Perjanjian Cinta Ladista

Perjanjian Cinta Ladista
Dinner


__ADS_3

Drrtt...drrtt....


Handphone di atas kasur itu tak henti hentinya bergetar. Tertulis nama mama Ratih yang memanggil. Sedangkan sang empunya masih berkutat di dapur menyelesaikan acara masak pagi ini.


Dua puluh menit kemudian Dista masuk ke kamarnya. Ia bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak berapa lama ia sudah keluar dari kamar mandi. Dengan handuk yang melilit di tubuhnya. Buru buru Dista memilih pakaian di dalam lemari, dan bergegas memakainya.


Setelah rapi dan sedikit memoleskan make up di wajahnya. Dista lalu menyambar hape di atas kasur. Untuk mengecek siapa tahu ada yang penting.


Dilihatnya ada 5 panggilan tak terjawab. Terpampang nama mama Ratih di sana. Segera Dista menelepon balik. Tak butuh waktu lama, diseberang terdengar suara seorang wanita.


"Halo sayang,, mama ganggu ya? "


"Enggak ma, maaf tadi Dista lagi masak. Gak tahu kalau mama nelpon, soalnya hape Dista ada di kamar."


"Iya gak apa-apa sayang. Mama cuma mau ngajak kamu belanja nanti siang. Bisa kan??" ajak Ratih.


"Emm... aku izin mas Daffa dulu ya ma!! nanti aku telpon mama lagi."


"Iya sayang. mama tunggu kabar dari kamu ya.."


Di ruang makan.


"Dis.. ayo sarapan." Daffa memanggil Dista sedikit berteriak.


"Iya mas.." yang dipanggil sudah mendekat ke arahnya.


"Tadi mama telepon, ngajakin aku belanja. Gimana mas, boleh kan??" Tanya Dista dengan tatapan memohon.


"Jadi nanti Siang kamu gak bawain makan siang ke kantor??"


"Emm... sepertinya begitu!" ucap Dista sambil nyengir kuda. " Sekali ini saja mas... boleh ya. Aku kan udah lama gak jalan sama mama." rengek Dista.


"Ya sudah." mereka pun melanjutkan sarapan dengan lahapnya.


Setelah Daffa berangkat ke kantor, Dista kembali menghubungi mertuanya.


"Halo ma..Dista udah dapat izin dari mas Daffa. Jadi mama jemput kan?"


"Iya sayang.. sebentar lagi mama jemput kamu ya."


Sungguh hari yang sangat melelahkan. Pasangan mertua dan menantu itu menghabiskan waktu hampir seharian bersama. Mulai dari nyalon bareng, belanja Alat make up, kebutuhan rumah hingga makan siang bareng.


Dista sangat menikmati momen dimanjakan oleh ibu mertuanya. Ia sungguh merasa sangat bahagia, mendapat limpahan kasih sayang dari mertua yang sudah menganggapnya seperti anak sendiri.


"Mama gak mampir dulu?" tanya Dista saat mereka sampai di parkiran apartemen.

__ADS_1


"Nggak usah sayang. Mama langsung pulang aja. Pengen cepat istirahat." jawab Ratih sambil mengecup ujung kepala Dista.


"Baiklah ma. Terima kasih untuk hari ini. Dista merasa sangat bahagia."


"Sama-sama sayang." Setelah Dista menutup pintu mobil, sopir segera melajukan mobil membelah jalanan ibu kota.


****


Ceklek...


Dista membuka pintu kamarnya. Segera ia merebahkan tubuhnya di atas kasur yang nyaman. Tak butuh waktu lama ia pun terlelap.


Drrtt...drrtt...


Dista mengerjakan matanya, meraba raba kasur mencoba mencari keberadaan hapenya.


"Halo...." suara serak Dista menyapa orang di seberang sana.


"Kamu udah di apartemen??" tanya suara di seberang.


"Hemm..." Dilihatnya layar ponsel. Ternyata nama Daffa yang tertera di sana. "Mas Daffa, iya aku udah di apartemen. Lagi tidur tiduran."


"Tidur tiduran apa tidur beneran. Kalau dari suaranya sih, sepertinya tidur beneran." tebak Daffa.


"Hihihi... jadi malu. Oh ya, mas Daffa ada perlu sama aku?? kenapa mas??"


Dista melompat kegirangan. kemudian duduk di atas ranjang dengan pipi yang merona.


"Iy..iya mas. aku mau!!"


"Ya sudah kamu istirahat lagi, " Tutt..Tutt... sambungan telepon terputus.


"Oh my God. ini bukan mimpi kan... aaaa... sungguh hari yang istimewa."


Selesai sholat Maghrib, Dista mulai memilih baju mana yang akan ia pakai. Kebetulan tadi mama Ratih juga membelikan Beberapa baju untuknya.


"Hemm pakai yang mana ya? Aku deg degan banget. Seumur hidup baru kali ini aku mau kencan dengan seorang pria."


Entah berapa baju yang berserakan di atas kasur. Dari isi lemari hingga baju yang baru ia beli pun sudah dicobanya. Tapi masih saja merasa tidak ada yang cocok.


Akhirnya ia memutuskan untuk memakai dress selutut berwarna navy. Terlihat sangat pas dengan warna kulit Dista yang putih mulus.


Ia memoles wajahnya dengan make up tipis, semakin menambah aura kecantikannya.


Tak berapa lama kemudian suara pintu dibuka.

__ADS_1


"Mas Daffa sudah pulang? Mau mandi dulu mas?? biar aku siapkan air hangat." tanya Dista dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Aku sudah mandi tadi di kantor. Ayo berangkat, sepertinya kamu juga sudah siap."


"Baik mas, aku ambil tas dulu."


Mereka menuju sebuah cafe yang terletak tidak terlalu jauh dari apartemen mereka. Suasana cafe sangat romantis dengan alunan live musik yang disuguhkan oleh pengelola cafe. Lampu temaram semakin menambah kesan hangat nan romantis.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Daffa saat mereka telah mendapatkan tempat duduk.


"Terserah mas Daffa aja, aku mana ngerti makanan mahal." Jawab Dista polos sambil nyengir.


Kepolosan Dista sukses membuat Daffa menyunggingkan senyum di bibir seksinya.


"Ya udah aku yang pesan." setelah memesan beberapa menu makanan dan minuman, mereka menikmati alunan lagu yang merdu.


"Dis, kamu kelihatannya akrab banget sama mama. Seperti ibu dan anak saja, bukan lagi mertua."


"hehe... kan emang mama orangnya baik mas, jadi aku cepat akrab." jawab Dista sekenanya.


"Kamu kenapa gak lanjut kuliah??"


"Kuliah??" tampak segurat kekecewaan di wajah cantik Dista. "Mas Daffa kan tahu sendiri keadaannya. Gak mungkin kan aku melanjutkan pendidikan ku."


"Kalau tahun depan kamu kuliah gimana?"


"Maksud mas Daffa? aku boleh kuliah?" terpancar kebahagiaan di mata Dista. "Tapi aku gak ada uang buat bayar kuliah." matanya kembali meredup.


"Aku yang tanggung semua biaya kuliah kamu. Kamu tinggal belajar dengan benar."


"Tapi..." seorang pelayan datang membawa pesanan mereka.


"Makasih mbak!" ucap Dista.


"Tapi apa??" Daffa penasaran dengan kelanjutan ucapan Dista.


"Tapi.. 5 bulan lagi kita berpisah mas, lalu bagaimana dengan kelanjutan biaya kuliah ku?"


"Kita pikirkan lagi nanti, lagi pula tahun ajaran baru dimulai 5 bulan lagi kan??"


"Iya.." banyak hal yang memenuhi pikiran Dista. Selama ini ia telah mengubur impian dan cita-cita nya. Tapi saat Daffa menawarkan diri untuk membiayai kuliahnya, Dista merasa dorongan untuk meraih kesuksesan datang kembali.


Kalau kesempatan itu benar-benar datang padanya. Tantu saja tak kan ia sia-sia kan. Apalagi sekarang ini ia hidup sebatang kara, tanpa pendidikan yang baik. Bahkan ia hanya bergantung pada suami kontraknya. Yang bisa membuangnya saat perjanjian itu berakhir nantinya.


Tentunya pendidikan adalah satu-satunya hal yang bisa ia andalkan di kemudian hari. Untuk memastikan kelangsungannya hidupnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2