
Dista keluar dari kamar mandi dengan jubah mandinya. Daffa membuka mata saat sang istri membuka lemari pakaian.
"Sayang, habis mandi ya?" tanya Daffa dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Iya mas, kamu nggak mau bangun terus mandi. Sudah sore loh!" ujar Dista.
Daffa beranjak dari tempat tidur. Memeluk tubuh sang istri dari belakang.
"Kamu sudah nggak ngambek lagi?" ucap Daffa lirih.
"Emang siapa yang ngambek?" ketus Dista.
"Dari semalam sikap kamu beda. Jutek dan cuek sama suami mu yang ganteng ini." protes Daffa.
"Mas Daffa terlalu sensitif!" tukas Dista.
"Jadi benar kamu nggak marah? Dan aku nggak melakukan kesalahan apa-apa kan?" cecar Daffa lagi.
"Ih, bawel!! sana mandi, bau tuh." Dista mendorong tubuh Daffa agar menjauh.
Daffa tersenyum melihat istrinya kembali seperti biasa. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Yang penting istri kecilnya itu tidak judes lagi.
"Oke, aku mandi. Tapi kamu jangan keluar kamar dulu ya?" pinta Daffa.
"Emang kenapa?" tanya Dista, tapi tak mendapat jawaban dari Daffa. Karena lelaki itu segera berlari ke kamar mandi.
Dista menghela nafas. "Semoga ini hanya kekhawatiran ku saja mas. Semoga bukan sebuah awal yang buruk. Dan semoga saja kecurigaan ku ini tidaklah benar." batin Dista.
Kembali ia memilih baju untuk ia kenakan. Memang di kamar ini masih tersimpan baju-baju Daffa, dan beberapa baju Dista yang mama Ratih persiapkan.
Baru saja Dista selesai memakai baju, dan hendak memoles bibirnya dengan lipstik. Pintu kamar mandi terbuka. Daffa keluar, dengan wajah yang lebih segar.
Tanpa aba-aba Daffa menarik sang istri hingga keduanya jatuh ke atas ranjang.
"Mas Daffa apa-apaan sih!" kesal Dista.
"Kenapa buru-buru pakai baju?" protes Daffa.
"Emang kenapa? mau aku masuk angin?" oceh perempuan itu.
"Minta ganti jatah yang semalam. Semalam kamu malah tidur cepat, membiarkan adik kecil kedinginan."
"Mas...." Dista melotot, gemes dengan suaminya. Hanya libur semalam saja sudah kebakaran jenggot.
Dista hanya pasrah dengan kelakuan suaminya. Daffa sangat mendominasi. Meskipun hanya satu ronde, tapi berdurasi cukup panjang. Hingga keduanya terengah-engah dan terkulai lemas.
"Mas Daffa, nyebelin! Aku kan mau bantuin mama masak makan malam. Kalau begini, mana bisa aku bantu mama. Pasti makan malam sudah siap." omel Dista.
__ADS_1
"Mama nggak butuh bantuan kamu. Banyak pelayan di sini. Tugas kamu cuma menemani suami mu tercinta." goda Daffa sambil menaik turunkan alisnya.
"Bodoh amat!" Dista kemudian berlari ke kamar mandi.
Di ruang keluarga. Tampak Wiguna dan Ratih tengah berbincang santai. Sesekali terdengar tawa keduanya.
"Malam ma, pa...!" sapa Dista.
"Malam sayang." jawab mama Ratih.
"Malam Dis. Baru turun jam segini. Padahal papa sengaja pulang cepat, pengen ngobrol sama kalian. Eh, malah asyik di dalam kamar." goda Wiguna.
"Maaf pa, Dista nggak tahu kalau papa pulang cepat." ujar Dista dengan wajah bersemu merah. "Gara-gara mas Daffa, aku jadi malu begini." gerutu Dista dalam hati.
"Papa kayak nggak pernah muda saja." celetuk Daffa yang sudah berdiri di belakang Dista.
"Ayo duduk sini sayang. Nggak usah dengerin omongan papa." ajak Ratih sambil tertawa melihat menantunya salah tingkah.
"Maaf ma, Dista nggak bantuin mama masak. Pasti mama capek menyiapkan makan malam sendiri." sesal Dista yang sudah duduk di samping mama mertuanya.
"Siapa bilang mama capek. Banyak pelayan yang bantu di dapur." elak Ratih.
"Kalian nginap kan?" tanya Wiguna.
"Iya pa" jawab Daffa sambil melirik istrinya. Dista tersenyum senang.
"Mungkin makan malam di luar, sekalian melepas rindu sama Karin." jawab Ratih dengan seulas senyum.
Mereka menikmati makan malam bersama dengan hangat. Kehangatan keluarga yang membuat Dista nyaman. Dan merasakan kembali kebahagiaan di tengah-tengah keluarga.
Dista berusaha menepis semua kecurigaan terhadap Daffa. "Entah mas Daffa atau perempuan itu yang berbohong. Aku harus lebih mempercayai suamiku. Aku tidak mau rumah tangga yang baru aku jalani kandas karena tidak ada kepercayaan." Batin Dista.
"Kalau memang mas Daffa ada hubungan dengan mantan kekasihnya. Apa mungkin sudah sejauh itu, Hinga perempuan itu membeli pil kontrasepsi. Aarrggghh.... positif thinking Dista." perintah Dista pada otak nya.
Meski masih ada keraguan dan kecurigaan di hatinya. Tapi senyum Daffa selalu membuat dirinya jatuh cinta lagi dan lagi. Senyum itu bagai matahari yang menyinari hati Dista yang dingin. Menghangatkan.
Perusahaan Wiguna grup.
"Selamat pagi pak Daffa. Maaf, tadi saya tidak bisa menjemput Bapak." sapa Beny dengan menyesal.
"Tidak apa-apa Ben, banyak pekerjaan yang harus kamu tangani pagi ini." timpal Daffa.
"Pak, kita berhasil mendapatkan 2 proyek sekaligus. Kedua proyek ini cukup besar dan menjanjikan. Tapi waktu pengerjaannya juga bersamaan. Jadi butuh tenaga dan modal ekstra." tutur Beny.
"Sepertinya bidang konstruksi akhir-akhir ini sedang bagus. Banyak tender yang kita dapatkan. Bagaimana dengan bidang lain?" tanya Daffa.
"Anak perusahaan di bidang keuangan cukup stabil dan menjanjikan. Untuk otomotif, sepertinya tidak terlalu ada kemajuan." papar Beny.
__ADS_1
"Oke, kita fokus pada proyek baru. Kita harus memberikan kepuasan kepada rekan bisnis kita." ujar Daffa.
Daffa semakin sibuk dan sering lembur. Berangkat pagi sekali dan pulang larut malam. Dista mencoba mengerti keadaan suaminya. Untunglah Karin masih berada di Jakarta, jadi ia bisa mengalihkan kebosanannya.
Dengan kepribadian Karin yang supel dan menyenangkan, membuat Dista mudah akrab. Siang ini mereka janjian makan siang di luar.
"Mau pesan apa?" tanya Karin saat mereka sudah berada di sebuah restoran.
"Terserah mbak Karin saja. Makanan apapun aku suka." jawab Dista sambil terkekeh.
"Oke, aku yang pesan ya!" Karin melambaikan tangan kepada pelayanan. Dan memesan beberapa makanan dan minuman untuk mereka berdua.
"Kapan mbak Karin balik ke Singapura?" tanya Dista.
"Harusnya besok aku balik. Tapi Daffy masih nahan aku di sini. Mungkin dua atau tiga hari lagi." jawab Karin.
"Dis, gimana rasanya menikah? Kelihatannya kamu bahagia banget?" tanya Karin penasaran.
Dista tertawa mendengar pernyataan Karin.
"Mbak Karin nikah aja biar tahu rasanya." goda Dista.
"Pengennya sih gitu. Tapi banyak hal yang harus dipertimbangkan." jawab Karin lemah.
"Bukannya mbak Karin dan Mas Daffy saling mencintai, sudah cukup umur dan sudah mapan juga. Bahkan orang tua juga sudah memberi restu. Lalu apa lagi masalahnya?" cecar Dista.
"Masalahnya Aku nggak mau pindah ke Jakarta, karena karir ku di sana bagus. Dan Daffy juga nggak mau menetap di Singapura, karena katanya nggak punya kerjaan di sana." jawab Karin.
"Ya ampun mbak, ribet ya masalah orang sukses!" Dista terkekeh. "Kalau menurut aku sih, kalian bicarakan dengan baik-baik. Apa nggak sayang hubungan yang sudah terjalin bertahun-tahun nggak berlabuh di pelaminan?"
"Aku pengennya Daffy yang ikut aku tinggal di Singapura." ujar Karin.
"Bukannya istri yang harus mengikuti kemana pun suaminya pergi. Lagi pula tugas suami menafkahi istri. Bukan sebaliknya." timpal Dista.
"Maksud kamu aku harus melepaskan mimpi yang sudah ada di genggaman?" Kesal Karin.
"Bukan begitu maksud ku. Tapi.. " Dista menjeda ucapannya.
"Namanya hidup pasti dihadapkan dengan pilihan. Dan kebahagiaan butuh pengorbanan." tutur Dista seakan menggurui, tapi dengan gaya polosnya.
"Ih, kamu bocah kemarin sore bisa ngomong bijak begitu." Karin menertawakan ke sok Tahuan Dista.
"Ternyata Mbak Karin orangnya asyik ya. Dulu aku pikir, mbak itu orangnya jarang ngomong dan selalu menjaga image." ujar Dista.
"Nggak juga, aku orangnya apa adanya. Nggak pernah sok anggun dan sok cantik. Emang udah cantik dari lahir." mereka pun tertawa bersama.
Dan pesanan pun datang. Mereka menikmati makan siang dengan akrab layaknya teman lama.
__ADS_1
Bersambung...