
Setelah dua hari tidak masuk kantor. Akhirnya Daffa kembali melakoni aktivitas seperti biasa. Pekerjaan menggunung menunggu untuk ia selesaikan.
Seperti biasa Dista mengantarkan makan siang untuk sang suami. Mereka makan bersama.
"Jangan terlalu capek mas. Baru juga sembuh." Dista merasa tidak tega melihat Daffa harus bekerja keras padahal dia baru saja sembuh.
"Nggak capek kok, asal ada yang nemenin. hehe..." Daffa mengedipkan matanya.
"Jadi maunya ditemenin nih?" goda Dista.
"Kalau kamu nggak keberatan, aku sih mau banget ditemenin."
"Ya nggak berat lah.. kalau suruh gendong mas Daffa baru berat. Heheee...." Kekeh Dista.
"Ya udah, aku disini aja. Tapi, emangnya nggak ganggu kerjaan mas Daffa."Dista melirik suaminya.
"Asal kamu nggak nangis guling-guling, kayaknya aku masih bisa konsentrasi deh." Daffa terkekeh.
"Ih.. mas Daffa nyebelin deh. Emangnya aku bocah, nangis pakai guling-guling!" Dista memanyunkan bibirnya.
"Ya udah, diam disitu anak manis. Jangan berisik." Daffa tersenyum.
"Siap bos kuh.. Semangat!!" ucap Dista sambil mengangkat tangannya.
Daffa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Dista semakin terlihat menggemaskan.
Untung Dista membawa novel di dalam tasnya. Jadi dia menghabiskan waktu sambil membaca untuk menghilangkan rasa bosannya. Tak terasa hari sudah sore. Daffa bersiap-siap untuk pulang.
"Ayo kita pulang." ajak Daffa.
"Mas Daffa udah selesai?" tanya Dista.
"Sudah." mereka pun meninggalkan kantor Daffa.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Melintasi jalanan yang lumayan padat. Terdengar Dista bergumam mengikuti nyanyian lagu yang diputar oleh Daffa. Tidak jelas kata-kata yang keluar dari mulutnya. Bahkan nadanya pun terdengar fals.
Daffa tersenyum melihat tingkah istrinya itu. Semakin hari Daffa merasa kalau istrinya tersebut semakin menggemaskan. Ada saja tingkah konyolnya.
"Kita mampir makan dulu ya." ajak Daffa.
"Tapi inikan masih setengah enam sore mas. Aku juga belum lapar." jawab Dista.
"Kalau gitu kita keliling aja sambil nunggu lapar." ucap Daffa.
"Gimana kalau kita mampir ke mall itu mas." Dista menunjuk sebuah mall di dekat kantor suaminya.
"Oke." jawab Daffa singkat.
"Kita mau ngapain disini?" tanya Daffa saat mereka telah memasuki mall tersebut. "Apa kamu mau belanja? Beli baju atau yang lainnya?" tanya Daffa.
"Nggak mas. Kita main di game center aja." ajak Dista sambil menarik tangan suaminya.
"Dasar bocah!" gerutu Daffa.
Sesampainya di game center, Dista mengajak Daffa memainkan beberapa permainan. Mulai dari bola basket, mengambil boneka dan masih banyak lagi.
Dista sangat menikmati kebersamaan mereka hari ini. Apalagi Daffa yang biasa nya irit bicara dan jarang tersenyum. Sore ini tampak tertawa lepas. Seakan melupakan identitas dirinya.
"Aku seneng banget bisa main sama mas Daffa di tempat ini." ucap Dista sambil menatap wajah tampan suaminya.
__ADS_1
"Oh ya!?" jawab Daffa singkat.
"Ih.. mas Daffa emang nggak seneng ya main sama aku?!" rengek Dista.
Daffa terkekeh "Menurut kamu gimana?!" tanya Daffa.
"Mas Daffa seneng kok, malah dari tadi ketawa melulu." jawab Dista cepat.
"Itu udah tahu." jawab Daffa menghentikan permainannya.
"Emang dasar nyebelin" Dista mencebikkan bibirnya.
"Ayo cari makan, aku udah lapar banget." ajak Daffa. Mereka meninggalkan game center.
"Mau makan apa?" tanya Daffa.
"Aku pengen makan ayam bakar di dekat taman."
"Kenapa nggak makan di mall ini saja? Kan banyak tempat makan yang enak?!" tanya Daffa heran.
"Tadi kan mas Daffa nanya, ya aku jawab." ucapnya sambil manyun.
"Iya, terserah kamu. Dasar bocah, jangan suka ngambek!" Daffa menggandeng tangan Dista.
"Yakin makanan disini enak?" tanya Daffa saat mereka sampai di pedagang kaki lima yang di maksud Dista.
"Enak kok, aku sering makan disini sama Ana." jawab Dista mantap.
"Oke."
"Pak pesan ayam bakar 2 ya. Minumnya es teh aja." ucap Dista kepada bapak paruh baya yang merupakan penjual ayam bakar tersebut.
"Mas Daffa, ada yang mau dipesan lagi?" tanya Dista.
"Emm.. tambah udang goreng deh pak?" jawab Daffa.
"Emang nggak bosen makan Udang tiap hari?" sindir Dista.
"Kamu juga nggak bosen lihatin aku tiap hari!!" skakmat.
"Mas Daffa nyebelin!!" gerutu Dista.
"Emang bener kan?" Daffa membela diri.
Tak berapa lama pesanan mereka pun sudah siap. Mereka menikmati makanan masing-masing dengan lahap. Daffa setuju dengan penilaian Dista, bahwa makanan disini memang enak.
****
Di apartemen.
Daffa dan Dista masuk ke dalam kamar masing-masing. Daffa segera membersihkan diri di kamar mandi. Dua puluh menit kemudian ia keluar dengan rambut basah yang menambah kadar ketampanannya. Setelah mengeringkan rambut dan memakai piyama, Daffa menuju kamar Dista.
tok..tok..tok..
"Kenapa mas?" tampak Dista menyembulkan kepala dari balik pintu.
"Kamu sudah mandi?" tanya Daffa.
"Sudah, emang kenapa?" tanya Dista penasaran.
__ADS_1
"Udah selesai ganti baju kan?" tanya Daffa lagi.
"Iya mas, sudah. Nih aku mau siap-siap tidur, capek juga ngikutin kamu seharian. hehehe.. "
"Kalau gitu ayo ke kamar aku." ajak Daffa.
"mau ngapain?" Dista mengernyitkan keningnya.
"Tidurlah.. emang mau ngapain lagi!" jawab Daffa enteng.
"Ya udah, tidur sana. Kenapa malah ngajakin aku??" tanya Dista heran.
"Emm.. aku kan baru sembuh. Jadi masih harus dijagain. Takutnya nanti malam-malam aku butuh sesuatu." ucap Daffa mencari alasan.
"Huh alasan. Tadi kan seharian kerja sehat-sehat saja. Terus main juga nggak kenapa-kenapa tuh. Kenapa sekarang jadi banyak alasan?"
"Ya sudah sih, tinggal nemenin suaminya tidur apa salahnya. ayo.." Daffa menarik tangan Dista.
Dista hanya menurut saja saat dirinya dibawa ke kamar sang suami.
"Manja banget!" sindir Dista saat mereka sudah sampai di dekat ranjang.
"Manjanya kan cuma sama kamu!" elak Daffa
"Aku aja yang kamu bilang bocah nggak manja tuh." ejek Dista.
"Tidur sini" ucap Daffa sambil menepuk sisi kiri ranjangnya.
"Tapi mas Daffa jangan macam-macam ya!"
"Nggak kok! cuma pengen ditemenin bobok aja."
"Awas kalau macam-macam!" ancam Dista.
"Iya bawel."
Dista berbaring di sebelah Daffa. ia meletakkan guling di tengah keduanya. Sebagai pembatas pikir Dista.
Tak lama Daffa pun terlelap. Dista memandangi wajah teduh suaminya. Tak bisa dipungkiri Daffa memang sangatlah tampan. Tidak ada kurang sedikit pun.
Dista tersenyum bahagia. Tak lama diapun berpindah dari dunia nyata ke dunia mimpi.
Pagi hari, sinar matahari menelusup masuk lewat celah-celah korden. Membelai kedua insan yang masih terlelap di alam mimpinya.
"Uhhgg... "Dista menggeliat. Dia merasa ada yang menghimpit badannya. Terasa berat, bahkan ia kesulitan untuk bernafas.
Saat ia membuka, di dapatinnya wajah sang suami menghadap ke arahnya. Lengan kokohnya menimpa perut Dista.
"Mas Daffa!" pekik Dista, sambil berusaha memindahkan tangan suaminya.
"Mas Daffa bangun, tangan kamu berat banget sih!" gerutu Dista.
"Hemm..." perlahan Daffa membuka matanya. "Kenapa?"
"Tangan mas Daffa ini berat, aku nggak bisa napas!" omel Dista "Gulingnya kemana sih,kan aku udah kasih pembatas tadi malam"
"Iya maaf!!"
bersambung....
__ADS_1