Perjanjian Cinta Ladista

Perjanjian Cinta Ladista
16. Nyaman dengan keberadaan mu


__ADS_3

Setelah rapi Daffa keluar menuju meja makan. Dilihatnya Dista sudah menunggu.


"Ayo sarapan mas!" ajak Dista, meskipun sebenarnya dia masih canggung dan malu karena kejadian tadi pagi.


"Kamu masak apa?" tanya Daffa santai.


"omlet sama tumis kangkung mas!"


Dista membantu suami nya untuk mengambil nasi sayur dan omlet. Kemudian mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


"Selamat makan" ucap Daffa.


"Selamat makan, semoga masakannya cocok di lidah mas Daffa." Ucap Dista sambil tersenyum penuh harap.


"Enak kok, kamu makin pintar masak ya!" puji Daffa.


"Aku senang kalau mas Daffa suka." Dista tersipu. "Aku akan belajar masak banyak menu yang lain nanti, biar mas Daffa makin senang makan di rumah." ucap Dista antusias.


Daffa menyelesaikan sarapannya. Ia terus memandangi Dista yang masih mengunyah makanannya.


"Mas Daffa sudah selesai?" tanya Dista merasa tak enak hati.


"Nggak apa-apa, kamu lanjutin aja makannya !" Jawab Daffa santai.


Dista pun menyelesaikan sarapannya. Saat hendak membereskan meja makan, tiba-tiba Daffa menarik tangannya.


"Kenapa mas?" tanya Dista heran.


"Aku mau ngomong penting!"


"Ngomong apa? serius amat?!" goda Dista yang mulai penasaran.


"Hemm... aku mulai merasa nyaman dengan keberadaan kamu. Dan aku pengen kita mulai semuanya dari awal. Kita lupakan perjanjian yang pernah kita buat dulu." ucap Daffa pasti.


Dista hanya bisa bengong. Mulutnya menganga, mencoba mencerna kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Daffa.


Baru beberapa hari Daffa bersikap baik. Tapi hari ini kata-kata manis yang sungguh sangat diharapkan oleh Dista terucap. Entah mimpi apa ia semalam. Hingga pagi-pagi dapat durian runtuh.


"Dis...!" Daffa mengguncang tubuh Dista.


"Eh.. kenapa mas?!" Dista semakin salah tingkah.


"Gimana??"


Dista menggigit bibir bawahnya. Pikirnya berkelana entah kemana.


"Dis.. hey.." Daffa menggoyang-goyangkan tangan di depan mata istrinya.


"Eh, iya mas. Maaf aku nggak nyangka mas Daffa bakal ngomong gini." ucap Dista dengan menundukkan kepalanya.


"Aku mau mas, aku mau mulai semua dari awal." tambahnya lagi.

__ADS_1


"Makasih." ucap Daffa sambil mengecup keningnya Dista.


"Iya mas, kita belajar membina rumah tangga yang bahagia." ucap Dista dengan tersipu malu.


"Mas Daffa mau berangkat sekarang? Biar aku antar sampai depan pintu!"


Tapi Daffa malah semakin mendekat. Mengikis jarak diantara keduanya. Daffa memegang dagu Dista.


"Boleh??" tanya Daffa dengan mata sayu.


Dista mengangguk tanpa bersuara. Dipejamkan matanya. Hingga... cup. Sebuah kecupan mendarat di bibir mungil Dista. Awalnya hanya kecupan, lama-lama semakin dalam. Semakin menuntut.


Dista diam tanpa membalas ciuman Daffa. Bukannya tidak mau, tapi ia sama sekali tidak tahu apa-apa. Ini adalah ciuman pertamanya.


Daffa terus melancarkan aksinya, melu-mat bibir bawah Dista. Berganti bibir atasnya. Daffa melakukan nya dengan lembut. Menyesap madu yang terasa manis di sana.


Dista hanya menutup mata dan menahan nafas nya. Lama-lama ia mulai kehabisan nafas. Dista memukul pelan dada suaminya. Daffa pun melepaskan pautan bibirnya.


Nafas Dista tersengal-sengal, ia mencoba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Dan perlahan mengatur nafasnya.


"Terima kasih." ucap Daffa sambil mengusap bibir mungil Dista.


Dista semakin salah tingkah. Tapi dalam hati nya sungguh berbunga-bunga.


"Mas Daffa... kamu mengambil ciuman pertama ku!" rengek Dista dengan menundukkan kepalanya.


"Aku tahu, tapi kamu juga menikmati nya kan?" goda Daffa.


"Tentu saja aku tahu. Kamu begitu payah!!"


"Mas Daffa..." teriak Dista kesal.


Daffa tertawa melihat kelucuan istrinya.


"Aku berangkat dulu." Daffa mengulurkan tangannya. Setelah Dista menyambut dan mengecup punggung tangan suaminya. Tanpa sungkan Daffa kembali mengecup bibir kenyal istrinya itu.


"Ih.. udah berangkat sana. Nanti telat,,!" ucap Dista sambil mendorong tubuh Daffa.


"Sekali-sekali telat juga nggak apa-apa. Aku kan bosnya hehe..." Daffa terkekeh.


Siang ini Dista akan mengunjungi kediaman mertuanya sebelum mengantar makan siang Daffa.


Sebenarnya Dista sudah minta izin Daffa untuk tidak datang ke kantornya siang ini. Karena dia masih sangat malu akan kejadian pagi tadi. Tapi sayangnya Daffa menolak permintaan istrinya itu. Daffa sudah terbiasa makan masakan istrinya tersebut. Meskipun rasanya tak seenak makanan restoran langganannya. Tapi tepat saja Daffa lebih menyukai masakan Dista.


"Assalamualaikum" ucap Dista saat sampai di depan pintu rumah keluarga Wiguna.


"Waallaikum salam" terdengar jawaban dari dalam. Seorang asisten rumah tangga membuka pintu untuk Dista.


"Eh, non Dista. Silahkan masuk non. Itu ibu sudah nunggu di dekat kolam renang." wanita paruh baya itu mempersilahkan Dista.


"Iya, makasih bik!" jawab Dista.

__ADS_1


Dista menuju teras belakang. Tampak Ratih Tengah duduk sambil menikmati secangkir teh.


"Assalamualaikum ma!" sapa Dista.


"Waallaikum salam sayang. Kamu udah sampai." Ratih berdiri menyambut menantunya itu. Mereka berpelukan.


"Iya ma. Ini aku tadi iseng bikin brownies. Semoga rasanya nggak mengecewakan ya ma." Dista tersenyum malu-malu.


"Wah udah bisa bikin kue nih menantu kesayangan mama!" goda Ratih.


"Aku sering nyoba resep masakan yang aku lihat di YouTube ma. Aku pengen pintar masak seperti mama."


"Kamu bisa aja. Nanti kalau sudah terbiasa, lama-lama juga pintar masak seperti mama." jawab Ratih.


"Sini biar bibi aja yang siapin." sambung Ratih lagi.


"Nggak usah ma, biar Dista aja yang nyiapin." Dista pergi ke dapur untuk mengambil piring, memotong brownies buatannya. Dan menatanya di atas piring. Dista kembali ke belakang menghampiri mertuanya.


"Ayo cobain ma." Dista menyodorkan sepiring brownies buatannya.


"Kelihatannya enak nih," Ratih mengambil sepotong kue dan menggigitnya.


"Hemm.. enak loh!" ucap Ratih.


"Alhamdulillah kalau memang enak." Dista tersenyum senang.


"Terus gimana perkembangan hubungan kamu sama Daffa? Sudah ada kemajuan??"


"Justru itu ma, aku datang ke sini buat cerita ke mama." mulut Dista udah gatel pengen cerita.


"Emang ada apa sayang?" Ratih penasaran.


"Tadi pagi mas Daffa bilang kalau mau memulai semua dari awal. Katanya dia mulai nyaman dengan keberadaan aku ma." Dista bercerita dengan antusias.


"Wah bagus dong. Terus gimana?"


"Ya aku setuju aja." jawab Dista sambil nyengir.


"Terus apa lagi?"


"Apanya sih ma?" Dista bingung dengan pertanyaan mertuanya.


"Ya kelanjutannya. Masak ngomong gitu doang??" Ratih penasaran.


"Habis gitu mas Daffa pergi ke kantor." jawab Dista enteng.


"Ih.. Dista. Mama nanya serius nih. Apa nggak terjadi sesuatu?" sambil Ratih memeragakan sepasang burung dengan tangan nya.


"Mama apaan sih." Pipi Dista merah merona. Sungguh memalukan pertanyaan mamanya ini. "Kenapa tebakan mama pas banget sih, kan jadi malu." batin Dista.


"Mama cuma nanya, kenapa kamu salah tingkah??" mama Ratih terkekeh.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2