Perjanjian Cinta Ladista

Perjanjian Cinta Ladista
14. Anak manja lagi demam


__ADS_3

Seperti biasa, pagi ini Dista telah menyelesaikan rutinitas paginya. Ia telah rapi dan wangi. Sarapan juga sudah tertata rapi di atas meja.


Dista bergegas ke kamar Daffa. Diketuknya pintu kamar Daffa. Tapi tak ada jawaban. Setelah beberapa kali ulangi dan tak kunjung ada jawaban, akhirnya Dista memberanikan diri membuka pintu itu yang ternyata tidak dikunci.


"Mas Daffa..." panggil Dista sembari mendekat ke arah ranjang. Tampak Daffa masih tertidur dengan meringkuk di bawah selimutnya.


"Mas Daffa bangun, sudah siang!! Apa mas Daffa nggak ke kantor hari ini?"


"Hemmm....!" jawab Daffa tanpa membuka matanya.


Dista merasa ada yang aneh. Ia memberanikan diri mengguncang tubuh Daffa, dan Dista merasa suhu tubuh Daffa panas. Dista menempelkan punggung tangannya di atas dahi suaminya.


"Astaga.. mas Daffa demam??"


"Hemm..." hanya gumaman yang keluar dari mulut Daffa.


"Sebentar ya mas aku ambilkan obat, oh ya mas Daffa mau sarapan nasi goreng atau mau aku buatkan bubur??" tanya Dista.


"Apa saja!" jawab Daffa dengan suara lemah.


"Baiklah mas, aku ambil nasi goreng ya.. biar cepat. Soalnya aku sudah masak tadi." Dista pun bergegas keluar menuju dapur. mengambil nampan. Disiapkannya baskom berisi air hangat, beserta handuk kecil. Nasi goreng dan juga obat penurun panas.


"Ayo aku bantu duduk mas." ucap Dista sambil berusaha membantu Daffa bangun.


"Aku suapi ya..." Daffa hanya mengangguk lemah. Dista mulai menyuapi suaminya dengan telaten.


"Sudah, aku kenyang. Mana obatnya?" seru Daffa dengan suara lemahnya.


"Baru juga tiga suap masak sudah kenyang. Tambah lagi ya mas.. satu lagi ya! " bujuk Dista.


Daffa hanya menggeleng.


"Sekali lagi.. habis itu baru minum obat. Ayolah mas." Terpaksa Daffa membuka mulutnya dan menerima suapan terakhirnya. Dista tersenyum senang.


Kemudian ia memberikan obat dan segelas air kepada Daffa. Setelah Daffa meminum obat nya, Dista segera membantu Daffa rebahan lagi.


Dista mencelupkan handuk ke dalam baskom berisi air hangat. Kemudian ia peras, dan diletakkannya di atas dahi Daffa.


"Mas,, aku panggil dokter ya?" tanya Dista.


"Nggak usah, nanti juga baikan. Kan sudah minum obat."


"Tapi panasnya tinggi banget mas, aku khawatir kalau sakit mas Daffa parah." ucap Dista dengan penuh kekhawatiran.


"Aku tiduran aja, nanti juga sembuh. Asalkan kamu temani, jangan kemana-mana."


"Iya mas, aku pijitin ya?"

__ADS_1


"Boleh.. tapi apa kamu sudah sarapan?? Dari tadi urusin aku terus!" tanya Daffa.


"Belum mas!" Jawab Dista lirih.


"Ya sudah sana sarapan dulu. Nanti kesini lagi, temani aku."


"Ya sudah, aku tinggal bentar ya!" Dista pun bergegas keluar. Menyelesaikan sarapannya secepat mungkin. Khawatir kalau harus lama-lama meninggalkan Daffa sendirian di kamar.


Seharian ini Dista berada di kamar Daffa. Memijit kaki dan tangan suaminya dengan penuh cinta. Ya.. cinta itu telah hadir di hati Dista. Bisa dibilang ini adalah cinta pertamanya. Karena memang ia belum pernah jatuh cinta sebelumnya, apalagi pacaran.


Sore hari Daffa merasa sudah enakan. Ia merasa gerah dan tubuhnya sangat lengket.


"Aku mau mandi." ucap Daffa.


"Nggak usah mandi dulu mas, kan baru turun demamnya. Gimana kalau aku seka aja pakai air hangat?" tawar Dista.


"Terserah kamu."


Dista menuju dapur untuk mengambil alat-alat yang ia butuhkan untuk menyeka tubuh suaminya. Tak berapa lama ia telah kembali ke kamar Daffa.


"Sini mas aku bantu buka bajunya." Dista mulai membuka satu persatu kancing piyama Daffa.


Pipinya memerah seperti tomat. Sebenarnya ia sangat malu melakukannya. Tapi sudah menjadi kewajiban nya untuk merawat suaminya yang sedang sakit.


Perlahan-lahan Dista mulai menyeka bagian atas tubuh Daffa. Meskipun sebenarnya Daffa juga malu, tapi ia berusaha biasa saja.


"Sudah selesai mas. Emmm..." Dista bingung, harus melanjutkan sampai kebawah juga atau tidak.


"Hemmm..." Dista tampak menahan malu.


"Hehe... aku hanya bercanda. Biar aku bersihkan sendiri."


"Mas Daffa bisa melakukannya sendiri? Apa sudah tidak pusing?"


"Sudah mendingan."


Esok harinya Daffa masih merasa sedikit pusing. Jadi dia memutuskan untuk tidak pergi ke kantor dulu.


Mama Ratih yang mendengar kabar bahwa putranya demam, siang ini datang ke apartemen Daffa.


"Gimana Fa, apa sudah enakan? kamu nggak ke dokter aja?" Ratih memberondong putranya dengan pertanyaan. Ia merasa khawatir karena Daffa memang jarang sakit.


"Nggak usah ma, ini udah baikan kok!" ucap Daffa.


"Makasih ya sayang, sudah menjaga anak mama dengan baik." ucap Ratih sambil mengelus rambut Dista.


"Sama-sama ma.. sudah menjadi kewajiban Dista untuk menjaga mas Daffa dengan baik." jawab Dista dengan senyum manisnya.

__ADS_1


"Oh ya, apa kalian sudah makan siang?? tadi mama mampir beli makanan."


"Belum ma, kebetulan Dista juga belum sempat masak." sahut Dista sambil nyengir.


"Mama tahu, pasti kamu nggak boleh kemana-mana kan sama Daffa, sampai-sampai jam segini belum masak."


"Mama apaan sih.. emang Daffa mau pesan makanan online saja tadi. Kan kasihan Dista udah capek jagain Daffa, masih harus masak juga." Elak Daffa.


Padahal sebenarnya memang Daffa tidak mau ditinggal istrinya itu meski sebentar saja.


"Halah,, emang mama nggak kenal sama anak mama? Mama belum pikun ya Fa, kamu kalau sakit kan harus ditungguin terus. Mana mau ditinggal sendirian." ejek mama Ratih sambil tersenyum.


"Apalagi sekarang sudah punya istri. Pasti semakin manja" Ratih terkekeh.


"Oh.. jadi gitu ma, pantesan aja Dista nggak boleh kemana-mana. Ke kamar mandi pun sudah dipanggil panggil." Dista tersenyum mengejek.


Daffa melotot kearah istrinya. Hugh.. malu banget. Ketahuan manjanya.


"Nggak apa-apa juga sih, manjanya kan sama istri sendiri" goda mama Ratih.


"Apaan sih mama. Ayo buruan makan, aku sudah lapar." sergah Daffa ketus. Padahal sih malu banget.


Dista menyiapkan makanan di atas meja makan. Mengambil air dan buah-buahan dari kulkas.


Mereka makan siang bersama dengan diselingi candaan dan tawa gembira. Sepertinya Daffa sudah benar-benar sehat. Tentunya kedatangan sang mama memberikan energi positif untuk Daffa.


Seusai makan, Dista membereskan meja makan. Mencuci peralatan makan yang tadi mereka gunakan.


Berbincang sebentar bersama mertua dan suaminya. Sebelum akhirnya mama Ratih pamit pulang.


Sore hari, terdengar ketukan pintu. Dista memeriksa siapa yang datang. Ternyata Daffy.


"Sore kakak ipar!" ucap Daffy sambil tersenyum saat Dista membuka pintu untuknya.


"Sore mas Daffy. ayo masuk, mas Daffa ada di kamarnya." Dista mempersilahkan Daffy masuk.


"Aku dengar mas Daffa lagi sakit?" tanya Daffy.


"Iya, tapi sekarang sudah baikan. Tadi mama juga dari sini."


"Oh ya, ini aku bawakan makanan. Siapa tahu kakak ipar nggak sempat masak, karena harus ngurusin suami manjanya." Daffy terkekeh.


"Kok tebakan mereka benar semua sih. emang seberapa manja mas Daffa?" batin Dista.


"Makasih ya,, seharusnya nggak usah repot-repot." Dista merasa tak enak hati.


"Siapa yang datang Dia?" suara Daffa terdengar dari dalam kamar.

__ADS_1


"Ini ada Mas Daffy."jawab Dista. "Ya sudah, mas Daffy masuk sana. biar aku siapin makanan nya. Sekalian kita makan bareng nanti."


Bersambung....


__ADS_2