
"Sayang, apa kabar? Tante kangen banget sama kamu!" ujar Mama Ratih saat Daffy dan Karin tiba di rumah.
"Alhamdulillah Karin baik, Tante. Gimana dengan kabar Tante?" tanya Karin basa basi.
"Tante juga baik-baik saja. Oh ya, kenapa baru datang sekarang? Bukannya seminggu yang lalu, Daffy pamit buat jemput kamu? Tapi malah pulang sendirian!" tanya Mama Ratih.
"Iya, maafin Karin ya Tante. Seharusnya Karin berkunjung kesini Minggu lalu, tapi karena ada pekerjaan mendesak yang nggak bisa Karin tinggalkan jadi harus menundanya." sesal Karin.
"Ya nggak apa-apa. Kita langsung ke ruang makan saja, sambil nunggu Dista. Mungkin sebentar lagi dia sampai. Tadi katanya sudah di jalan." Ratih menggandeng calon menantunya itu menuju ruang makan.
Tak berapa lama Dista pun datang.
"Assalamualaikum ma!" ucap Dista. Kemudian menuju Ratih dan mengecup punggung tangan mertuanya tersebut.
"Eh, ada Mbk Karin dan mas Daffy. Sudah lama ya?" tanya Dista.
"Baru sampai kok! Kamu apa kabar?" timpal Karin sambil memeluk Dista dan mencium pipi kiri dan kanannya.
"Alhamdulillah baik Mbak. Mbak Karin makin cantik saja. Oh ya, terima kasih untuk hadiahnya tempo hari. Aku suka banget dengan gaunnya." ucap Dista dengan tulus.
"Kak Daffa nggak ikut?" tanya Daffy yang tidak melihat keberadaan Daffa.
"Mas Daffa ada meeting siang ini, jadi nggak bisa ikut." jawab Dista.
"Kita mulai makan siangnya! Nanti keburu dingin." ajak Mama Ratih.
"Maaf ya ma, Dista nggak bantuin mama masak tadi." sesal Dista.
"Nggak apa-apa sayang!"
Mereka menikmati makan siang bertiga dengan suasana hangat. Sambil bercerita kegiatan masing-masing dengan segala keseruannya.
Di perusahaan Wiguna grup.
"Akhir-akhir ini kamu sering tugas keluar untuk menangani masalah perusahaan. Aku jadi lebih sering menghadiri meeting dengan Fany. Sebenarnya aku merasa tidak nyaman, apalagi aku janji pada Dista untuk tidak terlalu sering bertemu dengannya." Daffa menghela napas. Mereka baru saja selesai rapat dan kembali ke ruangan Daffa.
"Apa lagi Dista kurang suka Fany menjadi sekretaris ku. Aku jadi merasa bersalah." keluh Daffa.
"Maafkan saya pak, kalau waktu itu mengusulkan Fany menjadi sekretaris Bapak!" ucap Beny.
"Tidak apa-apa, bukan salah kamu juga!" jawab Daffa.
Tok...tok..
"Masuk!" kata Daffa.
Tampak Fany membuka pintu, kemudian masuk membawa kantung kresek.
"Makan siang Anda sudah datang pak!" ujar Fany.
"Taruh di atas meja saja!" jawab Daffa.
__ADS_1
"Apa perlu saya pindahkan ke piring pak?" tanya Fany lagi.
"Tidak usah, kamu bisa kembali ke ruangan mu." jawab Daffa datar.
"Baik pak, saya permisi." jawab Fany dengan kesal.
Fany keluar sambil menggerutu. "Susah sekali mendapat perhatian Daffa, berbagai cara sudah aku lakukan tapi tetap saja sikapnya acuh pada ku."
"Aku harus memutar otak bagaimana caranya agar Daffa melihat keberadaan ku! Daffa masih tetap kaku dan cuek pada orang lain, meskipun aku mantan kekasihnya."
Ceklek. Pintu terbuka, tampak Beny keluar dari ruangan Daffa.
"Selamat siang pak Beny!" sapa Fany.
"Siang." Beny pergi ke ruangannya yang berada di sebelah ruangan Daffa.
"Semoga asisten Beny tidak mendengar ucapan ku barusan. Huh..." ujar Fany.
Usai makan siang, Daffa meninjau proyek bersama asisten Beny.
"Ben, antar aku pulang. Aku tidak kembali ke kantor." perintah Daffa begitu mereka selesai meninjau proyek yang sedang berjalan.
"Baik pak!" jawab Beny. Beny segera melajukan kendaraan yang mereka tumpangi menuju ke apartemen Daffa.
"Kenapa semalam Dista tampak aneh. Lebih banyak diam dan tidak cerewet seperti biasanya." Batin Daffa.
Daffa mengambil ponsel dari saku jasnya. Mencari kontak dengan nama 'my wife'. Ia menekan tombol dial saat menemukan nama tersebut.
Tut.. Tut..Cukup lama Dista tak menjawab telepon dari sang suami. Hingga panggilan ketiga, baru terdengar suara seksi sang istri.
"Waallaikum salam. Kamu dimana?" tanya Daffa.
"Aku masih di rumah mama. Kenapa mas?" tanya Dista, tapi nada suaranya tak seperti biasa.
"Oh, ya sudah aku susul ke sana." jawab Daffa.
"Mas Daffa nggak sibuk?" tanya Dista.
"Lagi pengen ketemu kamu saja. Makanya pulang cepat." ucap Daffa. Tapi kata-kata Daffa kali ini tak membuat Dista merona seperti biasanya. Masih terngiang di ingatannya, kata-kata Fany kemarin.
"Iya, aku tunggu. Assalamualaikum." timpal Dista kemudian menutup sambungan telepon.
Daffa makin bingung. Biasanya saat ia mengucapkan kata-kata manis atau rayuan, istrinya itu pasti merespon dengan manja dan malu-malu. Tapi kali ini berbeda.
Tiga puluh menit kemudian, Daffa sampai di kediaman keluarga Wiguna. Ia mengedarkan pandangan mencari keberadaan sang istri.
"Bi, Dista ada dimana?" tanya Daffa pada salah satu pelayan di rumah itu. Daffa tak menemukan keberadaan Dista di ruang tamu maupun ruang keluarga.
"Di taman belakang mas, sedang ngobrol sama nyonya dan non Karin." jawab Pelayan tersebut.
"Makasih Bi!" ucap Daffa. Kemudian melangkah menuju taman belakang.
__ADS_1
"Daffa, kamu kemari. Mau jemput Dista?" tanya Mama Ratih. "Tapi mama masih kangen sama mantu mama!"
"Nggak kok ma, kalian bisa ngobrol sepuasnya. Aku tadi meninjau proyek, tapi males balik ke kantor. Jadi nyusul ke sini." jawab Daffa.
"Mas Daffa apa kabar?" sapa Karin.
"Baik, kamu sendiri gimana?" timpal Daffa.
"Aku juga baik."
"Daffy nggak ada di sini?" tanya Daffa yang tak melihat keberadaan adiknya.
"Sudah kembali ke kantor." jawab Karin.
"Kapan mau meresmikan hubungan kalian?" celetuk Daffa.
"Hemm... masih dirundingkan. Hehe..." ujar Karin sambil tertawa.
"Mas Daffa sudah makan siang?" tanya Dista.
"Sudah tadi di kantor." jawab Daffa.
"Oh.." mimik wajah Dista langsung berubah. "Mungkin mas Daffa makan bekal dari Fany. Jadi benar, kalau mas Daffa suka masakan mantan pacarnya itu." Batin Dista.
"Kalian lanjut saja ngobrolnya. Aku mau istirahat di kamar." Daffa meninggalkan ketiga wanita tersebut.
Satu jam kemudian, Dista masuk ke kamar. Dilihatnya Daffa tidur memeluk guling dengan pakaian santai. Kaos dan celana pendek. Tampak sangat tampan.
Dista merebahkan tubuhnya di samping Daffa. Baru ia memejamkan mata, sebuah tangan menarik pinggangnya.
"Sayang..." bisik Daffa di telinga Dista.
"Mas Daffa belum tidur?" tanya Dista.
"Mana bisa tidur kalau nggak ada kamu?" gombal Daffa.
"Tadi katanya capek?"
"Sayang, ada masalah?" tanya Daffa. "Dari semalam, sikap kamu berubah."
"Nggak ada. Emang berubah gimana? Sepertinya biasa saja?" elak Daffa.
Daffa menghembuskan nafas kasar. "Aku bisa ngerasain, ada yang kamu sembunyikan dari aku!"
"Nggak ada apa-apa mas! Aku mau tidur dulu, bukannya kamu bilang aku nggak boleh kecapekan!" ketus Dista.
"Ya sudah, tapi biarkan aku peluk kamu seperti ini " pinta Daffa.
"Terserah." jawab Dista sedikit kasar.
Daffa mengerutkan keningnya. Tak pernah istrinya itu berkata ketus seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi. Ia harus bisa menemukan jawabannya.
__ADS_1
Dicuekin seperti ini sungguh sangat menyiksa. Saat istri merajuk, hidup seperti dikerubuti banyak semut. Sungguh tidak nyaman dan menyakitkan.
Bersambung....