Perjanjian Cinta Ladista

Perjanjian Cinta Ladista
18. Bertemu dengannya


__ADS_3

Sebelum subuh Dista sudah bangun. Ia harus mempersiapkan segala keperluan Daffa. Dista bergegas menuju ke dapur. Bermaksud untuk menyiapkan sarapan bagi suaminya sebelum berangkat nanti.


Tiga puluh menit kemudian, dua piring nasi goreng seafood sudah tersaji di atas meja makan. Dista kembali ke kamarnya, untuk mengecek lagi barang-barang yang akan Daffa bawa. Memastikan tidak ada yang terlewatkan.


Setelah yakin semuanya beres. Dista menuju ke kamar mandi. Ia membersihkan diri kemudian mengganti baju. Memoles sedikit wajah ayunya. Baru kemudian membangun kan suaminya.


"Mas Daffa bangun, sudah pagi!!" ucap Dista sambil menggoyang tubuh suaminya.


"Hemm..." Daffa masih enggan membuka matanya.


"Nanti telat mas, ini udah jam 5 pagi loh." Dista mengusap-usap punggung suaminya.


"Kenapa ya aku malas bangun pagi ini" Jawab Daffa seraya membuka matanya.


"Pengen peluk kamu aja sayang!" ucap Daffa manja sambil menarik pinggang istrinya.


"Mas Daffa,, " teriak Dista saat tubuhnya jatuh di atas tubuh suaminya.


"Hemmm.... sebentar saja. Belum puas peluk-peluk kamu."


"Nanti kamu telat mas, biasanya kamu paling on time orangnya. Kenapa sekarang jadi pemalas gini??" protes Dista sambil memencet hidung Daffa.


"Gara-gara kamu" balas Daffa.


"Kok gara-gara aku sih. Jadi aku bawa pengaruh buruk dong!" ucap Dista sambil manyun.


"Bukan gitu sayang, aku pengennya dimanja terus sama kamu!" ucap Daffa sambil mengelus pipi mulus istrinya.


"Ya udah sana mandi. Keburu siang ini.."


"Iya..iya.. bawel. " cup... Sebuah kecupan mendarat di bibir merah Dista. Sebelum akhirnya Daffa berlari menuju kamar mandi.


Dista tersenyum manis melihat kelakuan suaminya. Makin lama Dista merasa Daffa yang irit bicara dan cuek sudah lenyap ditelan bumi. Berganti sosok penyayang dan hangat, ditambah jahil dan usil. Tapi kadang romantis juga.


Dista segera membuka lemari dan mengambil baju yang akan dipakai Daffa. Kemeja, celana bahan dan jas dengan warna serasi ia letakkan di atas ranjang. Tak lupa sebuah dasi juga ia persiapkan. Kemudian ia duduk di tepi ranjang sambil menunggu Daffa selesai mandi.


Sepuluh menit kemudian Daffa keluar dari kamar mandi. Rambutnya yang basah menambah kadar ketampanan seorang Daffa Wiguna. Daffa mengusap rambutnya dengan handuk kecil yang ia pegang.


"Aku tunggu di meja makan ya mas!" ucap Dista dengan tersipu malu. Sungguh memalukan harus melihat Daffa berganti pakaian.


"Kenapa?? Disini aja, nanti bareng ke meja makannya. Bukannya sarapan sudah siap?" tanya Daffa.


"Iy...iya mas!" Semakin merona tuh pipi.


Dista mengalihkan pandangannya saat Daffa mengganti pakaiannya. Tak lama kemudian terdengar Daffa berdehem.


"Ehemmm... " Daffa melirik Dista yang masih memandang ke sembarang arah.


"Kenapa mas?"


"Pakai kan dasi nya." perintah Daffa.


"Manja banget, biasanya juga pakai sendiri." protes Dista.


"Nggak mau nih?" Daffa melirik istrinya.


"Iya..iya.. aku pasangin."


Usai sarapan Daffa berangkat menuju bandara bersama Beny asistennya. Mereka diantar oleh sopir kantor yang memang sudah ditugaskan pagi ini.


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam 50 menit. Akhirnya mereka mendarat di bandara I Gusti Ngurah Rai Denpasar. Seorang sopir telah menunggu kedatangan mereka. Dan segera menghampiri keduanya.


"Selamat pagi tuan. Apa kabar?" sapa seorang lelaki paruh baya, sambil mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Baik pak, pak Amir sendiri apa kabar?" jawab Daffa ramah kepada pak Amir yang tidak lain adalah orang kepercayaan keluarga Wiguna untuk mengurus Villa nya di Bali.


"Alhamdulillah sehat tuan. Kita langsung ke Villa atau kemana tuan?" tanya pak Amir.


"Kita ke restoran A pak. Saya harus menemui klien di sana." terang Daffa.


"Baik tuan!" jawab pak Amir kemudian mengambil koper Daffa dan membawanya.


Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di restoran yang di maksud.


"Selamat siang mbak, kami ada janji dengan pak Antoni. Apakah beliau sudah datang?" tanya Beny pada seorang pelayan restoran tersebut.


"Oh iya pak, dengan Bapak Daffa Wiguna?" tanya waiters tersebut.


"Iya."


"Mari saya antar, beliau sudah menunggu di privat room." ajak pelayanan itu sambil mengantar mereka ke ruang pak Antoni berada.


Saat pintu dibuka, tampak dua orang laki-laki tengah duduk sofa. Mereka tampak gagah dengan balutan jas mahal di tubuhnya.


"Selamat pagi pak Antoni" sapa Daffa.


"Selamat pagi pak Daffa. Senang bertemu dengan anda." balas pak Antoni.


"Maaf karena harus memajukan jadwal meeting kita. Saya harap semua akan berjalan dengan lancar." ucap pak Antoni.


"Tidak apa-apa pak. Justru saya senang, karena lebih cepat lebih baik. Dan proyek baru kita akan segera terwujud." jawab Daffa.


Akhirnya pertemuan mereka diakhiri dengan makan siang. Setelah itu Daffa menuju Villa keluarganya yang berada di Bali.


"Bapak dengar tuan Daffa sudah menikah ya?" tanya pak Amir saat dalam perjalanan menuju Villa.


"Iya pak." jawab Daffa singkat.


"Aku akan sibuk selama disini. Jadi kasian kalau bawa istri, yang ada dia bosan di villa terus." ujar Daffa.


"Benar juga tuan."


"Besok pagi pak Amir bisa antar kami ke area pantai Kuta?" tanya Daffa.


"Bisa tuan!" jawab pak Amir.


Empat puluh menit kemudian mereka sampai di sebuah villa mewah dengan gaya minimalis. Villa tiga lantai tersebut dikelilingi pemandangan yang sangat indah. Tempat yang sangat cocok untuk melepas penat.


"Kamu bisa istirahat Ben, Sampai jumpa saat makan malam." ucap Daffa.


"Baik pak!" jawab Beny kemudian berlalu menuju kamarnya. Tentunya Beny sudah hafal setiap inci villa ini.


Daffa pun segera menuju ke kamarnya. Membersihkan diri dan kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Bukannya tidur, Daffa mengambil gawai dan mencari kontak seseorang.


"Halo.." suara diseberang.


"Kangen!" ucap Daffa


"Mas Daffa lebay deh, belum juga sehari udah kangen aja!!" protes Dista.


"Emang kamu nggak kangen sayang?" tanya Daffa.


"Kangen juga sih hehee..."


"Kamu lagi ngapain mas?" tambah Dista.


"Lagi mikirin kamu." jawab Daffa asal.

__ADS_1


"Tuh kan, mulai gombalnya.." gerutu Dista.


"Beneran sayang, makanya ini nelpon." ujar Daffa santai. "Ini baru sampai villa, tadi langsung ketemu klien dulu."


"Oh.. kalau gitu mas Daffa istirahat dulu, pasti capek kan?"


"Tadi pengen nya gitu, tapi kangen kamu. Jadi pengen ngobrol dulu deh.." Daffa terkekeh.


"Sekarang udah terobati rindunya?" goda Dista.


"Sedikit hehe.. ya udah aku istirahat dulu nanti malam aku telepon lagi. Da.. sayang!!"


"Selamat beristirahat suamiku, daaa..."


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali asisten Beny sudah rapi. Ia turun mendapatkan kopi dan sarapan.


"Pagi tuan Beny.." sapa pak Amir.


"Pagi pak Amir, tolong suruh bibi untuk membuat kan saya kopi pak!"


"Baik tuan." Pak Amir menuju dapur.


Lima menit kemudian datang bi Ratna membawa secangkir kopi.


"Silahkan tuan" ucap bi Ratna.


"Terima kasih bi." jawab Beny.


"Apakah mau sarapan sekarang? Biar bibi siapin." tawar bi Ratna.


"Nanti saja, nunggu pak Daffa."


"Baik tuan, saya permisi." pamit Ratna.


"Iya."


Tak berapa lama muncul Daffa.


"Selamat pagi pak!" sapa Beny.


"Pagi Ben!" jawab Daffa. Mereka pun menikmati secangkir kopi dan sarapan bersama setelah bi Ratna menyiapkannya.


Usai sarapan mereka berangkat menuju lokasi proyek. Hari ini Daffa akan meninjau proses pembangunan sebuah hotel baru. Yang letaknya di sekitaran pantai Kuta.


Hampir dua jam Daffa dan Beny berkeliling lokasi proyek. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali.


"Kamu bisa jalan-jalan di pantai sebenar Ben, meeting kita masih beberapa jam lagi." tawar Daffa.


"Kamu bisa cari bule, biar nggak jomblo terus" tambah Daffa. Beny hanya tersenyum menanggapi sindiran bosnya.


"Kita mampir ke cafe itu sebentar pak, kopinya enak."Beny mengalihkan pembicaraan.


"Ok."


Saat mereka masuk ke dalam cafe. Brukk...


Daffa tak sengaja menabrak tubuh seseorang.


"Maaf..maaf, saya tidak sengaja" ucap wanita muda tersebut.


"Fany?" Ucap Daffa saat menyadari siapa yang ia tabrak.


"Daffa..."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2