
"Kita harus bicara mas..." mohon Dista.
"Tidak ada yang harus dibicarakan lagi. Semua sudah jelas!" bantah Daffa.
"Mas, berikan aku satu kesempatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Aku mohon mas!" Dista berusaha meraih tangan Daffa. Tapi Daffa menepisnya.
"Menyingkir dari hadapan ku!" bentak Daffa kemudian masuk ke dalam mobilnya. Sedan mewah itupun melaju. Dista berusaha mengejar.
"Mas... mas Daffa." teriak Dista dengan air mata membasahi pipinya.
Beberapa karyawan yang berada di area parkir memperhatikan apa yang terjadi dengan bos dan juga istrinya. Mereka mulai berbisik bisik membicarakannya. Dista menyeka air matanya dan segera meninggalkan area parkir tersebut.
Saat hendak mencari taksi, sebuah mobil berhenti. Sang pengemudi menurunkan kaca. Dista mengenali mobil tersebut.
"Dis, mau kemana? Aku antar ya?" tawar seorang pemuda yang tak lain adalah Ramon.
"Nggak usah, terima kasih Ram." Dista menolak secara halus.
"Tapi Dis..." kalimat Ramon terpotong saat ada seseorang yang memanggil Dista.
"Dis ..." teriak Ana yang kemudian menghampiri Dista.
"Hai An, kamu juga mau pulang?" tanya Dista.
"Iya, kita pulang bareng ya!!" ajak Ana.
"Eh, itu siapa?" Ana memperhatikan pemuda yang berada di dalam mobil.
"Oh, ini Ramon teman SMP ku dulu. Ram, kenalkan ini Ana sahabat ku!" ucap Dista memperkenalkan mereka berdua.
"Hai An, salam kenal!" ucap Ramon.
"Hai Ramon, salam kenal juga!" Ana tersenyum manis melihat sosok tampan di balik kemudi.
"Gimana kalau aku antar kalian pulang?" tawar Ramon.
Ana menoleh pada Dista. Mereka bertukar pandang.
"Tentu saja!" jawab Ana dihadiahi pelototan oleh Dista. Ana menundukkan kepala dan menggigit bibir bawahnya.
"Nggak usah repot-repot Ram. Kami masih harus pergi ke suatu tempat." tolak Dista dengan sopan.
"Oh, begitu." jawab Ramon dengan raut wajah kecewa.
"Sepertinya Dista masih menjaga jarak dari ku." batin Ramon.
"Kalau begitu, aku duluan ya. Jika butuh bantuan ku, jangan sungkan ya." ucap Ramon kemudian melajukan mobilnya.
"Hufftt...." Dista menghembuskan nafas kasar.
"Kenapa ditolak sih, cowok sekeren itu!" Protes Ana yang belum mengalihkan pandangannya dari mobil Ramon yang mulai menjauh.
"Itu Ramon, yang juga dijebak bareng aku. Aku harus jaga jarak dari dia. Aku nggak mau makin memperkeruh suasana." Dista menjabarkan isi kepalanya.
"Ouhh... " Ana hanya ber-oh ria.
__ADS_1
"Kamu beruntung banget ya, dikelilingi sama cowok-cowok ganteng!" ujar Ana.
Dista menghela nafas. Bingung mengahadapi temanya ini, biasanya dia lebih pintar dari dirinya. Tapi kenapa jadi tiba-tiba bodoh, gara-gara ketemu cowok cakep.
"Ayo pulang!!" Dista menarik tangan Ana.
*****
"Ini mbak pesanannya!" suara Abang penjual martabak sambil menyodorkan dua box martabak manis di dalam kantong plastik.
"Oh, iya. Ini bang uangnya." Dista hendak menyodorkan selembar uang seratus ribuan. Tapi berhenti saat mendengar suara dari belakangnya.
"Biar aku saja yang bayar!!"
Ana dan Dista menoleh bersamaan. Ya, sepulangnya dari kantor Wiguna grup mereka berjalan-jalan sebentar. Kemudian mampir membeli martabak di perempatan dekat gang masuk ke tempat kost Ana.
"Eh, Ram... kok bisa ada di sini?" tanya Dista heran.
"Ya.. ini mau pulang, tapi tadi mama telepon minta dibelikan martabak. Jadi mampir kesini." jawab Ramon.
"Udah biar aku yang bayar." tambahnya lagi.
"Nggak usah repot-repot!" tolak Dista.
"Apanya yang repot sih?!"
"Kalau begitu, terima kasih ya. Kami balik dulu." pamit Dista.
"Dah.. Ramon!!" ucap Ana.
"Iya, hati-hati!" jawab Ramon.
********
"Habisin... biar nggak mubazir." ucap Ana sambil mengunyah martabak dengan toping keju kesukaannya.
"Dasar serakah!! Beli segini banyak cuma buat berdua. Awas gendut!!" seloroh Dista. Mereka tengah menikmati martabak di kost an Ana.
"Mana ada aku gendut. Yang ada kamu tuh, kurang gizi. Selama disini, apa pernah kamu makan dengan benar." omel Ana. Akhir-akhir ini memang nafsu makan Dista seperti lenyap entah kemana. Bobot tubuhnya juga turun beberapa kilo.
Melihat sahabatnya terdiam, Ana buru-buru mengalihkan pembicaraan.
"Eh, si Ramon cakep juga ya!" ucap Ana sambil nyengir kuda.
Dista mengernyitkan keningnya. Merasa heran dengan kelakuan Ana. Pasalnya, selama mereka berteman. Ana selalu bersikap dewasa, nggak centil juga. Kenapa sekarang tiba-tiba jadi ganjen begini.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Dista.
"Isshhh.... apaan sih!" Ana mendecak sebal.
"Habisnya, sejak kapan sih jadi ganjen gitu?"
"Bodoh amat!!" judes Ana.
"Jadi gimana tadi, ketemu sama pak Daffa?" tanya Ana penasaran.
__ADS_1
Dista hanya menggelengkan kepalanya. Kembali raut sendu menghiasi wajah cantiknya.
"Dia nggak mau ketemu sama aku." Dista menghembuskan nafasnya. "Gimana aku bisa menjelaskan semuanya, kalau mas Daffa aja nggak mau ngasih aku kesempatan." keluh Dista.
"Kamu yang sabar ya!!" Ana mengusap punggung sahabatnya itu.
******
Sementara di apartemen Daffa.
Daffa menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia meraih minuman kaleng yang tadi ia ambil dari kulkas. Meneguk setengahnya. Pikirannya masih berputar pada pertemuannya dengan Dista sore tadi.
Debaran jantung yang berpacu lebih cepat masih ia rasakan saat berhadapan dengan istrinya itu. Pancaran cinta dari mata Dista seakan meremas jantungnya.
Ingin sekali Daffa menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Memeluknya dengan erat dan tak akan melepaskannya. Tapi sakit yang ia rasakan menghalangi dalam dadanya, seakan mencegah tangannya untuk terulur.
Masih teringat jelas, saat ia dapati sang istri terlelap di sebelah pria lain. Bahkan luka hatinya masih terasa sangat sakit sama seperti pagi itu.
Daffa mengusap kasar wajahnya. Mencoba menghilangkan pikiran yang semakin membuat sesak dadanya.
Drrtt...drrtt ..
Ponselnya bergetar di atas meja. Diliriknya sekilas, nama Fany yang memanggil. Daffa malas untuk berbicara dengan siapapun. Jadi ia abaikan panggilan tersebut. Sampai panggilan ketiga, akhirnya ia angkat.
"Halo, ada apa Fan?" tanya Daffa dengan nada datar.
"Halo Fa, maaf kalau ganggu istirahat kamu." ucap Fany.
"Langsung saja!"
"Emm... maaf kalau yang mau aku tanyakan ini emm.. masalah pribadi. Maaf juga kalau aku lancang.."
"Nggak usah bertele-tele." potong Daffa.
Fany bergidik mendengarnya. "Itu, apakah kamu dan istri mu baik-baik saja?"
"Apa maksud mu?" hardik Daffa.
"Sekali lagi aku minta maaf Fa, tapi aku sering banget lihat istri kamu jalan sama cowok. Aku nggak tahu sih, itu siapa? apa mungkin saudaranya?" Fany menjeda ucapannya.
"Oh ya, tadi aku juga lihat dia sama cowok itu. Dan aku sempat foto juga. Aku kirim ke kamu ya!"
"Mana?" Daffa mulai penasaran dengan informasi dari Fany.
"Oke... aku kirim sekarang." Fany kemudian menutup sambungan telepon.
Ting... notifikasi pesan Daffa terima.
Dengan cepat Daffa membuka foto tersebut. Dan betapa terkejutnya saat ia lihat laki-laki itu adalah Ramon.
Daffa segera menghubungi Fany. Tak butuh waktu lama, Fany menjawab panggilan Daffa.
"Kapan kamu lihat mereka jalan bareng?" cecar Daffa.
"Beberapa kali sih, tapi aku nggak sempat ambil foto mereka. Karena awalnya aku nggak curiga. Tapi karena sering lihat mereka jalan bareng, aku jadi penasaran apakah dia saudara kalian?" Ucap Fany masih mempertahankan aktingnya. Padahal dalam hati sudah bersorak, karena sepertinya Daffa mulai terpancing.
__ADS_1
"Oke, makasih infonya." Daffa menutup sepihak sambungan telepon mereka.
Bersambung.....