Perjanjian Cinta Ladista

Perjanjian Cinta Ladista
Malam membara


__ADS_3

"Ta..tapi mas.. aku..aku..."


"Aku belum siap." ucap Dista sambil berlari ke kamarnya.


Daffa tersenyum, kemudian mengikuti istrinya menuju kamar. Saat membuka pintu kamar, ia dapati Dista sedang mondar-mandir sambil bibirnya komat-kamit.


"Lagi ngapain?" pertanyaan Daffa mengagetkan Dista yang sejak tadi pikirannya entah kemana.


"Aaa... itu, apa! Em,, aku mau ke kamar mandi!" jawab Dista terbata-bata.


Daffa hanya bisa tersenyum menyaksikan tingkah istrinya. Daffa merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Ia memejamkan matanya, sambil menunggu Dista keluar dari kamar mandi.


Dua puluh menit berlalu. Tapi belum ada tanda-tanda Dista akan menampakkan batang hidungnya. Membuat Daffa khawatir. Daffa mengetuk pintu kamar mandi.


Tok..tok..tok..


"Sayang... kenapa lama sekali? Kamu nggak apa-apa kan?" seru Daffa dengan suara agak tinggi.


"Eh, iya mas. Aku nggak apa-apa. Ini sudah selesai!!" terdengar Jawaban dari dalam kamar mandi.


Ceklek, pintu terbuka. Menampakkan Dista yang mengenakan pakaian yang sama saat ia masuk tadi.


"Kamu ngapain lama banget? aku kebelet tau!!" tukas Daffa. "Aku sekalian mau bersih-bersih, kamu siap-siaplah!"


Dista tak bergeming. "Bersiap-siap?" batin nya. Dista benar-benar bingung harus berbuat apa.


Tak berapa lama pintu kamar mandi terbuka, tampak Daffa dengan jubah mandinya. Sedangkan Dista masih kikuk di tepi ranjang.


"Kenapa sayang?" tanya Daffa sembari mendekat.


"Eng.. nggak apa-apa mas!" jawab Dista "Aku hanya gugup." tambahnya lagi.


"Kenapa harus gugup?" Daffa Menaikkan sebelah alisnya.


"Kamu belum ganti baju? Emangnya mau tidur pakai gaun seperti itu?" tambah Daffa.


"Eh, iya. Aku ganti baju dulu." Dista mengambil piyama satin dari dalam lemari. Kemudian menuju kamar mandi untuk berganti pakaian. Lima menit kemudian ia kembali naik ke atas ranjang.

__ADS_1


"Kenapa aku jadi serba salah gini sih!" batin Dista merutuki kebodohannya.


"Ayo tidur!" ujar Daffa.


"Iya mas!" jawab Dista cepat. "Ah, untunglah mas Daffa melupakan keinginannya tadi." batin Dista.


Dista berbaring membelakangi Daffa. Daffa sengaja mendekatkan tubuhnya hingga menyentuh punggung Dista. Kemudian ia memeluk istrinya dari belakang.


Deg.. jantung Dista seakan melompat dari dalam rongga dadanya. Tapi tak ada pergerakan, tangan Daffa hanya menindih perut datar Dista. Sehingga membuat Dista merasa lega. Karena memang mereka selalu tidur sambil berpelukan.


Satu menit... dua menit..dan tiga menit...


Tangan nakal Daffa mulai meraba-raba perut Dista. Dista yang sudah memejamkan matanya, kembali terjaga. Merasakan pergerakan tangan sang suami yang mengelus perut datarnya dan mulai naik hingga menyentuh dua bola di dadanya.


"Mas Daffa!" pekik Dista kemudian membalikkan badannya hingga mereka saling berhadapan.


"Hemm..." jawab Daffa masih menutup matanya.


"Geli.. aku nggak bisa tidur!" kesal Dista.


Daffa membuka matanya dan tersenyum. Ditatapnya bola mata hitam pekat milik Dista. Sedikit demi sedikit Daffa menepis jarak, hingga hidung mereka saling bersentuhan.


Dista hanya diam, ingin menolak tapi raganya tak mampu. Bukankah mereka sudah sering melakukan nya. Tapi Kalau ia membiarkan Daffa memulainya, Dista masih takut untuk selanjutnya.


Akhirnya Dista hanya bisa menikmati tiap sesapan sang suami. Membiarkan Daffa mengabsen tiap inchi rongga mulutnya.


Daffa melepas pautannya, saat menyadari Dista kewalahan mengimbangi ciuman nya yang semakin liar. Tampak Dista terengah-engah, mencoba menormalkan nafasnya. Menghirup oksigen banyak-banyak, seakan takut tak kebagian.


Daffa kembali mengecup sekilas bibir merah Dista. Kemudian turun ke leher, menggigit kecil di sana sini. Menyesap kulit mulus sang istri hingga meninggalkan jejak merah kebiruan. Sebagai stempel kepemilikannya.


Dista melenguh, mengeluarkan de sahannya. Tubuhnya bagai tersengat listrik tegangan tinggi. Menikmati setiap sentuhan dari bibir sang suami yang mampu menghilangkan akal sehatnya.


"Agghhh...."


Kembali suara aneh dan menggelikan lolos dari mulutnya. Saat Daffa mulai membuka piyama dan bra yang menutup dua benda keramat milik Dista. Menyesap puncak bola kenikmatan sang istri, yang berukuran tak terlalu besar. Sangat pas digenggaman tangan Daffa.


Melihat sang istri yang tak menolak sama sekali membuat Daffa semakin percaya diri untuk memulai penyatuan mereka. Kembali Daffa melucuti pakaian sang istri, kemudian menanggalkan jubah mandinya.

__ADS_1


"Apa kamu sudah siap sayang?" tanya Daffa lembut, seakan berbisik di samping telinga Dista.


Dista yang masih mengalungkan kedua tangan nya di leher kokoh Daffa, hanya mampu mengangguk sambil memejamkan mata.


Sungguh Dista ingin menolak, rasanya ia belum siap memberikan mahkota nya saat ini. Bahkan belum genap sebulan mereka memulai hubungan ini dari awal.


Tapi setiap sentuhan yang Daffa berikan mampu memporak porandakan pertahanannya. Setiap kelembutan yang Daffa lakukan seakan menghipnotisnya untuk segera menyerahkan diri.


Akhirnya Mereka benar-benar menyatukan diri. Melewati malam panjang dengan de...sahan dan erang an. Menggapai puncak nirwana yang sama-sama belum pernah mereka dapatkan.


Meskipun di awal Dista mengeluhkan sakit dan tidak nyaman. Tetapi akhirnya mereka bisa menikmati permainan demi permainan. Ya, bukan hanya sekali. Entah berapa ronde mereka nikmati. Hingga pukul tiga dini hari, pergulatan di atas kasur barulah usai.


Daffa hanya menjeda kegiatannya selama beberapa menit setelah pelepasannya. Dan kemudian memulai lagi. Sungguh malam yang membara.


Tampak Dista terkulai lemas. Entah hanya tertidur, atau memang tak sadarkan diri saking lelahnya. Daffa tak henti mengecup ujung kepala sang istri. Mengungkapkan rasa cinta dan terima kasihnya.


Keesokan paginya.


Meski matahari telah menampakkan cahayanya dengan sempurna. Tapi pasangan sejoli yang dimabuk asmara masih enggan membuka matanya. Seakan tak ada tenaga yang tersisa dalam tubuh mereka. Hingga ingin tidur seharian ini.


Drrtt...drrtt...


Terdengar getaran handphone di atas nakas. Daffa sengaja mengaktifkan mode getar pada hpnya, agar tak mengganggu istirahatnya.


Berkali-kali hape itu bergetar, hingga mengusik tidur sang empunya. Daffa meraba-raba meja di samping tempat tidurnya. Mencoba mencari keberadaan benda pipih yang sedari tadi terus saja bergetar.


Saat mendapatkannya, Daffa membuka mata. Memeriksa siapa yang mengganggu tidurnya. Terpampang nama asisten Beny. Segera ia menggeser ikon hijau pada layar smartphone nya.


"Hallo..!" jawabnya dengan malas.


"Selamat pagi pak Daffa. Saya sudah menunggu anda di lobby apartemen sejak satu jam yang lalu. Apakah Anda akan turun sekarang?" tanya Beny.


"Apakah hari ini ada jadwal penting? Kalau tidak ada, aku tidak akan datang ke kantor!"


"Anda ada jadwal meeting dengan pak Rendra nanti saat jam makan siang. Pagi ini tidak ada jadwal yang mendesak!!" Beny menjelaskan jadwal bosnya untuk hari ini.


"Baiklah, kamu jemput sebelum jam makan siang. Saat ini aku masih ingin beristirahat!" ujarnya. Kemudian memutuskan sambungan telepon sepihak.

__ADS_1


"Tumben, biasanya pak Daffa gila kerja." gumam Beny sambil mengedikkan bahunya. Kemudian ia meninggalkan tempat itu dan segera menuju ke kantor.


Bersambung...


__ADS_2