Perjanjian Cinta Ladista

Perjanjian Cinta Ladista
Bali 2


__ADS_3

Larut malam mereka baru sampai di villa. Karena setelah menikmati makan malam romantis, Daffa mengajak sang istri untuk menonton pertunjukan tari Kecak yang digelar malam itu.


Dista sangat menikmati setiap momen yang mereka lalui hari ini. Sungguh tak pernah terpikir sebelumnya, kehidupan pernikahan yang ia jalani bersama Daffa akan semanis ini. Jika mengingat perjanjian di awal pernikahan mereka, Dista sungguh sangat pesimis.


Seakan tak ada harapan untuk menyentuh hati sang Presdir. Tapi malam ini, semua berbalik seratus delapan puluh derajat. Daffa sangat memanjakannya. Menghujaninya dengan ribuan kasih sayang. Memperlakukannya bak seorang putri.


Pagi sekali Dista sudah bangun. Meskipun semalam pulang larut, dan masih harus melayani Daffa meskipun hanya satu ronde. Dista memaksakan diri bangun lebih awal. Melaksanakan kewajibannya mengurus sang suami. Dari sarapan, baju yang akan Daffa kenakan dan tak lupa secangkir kopi.


"Mas sudah bangun?" sapa Dista saat kembali ke kamar dan mendapati sang suami bersandar di kepala ranjang.


"Kamu dari mana?" tanya Daffa dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Dari dapur siapin sarapan buat suami tercinta." jawab Dista yang berjalan mendekat ke arah ranjang.


Daffa menarik lengan Dista, hingga Dista hilang keseimbangan dan jatuh di atas dada sang suami.


"Kita sedang berbulan madu, kamu nggak perlu mengerjakan pekerjaan rumah di sini. Ada bi Ratna yang akan melayani semua kebutuhan kita." ujar Daffa sambil memeluk erat pinggang istrinya.


"Kamu cukup menghangatkan ranjang ku. Dan sebagai imbalannya aku menemani kamu jalan-jalan kemana pun kamu mau. Oke?" tambah Daffa.


"Iya mas, aku tahu. Tapi aku kan cuma bikin sarapan buat suami ku, nggak berat kok. Dan itu sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang." ucap Dista kemudian mengecup pipi Daffa.


"Hemm.. pintar merayu sekarang ya!" Daffa mengusap-usapkan jambang yang mulai tumbuh di dagunya pada pipi mulus Dista.


"Mas geli.." elak Dista sambil mendorong tubuh Daffa. "Kenapa jambangnya nggak dicukur sih?" protes Dista.


"Biar kamu semakin bergai rah saat aku cum Bu !" Daffa terkekeh.


"Ih, apaan!! Mas Daffa mau mandi dulu atau aku duluan yang mandi?"


"Kita mandi bareng aja ya!" ajak Daffa.


"Pasti bakal lama kalau mandi bareng!" omel Dista.


Daffa bangkit dan menggendong tubuh Dista menuju kamar mandi. Dista hanya bisa pasrah dengan kelakuan suaminya.


Empat puluh menit berlalu, belum ada tanda-tanda kedua sejoli itu akan keluar dari kamar mandi. Sementara hape Dista dari tadi tak henti berdering.


Tertera nama mama Ratih yang memanggil. Setelah beberapa kali berdering akhirnya tak terdengar lagi.


Daffa keluar lebih dulu dari kamar mandi. Tak lama kemudian disusul oleh Dista.


"Sayang, sepertinya hape kamu ada telepon." ujar Daffa sambil mengeringkan rambut basahnya dengan handuk.

__ADS_1


Dista mengambil ponselnya dan mengecek siapa yang menghubunginya.


"Mama yang telepon mas. Ada apa ya, pagi-pagi gini telepon aku!" gumam Dista.


"Coba kamu telepon balik, siapa tahu ada yang penting!" saran Daffa.


"Iya, aku coba telpon mama!"


Tutt .Tutt. terdengar nada sambung telepon. Tak butuh waktu lama, Ratih mengangkat teleponnya.


"Halo sayang!" terdengar suara merdu di seberang.


"Halo, assalamualaikum ma! Mama telepon Dista ya, maaf tadi masih di kamar mandi jadi nggak dengar. Apa ada sesuatu yang penting ma?" tanya Dista penasaran.


"Waallaikum salam. Ih, kamu.. memangnya kalau nggak ada hal penting mama nggak boleh telepon kamu!" protes mama Ratih.


"Bukan begitu ma! Hehehe.. mama apa kabar?" tanya Dista.


"Mama sehat, kamu sendiri bagaimana? Oh ya rencananya berapa hari kamu di Bali. Kalau bisa jangan buru-buru balik. Nikmati dengan sebaik-baiknya. Jangan lupa bawa kabar baik saat pulang nanti!" cerocos mama Ratih sambil terkekeh.


"Mama..." teriak Dista dengan manja. Pipinya sudah Semerah buah tomat.


"Kami baik-baik saja ma. Kalau soal kabar baik, mama doain saja!" jawab Dista dengan malu-malu.


"Makasih ma, oh ya.. mama mau ngobrol sama mas Daffa?" tanya Dista.


"Boleh sayang!"


"Halo ma, mama dan papa sehat kan?" tanya Daffa setelah Dista menyerahkan hape padanya.


"Iya sayang, kami sehat. Fa jagain Dista dengan baik ya. Jangan buat dia kecapekan, manjain mantu kesayangan mama!" ucap Ratih.


"Daffa selalu jagain Dista dengan baik. Tapi Daffa nggak bisa janji kalau nggak bikin Dista capek!" jawab Daffa.


"Emang kamu suruh Dista ngapain sampai dia kecapekan?" teriak Ratih.


"Mama kayak nggak ngerti saja. Emangnya bikin bayi nggak capek?" gerutu Daffa.


Terdengar tawa Ratih terpingkal-pingkal. Wajah Dista sudah seperti kepiting rebus mendengar ocehan Daffa.


"Mas Daffa!!" Dista melotot sambil mencubit pinggang sang suami.


Daffa hanya tertawa menanggapi kekesalan sang istri.

__ADS_1


Di ruang makan.


"Mau sarapan sekarang mas? Aku sudah bikin sandwich tuna." tawar Dista.


"Iya sayang!"


Dista meletakkan piring berisi dua potong sandwich di hadapan Daffa.


"Mau aku buatkan kopi?" tawar Dista lagi.


Daffa hanya mengangguk, sambil menikmati sandwich tuna buatan sang istri.


Selesai sarapan Dista bersiap-siap untuk jalan-jalan. Rencananya hari ini mereka akan mengunjungi beberapa tempat wisata dan juga berbelanja.


Seharian ini Dista sangat menikmati setiap tempat yang ia kunjungi. Dari Bali sea turtle society, Waterboom, belanja di beachwalk, dan bermain pasir di pantai Pandawa.


Selanjutnya mereka menuju hotel di kawasan pantai Kuta. Mereka akan beristirahat terlebih dahulu, sebelum melanjutkan keseruan lainnya.


Daffa sudah mempersiapkan sunset dinner romantis di pinggir pantai. Tentu saja untuk menggantikan dinner kemarin yang not Perfect. Dan kali ini juga ia rahasiakan dari Dista.


Setelah cukup beristirahat selama dua jam di kamar hotel. Daffa bersiap untuk check out dan menuju tujuan terakhir mereka, yaitu pantai Kuta.


"Mas, ngapain ke pantai pakai dress begini. Aku lebih suka pakai kaos saja!" protes Dista karena Daffa memintanya untuk memakai dress yang tadi mereka beli. Dress polos selutut dengan lengan panjang, berwarna marun. Tampak pas di badan Dista.


Daffa mengenakan kemeja polos berwarna senada dengan dress yang dipakai Dista. Celana kain tampak pas body semakin menambah kesan macho.


"Tapi aku suka kamu pakai dress, lebih cantik!" puji Daffa.


Sementara di tempat lain. Beny sedang pusing dengan laporan yang ia terima. Sungguh mengejutkan, tak pernah terpikir olehnya hal ini akan terjadi.


Sungguh sulit bagi Beny untuk mempercayai fakta bahwa orang kepercayaan mereka berkhianat. Tapi semua bukti mengarah padanya. Dan saksi juga memberatkannya.


Akhirnya asisten Beny memberanikan diri menghubungi Daffa. Panggilan pertama langsung mendapat jawaban.


"Selamat sore pak Daffa, maaf mengganggu waktu anda." Beny memulai laporannya.


"Ada apa Ben, apa ada hal mendesak?" tanya Daffa.


"Iya pak, seseorang menggelapkan uang perusahaan." jawab Beny.


Bersambung....


.

__ADS_1


__ADS_2