
Sore hari, Ana pulang dari tempatnya bekerja. Ia mendapati Dista bergulung di dalam selimut.
"Dis..." panggil Ana. Dista mengangkat wajahnya.
"Kamu sudah pulang?" ucap Dista.
"Iya, nih aku bawakan nasi goreng. Kamu pasti belum makan?" tebak Ana.
Dista menarik ujung bibirnya menjadi sebuah senyum tipis.
"Aku mau mandi dulu, kamu ambil piring sendiri!" ucap Ana kemudian menuju kamar mandi setelah meletakkan tas dan bungkusan yang ia bawa.
Lima belas menit kemudian Ana keluar dari kamar mandi. Ia sudah memakai pakaian rumahan yang biasa ia kenakan. Kaos oblong dan celana pendek.
"Kok nggak dimakan?" tanya Ana saat mendapati Dista masih nyaman di dalam selimut.
"Aku belum lapar. Kamu makan duluan, aku nanti saja." jawab Dista.
Ana menghela nafas berat.
"Kamu belum cerita, kenapa sampai bisa terdampar di sini? Bawa-bawa koper lagi?!" kening Ana mengkerut saat melihat sebuah koper di sudut kamar.
"Kamu pasti capek! Cepetan makan dan istirahat. Curhatnya besok saja. Kamu libur kan?" tanya Dista.
"Iya deh." jawab Ana dengan enggan. Dapat ia pastikan kalau Dista nangis seharian. Mata yang sembab, mukanya muram seperti lampu kehabisan baterai.
"Entah apa yang terjadi dengan mu Dis. Semoga kamu selalu kuat dan sabar." batin Ana.
Dista tak menyentuh makanan yang dibelikan oleh Ana. Walau seharian ia belum mengisi perutnya sama sekali, tapi rasa laparnya tertutup oleh rasa sakit di hatinya.
Ana tidur di samping Dista. Mereka berbagi kasur untuk mengistirahatkan raga yang teramat lelah. Ana adalah sahabat yang sangat pengertian. Ia tak memaksa Dista untuk bercerita jika memang sahabatnya itu belum mau.
Sampai tengah malam, Dista masih belum bisa tidur. Bayang-bayang kejadian tadi pagi terus saja berputar di otaknya. Tak pernah terpikir sebelumnya, akan datang hari ini.
Dista meraih ponsel yang ia letakkan di bawah bantal. Dilihatnya ponsel itu mati, mungkin kehabisan daya. Ia mencharge baterai handphone nya. Kemudian menyalakan benda pipih tersebut.
Dista sangat berharap ada pesan dari Daffa. Setidaknya menanyakan keberadaannya. Tapi nihil. Ada sekitar dua puluh pesan masuk. Dan Tujuh belas panggilan.
Ia lihat satu persatu pesan yang masuk. Ternyata beberapa dari Ratih dan selebihnya dari Ramon.
"Apa mas Daffa nggak peduli lagi dengan ku?" gumam Dista.
Dista membaca pesan dari Ratih, yang menanyakan keberadaan dan keadaannya saat ini. Terlihat mertuanya itu sangat khawatir. Distapun membalas pesan Ratih bahwa ia baik-baik saja dan masih berada di tempat Ana.
__ADS_1
Tak ada jawaban. Pastinya mertuanya itu sudah tidur di jam segini.
Kemudian Dista membuka pesan dari Ramon.
@Dis apa kamu baik-baik saja?
@**Kenapa handphone mu nggak bisa aku hubungi?
@Dis, apa Daffa berbuat kasar pada mu?
@Dis, tolong jawab pesan ku!!
@Kamu tenang saja, aku akan menyelidiki semuanya. Aku pastikan orang dibalik kejadian ini akan mendapatkan balasan yang setimpal.
@Dis**...
Dista ragu untuk membalas pesan dari Ramon. Tapi hatinya berkata bahwa Ramon juga korban. Ia sama sekali tidak tahu apa-apa. Ia dan Ramon cukup dekat, dan Dista tahu pasti sifat temannya itu.
Akhirnya Dista memutuskan untuk membalas pesan dari Ramon.
@Aku baik-baik saja. Aku percaya padamu. Dan tolong kamu ungkap dalang di balik peristiwa ini. Makasih.
Tak berselang lama, notifikasi pesan terdengar. Pesan dari Ramon. Belum Dista membuka pesan tersebut hapenya berbunyi menandakan ada panggilan masuk.
"Halo Dis! Beneran kamu baik-baik saja? Kamu tidak terluka? Apa Daffa berbuat kasar pada mu?" Ramon memberondong Dista dengan pertanyaan yang sedari pagi mengusik hatinya.
"Aku baik-baik saja Ram, meskipun tidak bisa aku pungkiri aku sedang bersedih. Kamu tidak perlu khawatir." jawab Dista.
"Sekarang kamu ada dimana?"
"Aku nginap di tempat teman ku." ujar Dista
"Apa Daffa mengusir mu?"
"Mungkin mas Daffa butuh waktu untuk sendiri. Jadi lebih baik aku keluar sementara dari apartemen." kilah Dista.
"Aku lega sudah mendengar keadaan mu. Bagaimana kalau besok pagi kita ketemu?" tawar Ramon.
"Maaf Ram, tapi ada baiknya kalau kita tidak usah ketemu dulu. Aku takut mas Daffa semakin salah paham." jawab Dista.
"Baiklah!!" Ramon mengalah.
Dista masih memegangi ponselnya. Melihat pesan yang tadi siang ia kirimkan pada Daffa. Masih juga belum dibaca.
__ADS_1
Bulir air mata kembali menetes di kedua sudut matanya. Teringat kembali kenangan indah yang mereka rajut bersama. Kebersamaan yang selalu membuat Dista merasa sangat bahagia.
Apakah semua akan segera berakhir?
Dista terlarut dalam kesedihannya. Sekuat apapun ia menahan sesak di hati, akhirnya air mata jatuh lagi dan lagi.
Sementara di tempat lain.
Ruangan yang tampak acak-acakan. Barang-barang berserakan tidak pada tempatnya lagi. Keadaan kamar ini terlihat lebih buruk dari kapal pecah.
Sayangnya kekacauan itu tak akan terlihat jelas. Karena tak ada satupun lampu yang menyala. Seluruh ruangan di apartemen ini gelap gulita. Seolah menggambarkan keadaan hati sang pemilik.
Daffa terduduk di lantai. Ia benamkan kepalanya di atas kasur. Sesenggukan masih terdengar sesekali. Hilang sudah sosok Presdir yang tampan dan berwibawa. Tinggallah pria menyedihkan dengan rambut acak-acakan. Pakaian yang bahkan belum ia ganti dari semalam. Sungguh dahsyat efek patah hati.
Kedatangan Ratih pagi ini, memaksanya menyembunyikan kesedihan yang mendalam yang ia rasakan. Daffa terpaksa menuruti kemauan mamanya. Walau hanya mencuci muka, tanpa mengganti baju. Ia makan sarapan yang disiapkan oleh Ratih walau hanya setengahnya.
Selepas kepergian Ratih, kembali ia menghancurkan perabot di apartemennya. Meluapkan kekecewaan yang menggerogoti hatinya.
Beberapa hari berlalu. Akhirnya Daffa keluar dari apartemennya. Ia memaksakan diri untuk bekerja.
Selama ia mengurung diri di dalam apartemen mewah nya, Ratih selalu datang untuk memaksanya makan. Sebagai seorang ibu, ia hanya bisa memberi nasehat dan menjaga kesehatan putranya.
Dista selalu berusaha meneleponnya. Tapi tak pernah ia hiraukan. Bahkan pesan yang masuk setiap hari ke ponselnya, selalu ia abaikan.
"Selamat pagi pak!" sapa Fany saat melihat Daffa akan memasuki ruangannya.
Daffa hanya mengangguk.
"Maaf pak, selama anda sakit saya tidak datang menjenguk. Karena menurut asisten Beny, anda tidak ingin diganggu." ujar Fany berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi.
"Hemm.." Daffa hanya berdehem menjawab penuturan Fany. Kemudian masuk ke ruangannya.
"Sepertinya Daffa benar-benar marah kali ini." gumam Fany. Tersungging senyum licik di wajahnya.
Sore hari saat waktu pulang kantor. Banyak karyawan yang lalu lalang meninggalkan tempat mereka bekerja.
Di tempat parkir khusus petinggi perusahaan. Dista berdiri di sebelah mobil suaminya. Ia menunggu lebih dari satu jam hingga akhirnya sosok yang sangat ia rindukan muncul di hadapannya.
Daffa yang menyadari kehadiran Dista menghela nafas berat dan membuang pandangan.
"Mas..." sapa Dista. Ia tahu bahwa hari ini Daffa datang ke kantor dari mama Ratih. Ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa bertemu dengan Daffa.
"Mau apa lagi?" ketus Daffa. Sorot mata Daffa tajam seakan menusuk jantung. Tatapan penuh kasih yang biasa ia berikan, entah lenyap kemana.
__ADS_1
Bersambung....