
Kembali senyum itu membuat Dista luluh. Senyum yang selalu meneduhkan hatinya. Senyum yang membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi.
Keputusannya bulat untuk mempercayai sang suami. Mengesampingkan rasa curiga dan sakit hatinya. Berharap keputusannya kali ini adalah yang terbaik.
"Makin hari makin jago menggombal!!" ujar Dista.
"Ini bukan gombalan sayang! Ayo makan dan kasih penilaian masakan ku ini!" pinta Daffa.
Dista menyuap nasi goreng yang tampak lezat itu. "Hemm.. ternyata kamu pintar masak ya mas. Kenapa nggak dari kemarin kemarin kamu masak buat aku." puji Dista.
"Kamu suka nasi gorengnya? Lain kali aku akan masak lagi buat istri ku tercinta." Daffa tersenyum memikat.
Dista hanya menampilkan senyum manis untuk menjawab pertanyaan Daffa.
Kini keduanya berada di atas ranjang. Dista bersandar pada dada kokoh suaminya. Amarahnya yang mencapai ubun-ubun tadi, sirna begitu saja. Apakah ia begitu bodoh? Ataukah cinta yang membuat orang seperti orang bodoh?
"Sayang, apa kamu sudah memaafkan aku?" tanya Daffa sambil membelai rambut Dista. Dista mengangguk mengiyakan pertanyaan sang suami.
"Terima kasih sayang! Aku benar-benar tidak mengkhianati pernikahan kita. Kamu percaya kan?" ujar Daffa.
"Aku akan berusaha mempercayai kamu mas. Aku harap kamu tidak mengecewakan aku." pinta Dista.
"Tentu saja. Aku janji." ucap Daffa kembali mengecup puncak kepala Dista.
Hari-hari Dista lalui dengan menekan prasangka dan egonya. Berusaha berdamai dengan keadaan. Membalut luka yang sempat tergores.
Seharian ini Dista habiskan bersama mama Ratih. Mereka belanja memuaskan rasa haus akan barang-barang incaran, incaran mama Ratih tentunya. Dista hanya mengikuti saja. Tapi juga kecipratan banyak barang belanjaan. Baju, tas, aksesoris dan masih banyak lagi lainnya.
"Sultan mah bebas!" celetuk Dista menggoda mertuanya. Saat mereka memasuki sebuah toko perhiasan.
Ratih terkekeh mendengar sindiran menantu kesayangannya. "Kamu harus belajar dari mama, bagaimana menghabiskan uang suami! Jangan sampai di porotin sama pelakor!"
Dista terdiam mendengar celotehan mama Ratih. Kemudian memaksakan sebuah senyum.
"Iya ma!" jawab Dista dengan senyum dipaksakan.
"Kamu pilih sayang, mau yang mana? Gelang, cincin atau kalung?" tawar mama Ratih.
"Nggak usah ma! Dista masih punya beberapa perhiasan. Beberapa waktu yang lalu, mas Daffa juga kasih kalung buat Dista." tolak Dista.
__ADS_1
"Huh,, apa kamu pikir mama nggak punya banyak perhiasan? Seminggu yang lalu juga, papa beliin mama cincin berlian." Mama Ratih menghela nafas, kemudian melanjutkan ucapannya.
"Perhiasan termasuk salah satu bentuk investasi. Jadi nggak ada salahnya kita berinvestasi, iya kan!! Udah pokoknya kamu pilih mau yang mana. Mama yang bayar, oke!"
Dista mengalah, akhirnya ia memilih sebuah gelang sederhana. Yang ternyata harganya lumayan menguras kantong. Dista ingin mengembalikannya, dan mengganti dengan yang lain. Tapi Ratih tetap kekeh ingin membelikan menantu kesayangannya sesuai pilihan Dista barusan.
"Aku pilih yang lain saja ma, ini terlalu mahal." ucap Dista ragu-ragu.
"Itu bagus sayang dan lihat sangat cocok kamu pakai. Mama juga suka!!" bujuk Ratih.
"Tapi ma..." belum selesai Kalimat Dista dipotong oleh Ratih.
"Jangan pikirkan harganya, mama sanggup bayarin kok. Kamu pikir mama ini akan jatuh miskin cuma karena beliin kamu gelang itu." oceh Ratih.
Dista menghela nafas panjang. Ia tak mampu lagi membantah keinginan mertuanya. Akhirnya mereka mengakhiri sesi belanja dengan makan siang di restoran yang ada di mall itu
"Ma, aku pulang sendiri saja pakai taksi. Mama nggak usah antar Dista, nanti kecapekan bolak-balik kan jauh." usul Dista. Memang dari mall tersebut berbeda arah menuju apartemen dan kediaman Wiguna.
"Tapi sayang, mam nggak enak kalau membiarkan kamu pulang sendirian. Mama khawatir!!" tutur Ratih penuh kekhawatiran.
"Dista bukan akan kecil ma." ucap Dista dengan tersenyum, meyakinkan sang mertua.
"Nggak usah repot-repot ma, mama pulang saja duluan. Kelihatannya mama kecapekan. Maaf Dista nggak antar mama pulang. Rencananya Dista mau buat kejutan untuk mas Daffa. Jadi mau siap-siap." ujar Dista.
Ratih mengerutkan keningnya. "Dalam rangka apa sayang? Ulang tahu Daffa masih lama!"
"Hemmm... lima bulan pernikahan kami ma." jawab Dista malu-malu. Tampak rona merah menyebar di wajahnya.
Ratih terkekeh. "Duhh romantisnya..." goda Ratih.
"Doain ya ma, supaya kami menjadi keluarga yang selalu bahagia." pinta Dista.
"Tentu saja sayang, tanpa kamu minta pun mama selalu mendoakan kebahagiaan kalian." jawab Ratih.
"Mama memang sedikit capek, maklum sudah tua. Kalau begitu mama pulang duluan ya. Kamu hati-hati." ucap Ratih kemudian mencium pipi kiri dan kanan Dista.
Sepeninggalan mama Ratih, Dista menunggu taksi di depan gedung. Ia menenteng beberapa paper bag. Tiba-tiba terdengar klakson mobil di hadapannya. Dista menyipitkan matanya, menelisik siapa yang berada di dalam mobil itu. Karena ia yakin kalau itu bukan taksi online yang ia pesan.
Kaca mobil diturunkan, tampak seorang pria tampan di belakang kemudi.
__ADS_1
"Hai Dis, lagi ngapain? nunggu taksi?" tanya pria itu yang tak lain adalah Ramon.
"Ramon, kirain siapa? kamu ganti mobil?" tanya Dista karena ia hafal mobil yang biasa Ramon pakai. Tapi kali ini Ramon mengendarai sebuah mobil sports.
"Mobil minjam!" jawab Ramon asal. "Ayo, aku antar mau kemana?" tawar Ramon.
"Aku mau pulang, emang kamu nggak sibuk?" tanya Dista. "Lagi pula, aku sudah pesan taksi kok."
"Aku selalu ada waktu buat kamu." jawab Ramon sambil terkekeh.
"Males denger gombalan kamu." gerutu Dista.
Ramon turun dari mobil dan menarik lengan Dista. Memaksa untuk mengantarkan Dista pulang. Dista kaget dan tidak siap saat Ramon menarik tangannya. Hingga ia limbung menubruk tubuh Ramon.
Cekret.. cekret.. bidikan kamera mengintai keduanya tanpa mereka sadari.
"Oke..oke.. nggak usah tarik tarik, tangan ku sakit!!" bentak Dista.
Dista pun menurut, masuk ke dalam mobil Ramon. Ramon melajukan mobilnya perlahan. Memutar arah laju kendaraannya.
"Aku mau mampir ke toko kue, nggak apa-apa kan?" tanya Dista.
"Siap bos!! Kemanapun tujuan mu, aku siap mengantar. Tenang saja, aku nggak akan minta bayaran kok." ujar Ramon dengan senyuman di bibirnya.
"Gara-gara kamu aku jadi membatalkan taksi yang sudah aku pesan. Kasihan sopir taksinya.." Dista memelototi Ramon yang cengar cengir.
"Tinggal kasih kompensasi apa susahnya!" omel Ramon.
Mereka sampai di depan toko roti favorit Dista. Selain karena kue di toko ini enak, harganya pun cukup murah.
"Mbak, saya mau mengambil kue pesanan saya." Ucap Dista sambil menyodorkan nota pesanannya.
"Tunggu sebentar ya mbak!" jawab pegawai toko tersebut.
"Emang ada acara apa, pakai pesan kue segala?" tanya Ramon yang sejak tadi membuntuti Dista dibelakangnya.
"Rahasia... mau tahu saja!" omel Dista.
Ramon memandangi Dista dengan tatapan mendamba. Tersirat kasih sayang di mata pemuda tersebut.
__ADS_1
Bersambung.....