Perjanjian Cinta Ladista

Perjanjian Cinta Ladista
Boneka sapi.


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Daffa menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat. Sehingga hari kelima ia bisa kembali ke ibu kota.


Daffa dan asisten Beny mengambil penerbangan pagi. Pukul 09.00 pagi, Daffa sampai di apartemennya.


Daffa sengaja tidak memberitahu Dista tentang kepulangannya hari ini. Ia ingin memberikan sedikit kejutan. Daffa mengetuk pintu apartemennya.


"Paket...!" Teriaknya.


Dista beranjak menuju ruang tamu, untuk membuka pintu


"Sepertinya aku nggak pesan apa-apa" gumam Dista sambil membuka pintu.


Ceklek... Tampak seseorang memegang boneka sapi berukuran jumbo. Tapi wajahnya tidak kelihatan sama sekali karena tertutup oleh boneka yang sangat besar.


"Surprise.." teriak Daffa. Sambil menunjukkan wajah tampannya.


"Mas Daffa!" Pekik Dista tak percaya dengan apa yang ia lihat. Suaminya pulang lebih cepat, apalagi membawa sebuah boneka sapi sebesar dirinya.


"Mas Daffa sudah pulang. Kenapa nggak ngasih tahu aku sih.." gerutu Dista


"Namanya juga mau bikin surprise. Kalau aku bilang mau pulang hari ini, nggak surprise lagi dong!" Jawab Daffa dengan senyum mautnya.


"Tapi aku kan malu, jam segini belum mandi. Masih bau dan acak-acakan!" Kesalnya.


"Jadi nggak senang nih aku pulang lebih cepat." Ucap Daffa sambil cemberut.


"Bukan gitu... Tapi aku malu!" Ujar Dista sambil menutup muka dengan kedua telapak tangannya.


"Kamu tetep cantik kok meskipun belum mandi." Hibur Daffa sambil mengelus rambut hitam istrinya.


"Bohong.. biasanya meskipun aku sudah mandi, mas Daffa bilang aku kucel!" Cerocos Dista.


"Kenapa diungkit lagi. Yang penting sekarang kamu selalu terlihat cantik di mataku." Hibur Daffa sambil menoel hidung mungil Dista.


"Jadi Bonekanya nggak mau nih. Aku kasih orang aja kalau gitu." Tambah Daffa sambil melirik istrinya.


"Ih.. siapa bilang. Aku mau kok, mau banget malah." Jawab Dista sambil nyengir.


"Dasar bocah!"


"Mas Daffa.. aku bukan bocah! Aku wanita dewasa yang sudah bersuami." Elak Dista mantap.


"Wanita?? Bahkan kamu belum melakukan kewajiban seorang istri, mana bisa disebut wanita dewasa." Goda Daffa.

__ADS_1


Pipi Dista Semerah kepiting rebus. Apakah ucapan Daffa barusan adalah kode bahwa dia menginginkan dirinya. Apakah dia benar-benar menginginkan rumah tangga yang sesungguhnya.


Apakah Daffa juga menginginkannya untuk melahirkan anak-anak mereka. Wajah cantik Dista bukan lagi tampak malu-malu tapi sungguh sangat memalukan.


"Kenapa mukanya merah gitu?" Goda Daffa.


"Nggak apa-apa! Biasa aja!" Ucap Dista. "Oh ya, mas Daffa bawain aku boneka atas inisiatif sendiri atau orang lain?" Selidik Dista. Tentu saja ia merasa ragu. Mengingat suaminya itu orang yang cuek, kadang-kadang romantis sih. Tapi selalu menjiplak ide orang lain.


"Kemauan aku sendiri lah. Emang siapa lagi!" Jawab Daffa sedikit ragu.


"Tapi aku nggak percaya lho." Ujar Dista kemudian mengambil boneka sapi dan memeluknya dengan erat.


Dista berjalan menuju ke kamarnya.


"Itu aku minta tolong sama Beny untuk cari tahu kejutan apa yang disukai perempuan. Beny bilang, kata Mbah Google perempuan akan sangat menyukai hadiah berupa perhiasan, tas branded dan barang mahal lainnya. Ada juga yang menyukai hal kecil lainnya, seperti boneka atau coklat." Daffa menjeda ucapannya.


"Aku pikir kamu tipe yang kedua. Jadi aku memilih membeli boneka sebagai hadiah." Tambah Daffa.


Dista menghentikan langkahnya saat mendengar Daffa membeberkan penjelasan.


"Jadi tanya google, tapi untungnya mas Daffa menebak dengan benar apa yang aku suka." Dista terkekeh "Makasih ya mas, aku suka hadiahnya. Bakal aku peluk buat teman tidur."


"Eh, mana bisa begitu! Terus akunya di kemanain?" protes Daffa.


Daffa tersenyum melihat tingkah lucu istrinya. Dan bergegas menyusul Dista ke kamar.


Dus puluh menit kemudian Dista keluar dari kamar mandi. Tampak Daffa berbaring terlentang di atas kasur.


"Hari ini mas Daffa nggak ke kantor kan?" tanya Dista.


"Nggak, Emangnya kenapa?" ujar Daffa sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Nggak apa-apa!" Jawab Dista singkat.


"Bilang aja kamu kangen." Daffa menarik lengan Dista hingga jatuh di atas tubuhnya.


"Mas Daffa!" pekik Dista.


"Ayo bilang kalau kamu kangen sama suami tampan mu ini!"


"Nggak tuh, biasa aja!" jawab Dista.


"Bilang sekali lagi kalau nggak kangen!" Daffa mulai menggelitik perut Dista

__ADS_1


"Ampun mas,, geli tau!!" protes Dista.


"Bilang apa?" tanya Daffa.


"Iya kangen, kangen banget malah!!" ucap Dista sambil terengah-engah karena gelitikan Daffa di perutnya.


Sementara itu di Perusahaan Sebastian Grup


Hari ini Ramon bekerja di kantor papanya, karena tidak ada jadwal kuliah. Sedikit demi sedikit Ramon belajar bisnis dari Rendra Sebastian, papanya. Menerapkan ilmu yang diperolehnya dari kampus. Ramon baru menginjak semester 5. Tapi ia sudah banyak belajar secara langsung dari orang tuanya.


Ramon adalah putra tunggal dari Rendra dan Dewi. Ia merupakan harapan satu-satunya bagi kedua orang tuanya. Meskipun memiliki otak yang tidak terlalu cerdas, tapi Ramon adalah pekerja keras dan gigih.


"Kenapa aku masih terus memikirkan mu Dis." gumam Ramon.


"Kalau saja aku tahu kamu nggak lanjutin kuliah, pasti aku minta mama sama papa buat lamar kamu." sesal Ramon. "Tapi setahu aku, kamu orang yang mementingkan pendidikan di atas segalanya. Kenapa tiba-tiba nikah sih. Apa aku melewatkan sesuatu!"


Menurut Ramon ada yang janggal. Memang setelah ia pindah mengikuti orang tuanya ke Surabaya, ia sama sekali tidak tahu kabar mengenai Dista.


Tapi dalam bayangan Ramon, Dista masih kuliah saat ini. Dan dia masih punya kesempatan untuk menjadikan Dista sebagai istrinya. Meskipun harus merebutnya, kalau Dista sudah memiliki kekasih.


Tapi nyatanya, Dista sudah menjadi istri orang lain. Mungkin memang mereka tidak berjodoh. Tapi dalam lubuk hati Ramon, Dista tetaplah gadis idamannya.


"Ramon, kamu ikut Jodi meninjau proyek sekarang." suara Rendra membuyarkan lamunan putranya.


"Kemana pa?" tanya Ramon kemudian.


"Pembangunan gedung baru di jalan XX." jelas Rendra.


"Siap pa!" jawab Ramon cepat.


"Oh ya, besok kamu nggak kuliah kan?" tanya Rendra.


"Besok aku ada jadwal pagi pa! memangnya kenapa?" tanya Ramon.


"Papa mau ajak kamu ketemu anak kenalan papa, kita ada beberapa proyek yang sedang berjalan. Papa juga mau kamu belajar dari dia, dia masih muda tapi sudah mampu menjalankan perusahaan orang tuanya." jelas Rendra.


"Siap laksanakan bos!" jawab Ramon dengan candaannya.


"Meskipun kamu tidak sejenius dia, tapi papa harap kamu bisa mengambil banyak pelajaran darinya." tambah Rendra


"Bilang saja aku bodoh pa, pakai jalan pintas segala!" gerutu Ramon.


"Hahaha... meskipun otak kamu pas-pasan tapi papa tahu kamu pribadi yang tangguh, ulet dan pantang menyerah!!" puji Rendra pada anak semata wayangnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2