Perjanjian Cinta Ladista

Perjanjian Cinta Ladista
Mama sehebat itu.


__ADS_3

"Sayang, malam ini makan di luar ya?" tawar Daffa.


"Boleh,," jawab Dista antusias.


"Kita makan di restoran papa aja gimana?" ucap Daffa. Selama ini Dista Belum pernah mengunjungi restoran sang mertua.


"Iya mas, aku mau." jawab Dista.


"Ya udah kamu siap-siap dulu." perintah Daffa.


Pukul tujuh malam mereka meninggalkan apartemen. Dista tampak cantik dengan dress panjang di bawah lutut berwarna navy. Dengan aksen pita di pinggangnya. Rambutnya ia biarkan tergerai dan disatukan ke samping. Dengan riasan natural, semakin menonjolkan kecantikan alami yang ia punya.


Sedangkan Daffa mengenakan kemeja polos dengan warna senada. Lengannya ia gulung di bawah siku, memberikan kesan santai.


Daffa melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali diliriknya sang istri yang tampil anggun malam ini.


"Mas, apa papa masih berada di restoran?" tanya Dista.


"Biasanya jam segini sudah pulang. Papa selalu makan di rumah bareng sama mama. Kecuali ada acara penting di restoran, baru papa lembur." papar Daffa.


"Seharusnya kita mengunjungi restoran papa saat makan siang saja, biar sekalian silaturahmi sama beliau." ucap Dista.


"Kalau mau silaturahmi kan bisa datang ke rumah!" jawab Daffa.


"Iya juga sih!" Dista terkikik.


Mereka pun sampai di pelataran restoran yang nampak apik. Restoran yang mengusung nuansa pedesaan. Kental dengan adat Jawa.


Daffa membuka pintu mobil untuk Dista. Kemudian mereka berjalan beriringan memasuki restoran tersebut.


"Silahkan mas Daffa, saya antar ke ruang VVIP!" sapa seseorang yang tampak akrab dengan Daffa.


"Jangan mas Daffa!" pekik Dista.


"Kenapa??" tanya Daffa penasaran.


"Kita duduk di sana saja!" tunjuk Dista pada sebuah meja di pojok. Yang langsung menghadap ke sebuah kolam ikan berhias lampu temaram dan air mancur kecil.


"Istri mas Daffa pinter pilih tempat romantis." puji Tedy, yang tidak lain adalah manager di restoran itu.


Daffa menyunggingkan senyum manisnya. "Ya terserah kamu!" jawab Daffa.


Mereka menuju meja yang ditunjuk oleh Dista. Tedy menepuk tangannya dua kali. Dan segera seorang pelayan menghampiri mereka. Dengan sigap menyodorkan buku menu kepada Daffa dan Dista.


"Silahkan tuan nyonya, mau pesan apa?" tanya pelayanan tersebut.

__ADS_1


"Kamu mau pesan apa sayang?" tanya Daffa dengan lembut.


"Hemm... sepertinya makanannya enak-enak mas. Apalagi semua masakan Nusantara. Bikin aku ngiler!" Dista terkekeh.


Daffa tersenyum mendengar celotehan istrinya, yang sepertinya memalukan. Tapi bagi Daffa justru terlihat menggemaskan.


"Kamu pesan semua yang kamu inginkan!"


"Oke. Tapi kamu bayar kan mas, jangan sampai bikin papa mertua bangkrut." oceh Dista.


Tedy dan sang pelayanan hanya mampu menahan tawanya. Bagaimana bisa ia berpikir kalau pak Wiguna akan bangkrut hanya karena menggratiskan makan malam bagi anak dan menantunya.


"Kamu tenang saja, aku pasti bayar! Kamu pikir suami mu ini nggak punya duit." gerutu Daffa.


Dista hanya nyengir kuda. Kemudian Dista memesan beberapa makanan yang menggugah seleranya.


Maklum saja, selama ini Dista lebih sering makan di warteg. Saat disuguhi menu Nusantara tentunya ia sangat bersemangat. Karena ia berpikir mungkin akan makan makanan kesukaannya, dengan tampilan dan rasa yang berbeda.


Lima belas menit kemudian pesanan mereka ! tampak berbinar menatap banyaknya makanan yang terhidang di meja.


"Kamu yakin bisa menghabiskan makanan sebanyak ini?" tanya Daffa memandang heran ke arah istrinya.


"Aku pengen nyobain semuanya mas, kalau nggak habis ya kita bungkus bawa pulang!" jawab Dista enteng.


"Iya, terserah asal kamu bahagia." ujar Daffa.


Daffa hanya menghabiskan satu porsi ikan bakar dengan saus pedas manis dan sepiring nasi.


"Makanannya enak banget mas..." ucap Dista kemudian bersendawa.


Daffa tersenyum akan tingkah konyol istrinya. "Iyalah... papa punya beberapa Chef handal." jawab Daffa.


"Awalnya papa dan beberapa temannya sering makan di rumah. Teman-teman papa suka dengan masakan mama. Seperti yang kamu tahu, Mama lebih sering masak masakan Nusantara daripada western atau yang lain. Bahkan teman papa yang bule juga menyukai masakan mama."


"Atas desakan teman-temannya, akhirnya papa mencoba membuka restoran ini. Awalnya mama sendiri yang masak, tapi papa nggak mau istri tercinta nya terlalu capek. Makanya papa merekrut beberapa Chef yang menguasai masakan Indonesia. Tapi tetep mama yang mengawasi diawal mereka bekerja. Mama juga memberikan resep rahasia dari Oma." cerita Daffa panjang lebar.


"pantesan masakan mama enak banget, ternyata mama sehebat itu." puji Dista semakin mengagumi sosok sang mertua.


"Semenjak aku mau menggantikan posisi papa sebagai presiden direktur di perusahaan, papa lebih fokus di restoran ini. Meskipun tidak terlalu besar dan mewah, tapi papa sangat menikmati mengelola restoran ini." ujar Daffa.


"Mama masih sering kesini mas?" tanya Dista


"Iya, beberapa kali dalam seminggu."jawab Daffa.


"Mama dan papa tuh, pasangan romantis ya mas. Sepertinya papa selalu memanjakan mama!" ucap Dista sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ya, seperti anaknya ini yang akan selalu memanjakan istrinya." gombal Daffa.


"Mulai gombalnya ..." Dista tertawa riang.


"Kita pulang, atau kamu masih ingin disini?" tanya Daffa.


"Bentar lagi mas. Aku nyaman berada di sini." ucap Dista mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat duduknya.


Dekorasi bagian samping restoran ini terasa sangat romantis. Membuat Dista enggan beranjak dari tempat duduknya.


Setelah tiga puluh menit Daffa dan Dista menikmati suasana romantis di restoran tersebut. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.


"Terima kasih suami ku untuk makan malam romantis nya." ujar Dista sambil memeluk lengan suaminya saat mereka memasuki apartemen.


"Meskipun romantis versi aku mungkin berbeda dengan orang lain." tambah Dista sambil terkikik.


"Sama-sama sayang, aku senang lihat kamu bahagia seperti ini." jawab Daffa.


"Tapi.." tambah Daffa.


"Tapi apa mas??" timpal Dista.


"Tapi semua itu nggak gratis loh!"


"Maksudnya, aku harus bayar??" Dista tampak kaget. "Mas Daffa nggak ikhlas nih?!"


"Iyalah.. " jawab Daffa singkat.


"Emang berapa mas, aku nggak punya duit banyak." ucap Dista sambil cemberut.


"Emangnya aku kekurangan duit??" timpal Daffa dengan seringai di wajahnya.


"Lalu ??" tanya Dista penasaran.


"Aku sudah memenuhi tanggung jawab ku untuk membahagiakan mu malam ini, jadi..." Daffa menjeda kata-katanya.


"Jadi..??" Dista semakin penasaran.


"Jadi... sekarang waktunya kamu yang menjalankan kewajiban sebagai seorang istri." Daffa berbisik dibalik telinga Dista.


Dista membulatkan matanya. Sungguh kata-kata Daffa barusan membuat jantung nya berdegup tak karuan.


"Ma . maksud mas Daffa hubungan suami istri?" tanya Dista ragu.


"Iya, kamu benar. Sudah tiga bulan lebih kita menikah, bahkan aku masih saja perjaka!!"

__ADS_1


"Ta..tapi mas.. aku..aku..."


Bersambung...


__ADS_2