
"Daffa apa kabar?" sapa wanita cantik itu.
Jantung Daffa berdegup tak karuan, seseorang yang selama ini tersimpan di hatinya. Seseorang yang selama ini ia harapkan kehadiran nya. Saat ini berdiri di hadapannya. Apakah ini mimpi.
Banyak sekali pertanyaan dalam otaknya. Kemana selama ini ia menghilang, Kenapa ia begitu tega meninggalkannya tanpa alasan.
"Daffa... hai!" seru Fany, membuyarkan lamunan Daffa.
"A..aku baik. Sebaiknya kita ngobrol di dalam. Gimana?" tawar Daffa.
"Boleh." Mereka bertiga masuk ke dalam cafe.
"Pak Daffa, sebaiknya saya cari meja lain!" pamit Beny.
"Kenapa nggak disini saja Ben?" Daffa mengerutkan keningnya.
"Tidak apa-apa pak, lagi pula masih ada yang harus saya kerjakan!" jawab Beny. "Permisi!" pamit Beny sambil mengangguk, kemudian ia mencari meja kosong yang tak jauh dari Daffa.
"Oh ya mau pesan apa?" tanya Daffa.
"Samain kamu aja Fa, selera kita kan nggak jauh beda!" jawab Fany sembari tersenyum.
Daffa pun memanggil waiters, dan memesan minuman juga beberapa kudapan.
"Kamu ngapain di Bali?" tanya Daffa.
"Aku lagi liburan, pengen nenangin pikiran biar nggak stress." papar Fany.
"Kamu tinggal dimana?"
"Sebelum ini aku ikut suami di Melbourne, tapi sekarang aku balik ke Jakarta. Kamu sendiri lagi ngurus kerjaan disini?" tanya Fany sambil melirik kearah Beny.
"Iya, aku lagi ada proyek baru disini." jawab Daffa.
"Wah sepertinya sekarang kamu udah sukses ya. Eksekutif muda dan tampan. hehehe..."
"Kamu bisa aja, aku cuma lanjutin bisnis papa ku. Tapi dibantu Daffy juga di beberapa cabang perusahaan, khususnya perhotelan." terang Daffa.
"Oh ya sekarang kamu balik ke Jakarta sama suami kamu juga?" tambah Daffa.
"Aku baru saja pisah dari suamiku. Dan sekarang anakku ikut papanya. Jadi aku merasa kesepian, makanya aku putuskan untuk refreshing."
"Kamu sudah punya anak? Kok sampai pisah, apa nggak kasihan anaknya?" tanya Daffa penasaran.
"Iya, anakku cewek baru berusia 3 tahun. Sebenarnya sih kami juga nggak mau berpisah, tapi mungkin emang sudah takdir. Mau nggak mau ya kita jalani!"
__ADS_1
"Kamu sendiri Sudah nikah Fa??" tambah Fany.
"Ya.. aku baru menikah tiga bulan yang lalu." jawab Daffa.
"Pengantin baru dong.. istri kamu ada di Bali juga?" tanya Fany.
"Nggak, dia di Jakarta. Aku cuma beberapa hari disini, dan jadwal aku padat banget. Kasihan kalau dia cuma nungguin aku di villa doang!"
"Berapa lama ya kita nggak ketemu. Kamu makin ganteng deh Fa.." ucap Fany sambil tertawa.
"Kamu bisa saja." elak Daffa.
"Boleh aku tanya sesuatu??" tambah Daffa.
"Mau tanya apa Fa?" sahut Fany penasaran.
"Waktu itu, kenapa kamu tiba-tiba pergi ninggalin aku. Kamu pergi tanpa sebab!"
"Hemm... aku minta maaf Fa, waktu itu aku harus ikut orang tua ku pindah ke Manado. Semuanya mendadak, aku nggak sempat ngabarin kamu." ucap Fany dengan kepala menunduk.
"Meski cuma lewat SMS??" cecar Daffa.
"Sebenarnya pas sampai sana aku mau telepon kamu, tapi baru mau keluar bandara tas aku kecopetan. Hape dan dompet aku hilang, jadi aku nggak bisa hubungi kamu. Sekali lagi aku minta maaf!!" ucapnya penuh sesal.
"Sudahlah nggak usah dibahas. Lagipula sekarang kita sudah hidup masing-masing. Aku sudah mendapatkan wanita yang baik. Dan sekarang kami saling mencintai. Meskipun butuh waktu yang lama untuk move on dari kamu. Akhirnya aku bisa!" terang Daffa.
Hari ini Dista berbelanja kebutuhan dapur. Setelah mendapatkan izin dari suaminya untuk keluar rumah, ia pun bergegas menuju ke pusat perbelanjaan yang tak jauh dari apartemennya.
Dista tampak mendorong troli belanjanya. Menghampiri rak-rak yang berisi bahan makanan. Saat hendak mengambil kotak susu, bersamaan dengan seseorang yang juga akan mengambilnya.
"Eh, maaf.. silahkan anda duluan." ucap Dista.
"Dista!" sapa seorang lelaki yang ternyata mengenal Dista.
"Giant!!" seru Dista.
"Ramon si pahlawan bertopeng. Bukan Giant, sudah capek-capek nge-gym, diet juga. Hasilnya juga memuaskan. Perutku sixpack, badan berotot. Tampang cakep abis. Masih juga dipanggil Giant." protes Ramon panjang lebar.
"Hehehe.. Sorry, gitu aja ngambek!" ucap Dista sambil tersenyum.
"Udah kebiasaan sih manggil kamu Giant. Jadi susah hilangnya." tambah Dista.
"Terserah kamu. Kamu belanja sendiri atau sama suami??!" tanya Ramon sambil celingak-celinguk mencari suami Dista.
"Aku sendiri, suamiku lagi dinas ke luar kota." jawab Dista sambil mengambil beberapa kotak susu rendah lemak.
__ADS_1
"Istri cakep gini dibiarkan belanja sendiri, apa nggak takut diambil orang?" goda Ramon.
"Emangnya aku barang, main ambil-ambil aja!" ketus Dista.
"Hahaha..." Ramon tertawa.
"Sini aku bantu dorong belanjaan kamu. Biar nona manis nggak kecapekan." tambah Ramon.
"Istri orang masih juga digombalin!" ejek Dista.
"Mumpung nggak ada suaminya! heheee..!"
"Dasar Giant!!" celetuk Dista.
"Kamu sudah punya pacar Ram?" tanya Dista lagi.
"Banyak sih cewek-cewek yang antri, tapi aku belum ada yang cocok. Apalagi orang yang pas di hati, sudah ada yang punya." jawab Ramon dengan entengnya.
"Haiissshh mulai deh!" balas Dista yang mengerti arah pembicaraan temannya itu.
"hahahaha..." Ramon tertawa garing. Entah menertawakan keadaan atau dirinya sendiri.
Akhirnya mereka belanja bersama. Setelah empat puluh lima menit, mereka sudah mendapatkan semua yang mereka butuhkan. Mereka pun menuju ke kasir.
"Hitung jadi satu aja mbak. Bayar pakai ini!" ucap Ramon sambil mengulurkan sebuah kartu kredit.
"Nggak usah Ram, aku bayar sendiri aja." cegah Dista.
"Sekali-kali nggak apa-apa kan! Hitung-hitung balas Budi, dulu kamu sering kasih aku contekan." jawab Rama sambil terkekeh.
Mereka keluar dari pusat perbelanjaan setelah membayar barang belanjaan. Dista menenteng satu kresek besar dan sisanya dibawa oleh Ramon.
"Yakin nggak mau aku antar pulang?" tanya Ramon kembali meyakinkan.
"Nggak usah Ram, takut ngerepotin kamu. Ini aja makasih banget udah dibayarin." ujar Dista.
"Ya sudah, aku tunggu kamu sampai dapat taksi."
Tak berapa lama taksi online yang dipesan oleh Dista datang. Ramon segera memasukkan barang belanjaan Dista ke bagasi. Tak lupa ia membuka pintu untuk Dista.
"Makasih Ram, sampai jumpa lagi. Daaa..." ucap Dista sebelum taksi yang ditumpanginya berjalan.
"Iya sama-sama!" jawab Ramon.
"Andai kamu tahu Dis, perasaan aku nggak pernah berubah. Kalau dulu kamu nggak mau pacaran karena ingin fokus sekolah. Sekarang bahkan kamu sudah menikah. Entahlah, apa aku harus menyerahkan atau tetap memperjuangkan cintaku padamu." batin Ramon.
__ADS_1
Ramon menuju parkiran untuk mengambil mobilnya. Ia segera menginjak pedal gas dan melaju meninggalkan tempat itu. Sepanjang perjalanan Ramon masih terus memikirkan Dista, cinta pertamanya.
Bersambung....