Perjanjian Cinta Ladista

Perjanjian Cinta Ladista
Bali


__ADS_3

Waktu makan siang pun tiba. Dua sejoli baru keluar dari kamar mereka. Mereka tampak segar setelah mandi.


"Katanya suruh istirahat, baru diajak jalan-jalan. Cih.." Dista mendecih melirik suaminya.


"Tadi kan beneran sudah istirahat di kamar!" jawab Daffa asal.


"Apaan, itu bukan istirahat. Itu namanya kerja keras." seru Dista. Ya, di dalam kamar Daffa bukannya membiarkan Dista memejamkan mata tapi malah menyerangnya bertubi-tubi tanpa ampun.


"Hehehehe... maaf sayang! Habisnya kamu menggoda sih. Nanti malam kita lanjut ya!" ucap Daffa sambil terkekeh.


"Mana ada aku menggoda. Mas Daffa aja yang otaknya mesum!" gerutu Dista.


"Tapi kamu suka kan?" goda Daffa.


"Mas Daffa..." teriak Dista yang pipinya Semerah kepiting rebus sambil mencubit pinggang sang suami.


"Aduh..sakit sayang! Hahaha..." Daffa tertawa lepas, senang sekali menjahili istri kecilnya itu.


"Tuan apa mau saya siapkan makan siang?" tanya Ratna yang muncul dari dapur.


"Tidak usah bi, kami mau makan siang di luar sekalian jalan-jalan. Nanti keburu nyonya ngambek kalau diam di villa terus." ujar Daffa sambil melirik istrinya.


"Iya bi, nggak usah repot-repot. Kami makan di luar saja!" tambah Dista sambil memelototi Daffa. Daffa hanya terkekeh melihat tingkah istrinya.


"Tolong suruh pak Amir siapin mobil. Kami mau pergi sekarang." perintah Daffa.


"Baik tuan!" jawab Ratna disertai anggukan kepala. Ia segera pergi ke dapur mencari keberadaan pak Amir.


Siang ini mereka memutuskan untuk pergi ke Bedugul. Disiang yang terik tentunya sangat pas mengunjungi tempat sejuk.


Bedugul berada pada ketinggian 1.500 meter di atas permukaan air laut. Sehingga memiliki udara yang sejuk. Wisata ini masuk dalam pemerintahan kabupaten Tabanan.


Pak Amir merekomendasikan sebuah restoran yang menyajikan makanan halal. Dikawasan ini tidak sulit menemukan rumah makan dengan makanan halal, karena sebagian besar penduduk daerah ini adalah muslim.


Pak Amir membawa Daffa dan Dista menuju rumah makan yang memiliki view ke arah danau Baratan. Pada siang hari rumah makan ini tidak pernah sepi oleh pengunjung.


Daffa memilih tempat duduk di atas karena mereka dapat menikmati langsung pemandangan danau yang indah.


Dista memesan menu yang tersedia di rumah makan tersebut antara lain, sup sayur, ayam goreng, sate lilit, ikan tuna tepung dan lumpia.


"Ada yang mau mas Daffa pesan lagi?" tanya Dista setelah menyerahkan buku menu kepada pelayanan.


"Nggak ada." jawab Daffa.


"Pak Amir kenapa nggak ikut gabung sama kita aja mas?" tanya Dista.

__ADS_1


"Nggak mau ganggu kita katanya."


Lima belas menit kemudian pesanan mereka datang. Mereka mulai menyantap menu makan siang pertama mereka di Bali.


Daffa memperhatikan Dista yang makan dengan lahapnya.


"Enak banget ya makananya?" tanya Daffa.


"Enak kok mas, sate lilitnya kenapa bisa beda ya dengan yang aku buat. Padahal aku sudah ikuti semua step dalam video yang aku lihat." gumam Dista sambil menikmati sate lilit ikan.


"Mungkin chefnya punya bumbu rahasia. Sate buatan kamu juga enak kok." puji Daffa.


"Coba berani bilang nggak enak, pasti panci dan piring beterbangan." balas Dista sambil tertawa.


Daffa ikut tertawa mendengar celotehan istrinya. "Serem amat, gimana kalau sampai panci terbang mendarat di kepala. Waduh..." ucap Daffa sambil geleng-geleng.


Dista hanya bisa tertawa mendengar pengandaian Daffa.


"Makan yang banyak sayang! Buat persiapan nanti malam, biar punya banyak tenaga!" goda Daffa sambil terkekeh.


"Nanti saja pas makan malam, aku makan nasi sebakul!" jawab Dista dengan melotot.


Setelah menyelesaikan makan siang, Daffa dan Dista berjalan-jalan di sekitar danau.


"Mas, kita naik perahu yuk." ajak Dista dengan manja.


Merekapun naik perahu nelayan lokal untuk berkeliling danau. Perahu kecil yang hanya menampung tiga orang dewasa itu melaju dengan perlahan mengelilingi danau. Udara yang sejuk dan semilir angin semakin menambah keasrian tempat itu.


"Apakah kamu bahagia?" tanya Daffa lembut sambil menggenggam tangan Dista.


"Iya mas, aku sangat bahagia. Semoga kebahagiaan ini jangan cepat berlalu." jawab Dista sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.


Setelah puas menikmati keindahan danau Beratan, pak Amir membawa mereka menuju pura Tanah Lot yang berjarak sekitar 51 km dari tempat mereka semula.


Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam 45 menit, akhirnya mereka sampai di lokasi. Dari tempat parkir menuju areal pura, terdapat banyak toko yang menjual berbagai barang kerajinan khas Bali. Misalnya patung, lukisan, kain pantai, pernak – pernik, dan aksesoris.


Dista yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini sungguh takjub dengan berbagai kerajinan dan pernak-pernik yang terpajang di lapak para pedagang.


"Mas, aku mau lihat-lihat dulu ya.." pinta Dista.


"Apapun yang kamu inginkan sayang!" jawab Daffa seromantis mungkin.


Dista sibuk memilih berbagai pernak-pernik yang menarik baginya. Sedangkan Daffa sibuk dengan ponselnya, entah siapa yang ia kirimi pesan sedari tadi.


"Mas, lihat deh. Gelang ini lucu ya, sepasang loh!" ujar Dista antusias.

__ADS_1


"Hemm.. kamu suka?" tanya Daffa.


"Aku suka mas, tapi ini kan sepasang masak aku sendiri yang pakai. Kamu pasti nggak mau pakai barang murah begini." ujar Dista dengan sedih.


"Siapa bilang?! Sini kamu pakai kan ke tangan ku!" perintah Daffa.


Dista segera memasang gelang tali berwarna marun dengan inisial D&D ke tangan Daffa. Dista tersenyum melihat kedua gelang yang melingkar di tangan keduanya.


"Mas Daffa makin keren pakai gelang ini!" celetuk Dista.


"Keren dari lahir!" jawab Daffa.


"Ih, narsis!" seru Dista dengan tawa riang.


"Masih mau belanja?" tanya Daffa.


"Bentar lagi mas, aku mau beli oleh-oleh buat mama papa dan mas Daffy juga. Emm.. buat Ana dan pak Beny sekalian." ujar Dista.


"Terserah kamu saja!"


Setelah puas berbelanja, Daffa mengajak Dista menuju restoran yang sudah ia pesan untuk sunset dinner.


Dista kagum dengan pemandangan matahari terbenam dengan cahaya keemasan yang sangat indah. Ia duduk di sebuah kursi dengan meja bundar di hadapannya. Tersaji makanan pembuka dan juga minuman. Dan yang paling menarik perhatian Dista adalah sebuah kue bertuliskan 4 mont anniversary.


Senyum manis tak pernah lepas dari bibir merah Dista. Daffa semakin terpukau menatap keindahan ciptaan Tuhan di hadapannya ini.


"Selamat empat bulan pernikahan sayang! Semoga kita selalu bahagia dan menua bersama." ucap Daffa.


"Terima kasih mas, semoga Allah mengabulkan doa kita. Senantiasa melimpahkan kebahagiaan dan keberkahan." timpal Dista.


"Apakah kamu mau menemani ku dalam susah dan senang, kaya dan miskin? Apakah kamu bersedia menemani ku sampai maut memisahkan?" tambah Daffa sambil menggenggam erat tangan Dista.


"Iya mas, aku bersedia. Aku adalah wanita yang paling beruntung karena memiliki kamu dalam hidup ku!" jawab Dista dengan air mata menggenang di pelupuk matanya.


"Ayo kita tiup lilinnya bersama." ajak Daffa.


Mereka pun meniup lilin bersama. Kemudian melanjutkan makan malam setelah menu utama di hidangkan.


"Sayang, apa kamu suka tempat ini? Suasana ini?" tanya Daffa dengan lembut.


"Terima kasih mas, sudah menyiapkan semuanya. Mengajak aku ke tempat seindah ini. Aku sangat bahagia. Tapi..." Dista menjeda ucapannya.


"Tapi apa sayang?" tanya Daffa penasaran.


"Tapi sayangnya aku nggak sempat dandan yang cantik, bahkan baju ini masih sama dengan saat kita makan siang tadi!" ucap Dista dengan polosnya.

__ADS_1


"Aiisshh...." Daffa mengusap kasar wajahnya. "Bodoh, kenapa aku nggak kepikiran ngajak Dista ke butik dulu. Setidaknya mampir ke hotel untuk mandi dan berganti pakaian. Bodoh..bodoh.. Menyiapkan dinner romantis tapi malah hal mendasar terlewatkan!!" batin Daffa merutuki kebodohannya.


Bersambung...


__ADS_2