
"Kenapa nggak minta izin aku dulu kalau mau makan sama cowok lain?" cecar Daffa.
"Aku nggak kepikiran!" jawab Dista polos, semakin membuat Daffa kesal.
"Kamu suka sama bocah tengik itu?"
"Nggak lah mas... aku kan sudah punya kamu." jawab Dista sambil mengelus dada sang suami. Membuat bulu kuduk Daffa berdiri dan aliran darahnya berdesir kuat.
"Kami cuma teman, mas Daffa juga tahu itu!" ucap Dista sambil memanyunkan bibirnya.
"Kamu harus dihukum!" Daffa menggendong tubuh sang istri ala bridal style.
"Eh..eh.." Dista yang kaget dengan perlakuan suaminya hanya bisa pasrah. Dengan cepat Dista mengalungkan lengannya ke leher Daffa.
Daffa membawa Dista menuju kamarnya. Ternyata pengaruh godaan tangan Dista lebih besar daripada rasa cemburunya. Sungguh ia tak dapat menahan hasratnya.
Dan terjadilah yang seharusnya terjadi. Tanpa ampun Daffa membuat Dista mendesah di bawah Kungkungan nya. Dista mengikuti setiap irama hentakan sang suami. Menikmati setiap sentuhan yang Daffa berikan.
Satu jam berlalu, tampak Dista yang terkulai lemas di atas ranjang. Daffa menyandarkan diri di sandaran ranjang dengan bermandikan keringat. Sore membara mereka lewati bersama.
Daffa memandang sang istri yang tampak kelelahan. Diusapnya kening Dista dengan penuh cinta. Tapi Dista tak merespon, ia terlalu lelah untuk membuka matanya.
Jam dinding menunjukkan pukul lima sore. Daffa keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Sayang.. bangun!" Daffa membelai pipi Dista.
"Kita jadi kan ke rumah mama?" tanya Daffa sambil mengelus pundak sang istri yang masih polos tanpa sehelai benangpun.
"Emmm..." Dista membuka matanya. "Jam berapa mas?" tanya Dista dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Sudah jam lima sore. Bangun, mandi sana! Kamu bau tahu.." ejek Daffa.
"Mana ada? aku selalu wangi meskipun belum mandi!" protes Dista, padahal dia juga mencium bau badannya yang lengket karena keringat.
Daffa terkekeh mendengar ucapan sang istri, yang bisa dipastikan nyawanya belum terkumpul.
Selesai mandi dan bersiap-siap Dista menyusul Daffa yang tengah duduk di sofa ruang tamu. Dista membawa beberapa paper bag di tangannya. Oleh-oleh dari Bali untuk mama Ratih, papa Wiguna dan juga Daffy.
"Kamu sudah siap?" tanya Daffa.
"Iya mas!" jawab Dista. Tak nampak kemarahan Daffa yang tadi sangat menggebu-gebu. Tergantikan dengan tatapan kasih sayang untuk sang istri.
Kediaman Wiguna.
"Sayang.. kalian sudah datang!" sapa mama Ratih. Kemudian memeluk serta mengecup pipi anak dan menantunya.
__ADS_1
"Bagaimana honeymoon nya? Menyenangkan?" cecar Ratih dengan antusias.
"Sangat menyenangkan ma!" jawab Dista malu-malu.
"Oh ya, kami bawa oleh-oleh buat mama, papa dan juga mas Daffy." Dista menyerahkan beberapa paper bag yang ia bawa.
"Ayo duduk dulu, bibi masih menyiapkan makan malam!" ajak Ratih menuntut menantunya menuju ruang keluarga.
"Papa mama ma?" tanya Daffa yang sejak tadi tidak menemukan keberadaan Wiguna.
"Papa belum pulang, mungkin sebentar lagi!" jawab Ratih.
"Apa papa selalu pulang malam ma?" tanya Dista.
"Tidak selalu, tapi akhir-akhir ini memang papa sangat sibuk. Katanya sih mau buka cabang baru!" Ratih menjelaskan.
Tanpa mereka sadari yang dibicarakan sudah berdiri di hadapan mereka.
"Ehem.." Wiguna berdehem karena tidak ada yang menyambutnya.
"Eh, papa!" Seru Ratih. "Kenapa mama nggak lihat kalau papa datang?"
"Karena mama terlalu asyik sama anak dan menantu kesayangan!" ejek Wiguna.
"Jam segini papa baru pulang?" tanya Daffa sambil melirik jam yang melingkar di tangannya. Waktu menunjukkan pukul setengah delapan malam.
"Iya, papa harus menyelesaikan persiapan pembukaan cabang baru." jawab Wiguna sambil mendudukkan diri di sofa sebelah Daffa.
"Mau aku buatin kopi pa?" tanya Ratih.
"Air putih saja!" jawabnya.
"Kalian mau minum apa? Biar sekalian mama ambilkan." tawar mama Ratih.
"Biar Dista yang ambil di dapur ma, mama duduk saja!" cegah Dista.
"Terima kasih sayang!!" ucap Mama Ratih.
Dista berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman.
"Pa, kenapa papa masih bekerja keras? Bukannya papa menyerahkan perusahaan kepada ku supaya papa bisa pensiun lebih awal?" Daffa memulai pembicaraan.
"Lebih baik papa banyak istirahat, habiskan waktu bersama mama di rumah saja." pinta Daffa.
"Awalnya papa juga berpikir begitu. Tapi di restoran ini papa seperti menemukan sesuatu yang benar-benar membuat papa nyaman. Mama juga masih sering bantu-bantu di restoran." ungkap Wiguna.
__ADS_1
"Kalau begitu papa tidak usah buka cabang. Fokus di satu tempat saja, biar tidak terlalu capek." usul Daffa.
"Kalau untuk di cabang, papa bekerja sama dengan beberapa teman papa. Mereka yang mengurus semuanya, papa tahu beres saja!" elak Wiguna.
"Ya sudah, tapi Daffa minta papa dan mama jaga kesehatan. Nikmati masa tua kalian dengan bahagia. Tidak usah memikirkan uang, biar Daffa dan Daffy yang mencari uang untuk kalian." ujar Daffa.
"Mungkin nanti saat kamu kasih mama dan papa cucu, kami akan berdiam di rumah saja sambil menemani anak kamu!" ucap Ratih terkekeh.
"Iya, doain saja ma! Semoga Allah segera memberikan kami bayi." jawab Daffa.
Ternyata Dista muncul di antara mereka dengan membawa nampan berisi tiga gelas jus jeruk dan segelas air putih. Wajahnya merona saat mendengar suami dan mertuanya membicarakan soal anak.
"Makasih sayang!" ucap Ratih menerima segelas jus jeruk.
Sementara di tempat lain.
"Sayang, kapan kamu kembali ke Jakarta?" ucap Daffy sambil menempelkan hape di telinganya.
"Honey... kamu tahu sendiri disini aku merasa nyaman. Karier ku juga bagus disini. Aku rasa, aku akan menetap disini." jawab suara di seberang.
"Lalu bagaimana dengan aku?" kesal Daffy
"Sampai kapan kamu menggantungku? Aku capek harus jauh dari kamu, tersiksa rindu setiap saat!" oceh Daffy.
Karin terkekeh mendengar Omelan kekasihnya itu.
"Honey, kita masih bisa bertemu setiap bulan. Aku janji akhir bulan ini akan datang menemui mu!" rayu Karin.
"Hehh... tetap saja sayang itu nggak cukup untuk mengobati rindu ku. Lalu kapan kita menikah??" tanya Daffy.
"Kita akan menikah asalkan kita menetap di Singapura!" jawab Karin pasti.
"Dan suamimu akan jadi pengangguran di sana!" kesal Daffy.
"Kamu bisa memulai usaha di sini honey, kamu punya skill dan aku juga punya koneksi di sini." ucap Karin.
"Ah, sudahlah. Kamu istirahat jaga kesehatan. Aku mau pulang, nanti mama ngomel kalau aku pulang terlambat. Daffa dan istrinya akan datang untuk makan malam di rumah." ujar Daffy mengakhiri sambungan teleponnya.
"Iya, l love you Honey!" ucap Karin.
"I love you more!" jawab Daffy.
Daffy bergegas pulang, meninggalkan hotel tempatnya bekerja. Beberapa tahun terakhir ini Grand Wiguna Hotel telah berkembang pesat. Mempunyai banyak cabang di beberapa kota di Indonesia. Tapi belum berekspansi sampai ke luar negeri.
Bersambung....
__ADS_1