
"Makasih mbak .." ucap Dista saat menerima kue pesanannya. Setelah membayar ia keluar meninggalkan toko tersebut.
Ramon membukakan pintu mobil untuk Dista. Membungkukkan badan layaknya pelayanan. Membuat Dista geleng geleng kepala. Selalu ada tingkah Konyol Ramon yang berhasil membuatnya tersenyum.
Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di apartemen Daffa.
"Makasih Ram, sudah mau repot-repot nganterin aku. Tapi maaf, aku nggak ngajak kamu mampir. Soalnya mas Daffa belum pulang." ujar Dista merasa tidak enak pada Ramon.
"Santai saja. Aku ngerti kamu takut jadi fitnah, kalau bawa laki-laki ke rumah saat suami nggak ada." jawab Ramon.
"Aku pulang, maaf nggak antar sampai atas!" pamit Ramon.
"Sekali lagi terima kasih." ucap Dista.
Sampai di unit apartemennya. Dista merebahkan diri di sofa. Beristirahat sejenak, kemudian menyimpan kue ke dalam kulkas. Dan membawa barang belanjaannya ke dalam kamar.
Setelah membersihkan diri di kamar mandi. Jam di ponselnya menunjukkan pukul tiga sore. Dista memejamkan mata bermaksud untuk tidur, masih ada waktu untuk beristirahat.
Jam lima sore, Dista terbangun. Buru-buru ia menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci muka. Kemudian menuju dapur.
Dista berkutat dengan alat-alat dapur. Memasak makanan kesukaan Daffa. Menghias makanan dengan sangat cantik dan menyajikannya di atas meja. Setelah semua beres Dista buru-buru mandi dan berdandan secantik mungkin.
Dista mengenakan gaun mini dress di bawah lutut tanpa lengan. Ia menggulung rambutnya ke atas menjadi sanggul sederhana. Poni tipis menghiasi dahi kecilnya. Dengan polesan make up natural dan lipstik berwarna peach menambah kecantikan alaminya.
Tak lupa kalung pemberian Daffa ia kenakan. Tampak sangat cocok dengan look Dista malam ini.
Dista menunggu sang suami pulang dengan membaca buku. Ia tahu Daffa akan pulang agak terlambat, karena Daffa sempat mengabarinya siang tadi.
Saat mendengar pintu dibuka, Dista segera berlari untuk menyambut kedatangan sang suami.
"Mas.." sapa Dista lembut. Dista meraih tangan Daffa kemudian mengecup punggung tangan suaminya itu.
"Kamu cantik sekali malam ini." ucap Daffa setelah mencium kening Dista.
"Emang biasanya nggak?" Dista memanyunkan bibirnya.
Segera Daffa menyambar bibir mungil sang istri. Dikecupnya dengan lembut.
"Kamu selalu cantik. Di mataku cuma kamu perempuan paling cantik." puji Daffa.
"Aku mandi dulu." ucap Daffa. Dista membawakan tas kerjanya. Menggamit lengan Daffa dan mengikuti suaminya menuju kamar. Daffa masuk ke kamar mandi, sedangkan Dista menyiapkan baju ganti untuk Daffa. Kemeja berwarna senada dengan dress yang ia pakai, serta celana kain berwarna cream ia taruh di atas kasur. Tak lupa pakaian dalamnya.
"Aku tunggu di meja makan mas!" teriak Dista.
"Iya sayang!"
Tiga puluh menit kemudian, Daffa keluar dari kamar. Tampak sangat tampan dengan gaya rambut kekinian.
"Ini hari spesial ya?" tanya Daffa pura-pura bodoh.
__ADS_1
"Mas Daffa nggak ingat ini tanggal berapa?" gerutu Dista dengan bibir manyun.
"Emang kenapa?" tanya Daffa semakin membuat Dista kesal.
"Ya sudah, kita makan saja dulu." ajak Dista kemudian mengambilkan nasi dan lauk untuk Daffa.
Mereka makan dalam diam. Sesekali Daffa melirik istrinya yang terlihat sangat kesal.
"Masakan kamu selalu sukses menggoyang lidah ku sayang!" puji Daffa.
"Bagaimana dengan masakan mantan?" celetuk Dista.
"Maksud kamu?" Daffa bertanya dengan bingung.
"Tidak ada. Tunggu sebentar mas." Dista beranjak menuju dapur. Mengambil kue yang ia beli tadi dari dalam lemari pendingin.
Ia rapikan kemudian menambahkan lilin berbentuk angka lima di atasnya. Dista meletakkan kue tersebut di atas meja.
"Masih tidak ingat ini hari apa?" protes Dista.
"Tentu saja aku ingat sekarang!" jawab Daffa dengan senyum devil.
Dista menyalakan lilin kemudian berkata "Kita make a wish dulu mas!"
"Oke!!" jawab Daffa singkat kemudian memejamkan mata bersamaan dengan Dista
"Nggak apa-apa mas, asal jangan lupa kalau sudah punya istri." jawab Dista dengan sewot.
"Mana mungkin aku lupa." Daffa terkekeh.
"Oh ya, aku punya sesuatu buat kamu." ucap Daffa sambil merogoh saku celananya.
Tampak kotak beludru kecil di tangannya. Daffa perlahan membuka kotak tersebut.
"Ini hadiah spesial untuk istri ku tercinta." ungkap Daffa.
Dista tak kuasa menahan air mata agar tidak jatuh. Ia sangat terharu, ternyata Daffa hanya pura-pura lupa. Buktinya laki-laki itu memberinya hadiah sebuah cincin yang dipesan khusus olehnya.
"Mas, ini..ini... " Dista kehilangan kata-kata. Menatap indahnya berlian di hadapannya.
"Iya, ini sama persis seperti yang kamu lihat di majalah waktu itu. Aku sengaja memburu berlian ini sampai ke luar negeri. Hanya untuk membuat wanita ku bahagia." tutur Daffa sambil menyematkan cincin ke jari Dista.
"Kapan kamu pergi ke luar negeri?" tanya Dista, yang tak pernah tahu Daffa pergi ke luar negeri.
"Maksud ku, Beny yang pergi. Sama saja kan, aku yang suruh dia... yang gaji dia aku juga." elak Daffa.
Dista hanya menyunggingkan senyum lebar. Seakan lampu lampu menghiasi seluruh wajah cantiknya. Membuat perempuan cantik itu semakin mempesona.
"Aku nggak nyangka kamu bisa seromantis ini mas." puji Dista.
__ADS_1
"Kamu yang merubah segalanya. Aku seperti menemukan sisi lain dari diri ku. Tapi aku senang, karena semua adalah sisi positif." ujar Daffa.
Mereka menikmati kue dengan perasaan bahagia. Saling lempar pujian dan sesekali menjahili satu sama lain.
Tring...
Tring...
Tring...
Notifikasi hape Daffa berbunyi. Daffa tampak kaget dengan isi pesan yang ia terima. Tidak lain adalah beberapa foto Dista.
Daffa berusaha sekuat tenaga menahan amarahnya. Ia kesampingkan dulu gemuruh dalam dadanya. Mencoba bersikap senormal mungkin. Agar tak merusak suasana romantis malam ini.
Saat mereka berpindah ke kamar. Daffa berdiri di balkon. Memandangi kota Jakarta di malam hari. Sangat indah berhias lampu lampu yang berwarna-warni. Semilir angin menerpa tubuhnya.
Terasa tangan mungil memeluk pinggangnya dari belakang. Daffa masih berusaha meredam emosi yang sempat tersulut.
"Mas, kenapa ngelamun?" tanya Dista.
"Nggak apa-apa, hanya menikmati angin malam." jawab Daffa. Dista menyandarkan kepalanya di punggung sang suami.
"Ada yang kamu pikirkan?" tanya Dista lagi. Yang dijawab Daffa dengan sebuah gelengan.
Dista makin merasa ada yang aneh dengan sang suami. Tak biasanya Daffa seperti ini. Dista berusaha membalikkan badan Daffa. Mengalungkan tangannya ke leher sang suami. Memandangi manik mata hitam milik Daffa, berusaha mencari jawaban di sana.
"Katakan ada apa?" pinta Dista lagi.
Daffa menghela nafas berat. Menetralkan desakan dalam dada. Berusaha tidak mengeluarkan kata-kata kasar.
"Apa kamu sering bertemu dengan Ramon?" Daffa mulai buka suara.
"Tidak sering juga, tapi beberapa kali nggak sengaja ketemu. Tadi juga pas nunggu taksi di mall, nggak sengaja ketemu dia. Dan dia maksa anterin aku pulang. Kenapa mas?" Dista mengernyitkan keningnya.
"Apa kalian sering berkomunikasi? Telepon atau chat mungkin?" selidik Daffa.
"Nggak juga. Terakhir kali dia telpon ngajakin reuni beberapa bulan lalu, tapi kamu nggak kasih izin. Itu saja, nggak pernah lagi." jawab Dista mantap.
Daffa menilai jawaban Dista. Tidak ada kebohongan di sana. Tidak ada keragu-raguan saat menjawab. Dan jawaban Dista terkesan santai, lugas dan tak ada yang ditutupi.
"Aku yakin Dista jujur, tapi foto-foto itu? Hah.. Aku harus bagaimana? Jujur aku cemburu, tapi..." batin Daffa.
"Aku nggak suka kamu terlalu dekat dengan Ramon." ucap Daffa sambil memeluk sang istri.
Dista menganggukkan kepala. Menyetujui permintaan sang suami.
"Maaf kalau bikin kamu nggak nyaman." pinta Dista.
Bersambung....
__ADS_1