


Ratih kembali memeluk putranya. Mencoba memberi ketenangan.


"Kamu yang sabar ya?" ucap Ratih. "Apa kamu sudah makan?"


Daffa hanya menggeleng. Tak ada semangat untuk sekedar membersihkan diri, apalagi untuk makan.


Ratih menghela nafas. "Bahkan kamu belum mandi?" Ratih melirik tajam pada anaknya itu.


Kembali Daffa hanya menggeleng.


Padahal hari sudah semakin siang, tapi Daffa masih bergelut dengan kesediaannya. Tanpa memikirkan hal lain.


"Pantas, kamu seperti gembel di pasar!?" ejek Ratih.

__ADS_1


Daffa tak habis pikir, kenapa mamanya tega menghina dirinya yang jelas-jelas sedang bersedih.


Bersambung....


__ADS_2