Perjanjian Cinta Ladista

Perjanjian Cinta Ladista
Maksud tersembunyi


__ADS_3

Pagi ini tepat pukul delapan, Fany telah tiba di perusahaan Wiguna Grup. Ia ingin memberikan kesan yang baik di hari pertama bekerja.


Fany berjalan mendekati resepsionis.


"Mbak, saya mau bertemu dengan kepala personalia. Untuk menyerahkan CV, dan mulai hari ini saya bekerja di perusahaan ini." ucap Fany sopan.


"Apakah dengan ibu Fany?" tanya resepsionis tersebut.


"Iya benar!"


"Silahkan naik ke lantai 5 bu, ruangan paling ujung. Bu Lita sudah menunggu anda." wanita cantik itu menerangkan letak ruangan kepala personalia.


"Terima kasih mbak!" Kemudian Fany berjalan menuju lift yang sudah ramai dengan para karyawan yang akan menuju ruangannya.


tok..tok .tok..


"Masuk!" terdengar suara dari dalam.


Ceklek.. Fany membuka pintu dan berjalan masuk ruangan yang tidak terlalu besar tapi sangat rapi dan elegan.


"Selamat pagi Bu! Saya pegawai baru di bagian keuangan atas rekomendasi pak Daffa langsung." ucap Fany memperkenalkan diri.


"Iya, silahkan duduk. Pak Daffa sudah menghubungi saya dan menjelaskan tentang anda.


"Ini CV saya Bu." Fany menyodorkan sebuah amplop coklat di atas meja.


"Baiklah, selamat bergabung dengan kami. Semoga betah Bekerja di sini." ucap Lita sambil menjabat tangan Fany.


"Anda bisa pergi ke ruangan manager keuangan. Beliau akan menjelaskan tugas-tugas anda. Ruangannya ada di sebelah kanan pantry." tambah Lita.


"Baik Bu, saya permisi." Fany bangkit dan berbalik menuju pintu keluar.


Fany sampai di depan pintu yang bertuliskan manager keuangan. Ia mengetuk pintu beberapa kali. Terdengar sahutan dari dalam yang menyuruhnya masuk.


"Selamat pagi pak. Saya Fany pegawai baru di sini." sapa Fany saat sudah berada di dalam ruangan manager tersebut.


"Selamat pagi, silahkan bergabung dengan rekan-rekan kamu di depan. Ini berkas-berkas yang harus kamu pelajari, kalau ada yang tidak dimengerti kamu bisa minta bantuan pada senior mu." manager keuangan yang berusia sekitar 45 tahunan itu berbicara sambil menunjuk ruangan yang berada tepat di depan ruangannya.


"Baik pak. Saya permisi." sahut Fany.


Fany sampai di meja kerjanya. Ia memutar malas bola matanya. "Jauh panggang dari api. Berharap dekat-dekat dengan Daffa malah terdampar di sini. Tapi aku harus bersabar sementara waktu. Aku butuh strategi untuk mendapatkan tangkapan yang lebih besar."


"Hai... perkenalkan aku Tania. Kita satu tim." ucap seorang gadis dengan menyodorkan tangannya.

__ADS_1


"Aku Fany, senang berkenalan dengan mu." Ucap Fany masih berusaha ramah. Padahal hatinya dongkol setengah hidup. Bagaimana mungkin seorang Fany, mantan istri dari pengusaha kaya raya yang terbiasa hidup mewah dan tinggal perintah. Sekarang harus bekerja menjadi karyawan rendahan.


"Aku juga pegawai baru di sini. Baru sekitar lima bulan. Tenang saja, teman-teman di tim kita orangnya baik-baik kok. Kamu pasti betah dan tidak akan kesulitan beradaptasi di sini." ujar Tania dengan antusias.


Fany hanya tersenyum menanggapi ocehan teman barunya itu.


Tak Terasa waktu istirahat telah tiba. Tania mengajak Fany untuk makan siang di cafetaria yang berada di lantai dasar.


Mereka berjalan keluar dari lift bersama beberapa orang lainnya. Tepat ketika hendak melangkah, Fany melihat sosok yang kemarin ia lihat di ruangan Daffa.


"Tan, bukankah itu istri Presdir?" tanya Fany sambil menunjuk kearah Dista.


"Iya benar, kamu kenal?"


"Kemarin ketemu di ruangan Presdir. Apa dia sering datang kemari?" Fany semakin penasaran, karena baru kemarin mereka bertemu di kantor ini. Tapi hari ini sudah muncul lagi.


"He'em, bukan sering lagi. Tapi hampir tiap hari. Kecuali kalau pak Daffa ada meeting di luar. Mereka tuh... so sweet banget!" ucap Tania.


"Ih, norak ngapain juga nyamperin suaminya kerja tiap hari. Kayak nggak punya kerjaan aja." gerutu Fany dalam hati.


"Pokoknya pak Daffa tuh berubah jadi baik dan kalem setelah menikah. Padahal dulu jutek dan galak banget. Meskipun dulu Bu Dista cuma office girl, tapi pak Daffa menghujaninya dengan limpahan kasih sayang. Bikin iri kaum hawa." ujar Tania mengagumi bosnya.


"Office girl?" Fany kaget dengan pernyataan Tania.


Sore hari Daffa bersiap-siap untuk pulang saat pintu terbuka.


"Kamu sudah pulang Fy." tanya Daffa yang melihat adiknya masuk ke ruangannya.


"Iya, siang tadi aku sampai. Nih, ada titipan dari Karin buat istri mu."


"Buat aku mana?"


"Duit mu kan banyak, beli aja sendiri." jawab Daffy ketus.


"Oh, ya kak. Tadi di bawah aku seperti lihat Fany. Apa itu benar-benar dia, atau aku salah orang?" tambah Daffy yang penasaran dengan perempuan yang dilihatnya di bawah tadi.


"Iya, dia kerja di sini."


"Kok bisa. Kemana aja dia selama ini? Kenapa tiba-tiba nongol dan kerja di perusahaan?" tanya Daffy heran.


"Katanya dia baru balik dari Melbourne, karena pisah sama suaminya. Dia bingung cari kerja nggak dapat-dapat, trus minta bantuan ku."


"Dista tahu keberadaan Fany?"

__ADS_1


"Iya, kemarin dia ketemu di sini. Aku juga sudah cerita kalau Fany adalah mantan pacarku."


"Terus..?"


"Apanya yang terus?" Daffa memelototi adiknya.


"Reaksi Dista? Apa dia nggak marah kamu Nerima mantan pacar mu kerja di sini?"


"Awalnya sih marah, tapi akhirnya dia ngerti."


"Jangan sampai kehadiran orang dari masa lalu merusak kebahagiaan mu kak. Sebaiknya kamu hati-hati. Siapa tahu Fany punya maksud tersembunyi." Daffy menasehati kakaknya.


"Iya, sebisa mungkin aku menghindari Fany. Meskipun tidak ada apa-apa di antara kami. Tetap saja aku harus menjaga perasaan Dista " terang Daffa.


"Setuju. Kakak ku hebat, hehehe..." Daffy terkekeh.


Akhirnya mereka turun bersama. Kemudian menuju mobil masing-masing.


"Sayang, ini ada titipan dari Karin." ucap Daffa sambil menyodorkan paper bag yang ada di tangannya.


"Dari mbak Karin?" Dista terkejut.


"Iya, tadi Daffy datang ke kantor mengantarkan ini."


Dista menerima paper bag itu dengan senang, senyum tak lepas dari bibirnya.


"Wah, gaunnya indah sekali. Mas Daffa lihat deh, aku suka banget. Ini pasti mahal, bagaimana aku bisa membalas kebaikan mbak Karin." Dista mengerucutkan bibirnya.


"Hei.. dikasih hadiah kok malah cemberut."


"Seharusnya kamu bahagia dong." tambah Daffa.


"Aku bahagia mas, karena perhatian mbak Karin. Terima kasih ya mas, keluarga mas Daffa menerima aku yang bukan siapa-siapa ini dengan lapang dada." ucap Dista dengan mata berkaca-kaca.


"Kok malah nangis." Daffa mengusap lelehan bening di sudut mata Dista. Kemudian memeluknya erat.


"Udah jangan nangis cup cup cup..." Daffa membujuk Dista seperti seorang anak kecil yang merajuk.


"Aku menangis bahagia mas. Aku merasa menjadi wanita paling beruntung di muka bumi ini." ucap Dista sambil tersenyum disela tangisannya.


"Aku juga beruntung punya istri seperti mu" ujar Daffa sambil mengecup puncak kepalanya istrinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2