Perjanjian Cinta Ladista

Perjanjian Cinta Ladista
Hanya teman?


__ADS_3

"Dista .." gumam Ramon.


"Ram, kenalkan ini nak Daffa anak om Wiguna. Nak Daffa ini anak om, Ramon." ucap Rendra memperkenalkan keduanya.


Ramon mengulurkan tangan pada Daffa. Daffa memandang Ramon dari atas sampai bawah. Memperhatikan dengan seksama tampilan pria muda di hadapannya.


"Ramon!" ucap Ramon memperkenalkan diri.


"Daffa!" jawab Daffa singkat.


"Kalau gadis cantik itu istrinya nak Daffa." tambah Rendra.


"Iya, aku sudah kenal!" jawab Ramon membuat Daffa semakin menatapnya tajam.


"Kamu sudah kenal?" tanya Rendra penasaran. "Papa juga berpikir wajahnya familiar, tapi papa tidak ingat."


"Dista teman SMP ku pa, papa pernah ketemu waktu mengambil raport ku! Dista kan selalu juara kelas." Ramon menjelaskan.


"Oh, gadis kecil itu kamu!" seru Rendra.


"Jadi om ini papanya Ramon. Maaf ya om, Dista lupa!" ujar Dista dengan tersenyum.


"Tidak apa-apa. Kita hanya bertemu beberapa kali, dan itu sudah lama. Wajar kalau kamu lupa."


"Jadi kalian sudah saling kenal!" Daffa menyipitkan matanya.


"Iya mas." jawab Dista gugup. " Mas Daffa kenapa sih?" batin Dista.


"Kalian hanya teman sekelas, atau lebih?" selidik Daffa.


"Cuma teman mas!" Dista memelototi suaminya yang mulai posesif.


Mereka melanjutkan perbincangan yang semakin akrab dan hangat. Membahas keuntungan proyek-proyek bersama dan masalah pribadi juga.


Setelah makan siang, Daffa mengantar Dista ke rumah utama. Mama Ratih sempat menelepon, meminta Dista untuk mengunjunginya.


"Mama..." teriak Dista saat melihat Ratih sedang duduk di sofa ruang keluarga.


"Sayang!" balas Ratih sambil merentangkan tangannya.


Mereka berpelukan beberapa lama, Ratih mengusap-usap punggung Dista dengan lembut. Mencoba mengobati kerinduan kepada menantu kesayangannya tersebut.


"Ehemmm..." Daffa berdehem memprotes mamanya.


"Kenapa Daffa?" tanya Ratih tanpa rasa bersalah.


"Daffa nggak dipeluk?? Yang anak mama siapa sih sebenarnya?" protes Daffa yang merasa diabaikan.


Dista dan Ratih tertawa bersama. Melihat muka konyol Daffa yang sedang merajuk.


"Sini sayang! Anak kesayangan mama." Ratih merentangkan kedua tangannya untuk Daffa. Daffa segera menyambut pelukan mama Ratih.


"Daffa juga kangen sama mama, tapi sepertinya mama cuma kangen sama Dista!" gerutu Daffa.


"Mama juga rindu sama kamu. Kamu jarang mengunjungi mama. Sibuk kerja terus."


"Mas Daffa kayak anak kecil saja." Dista tersenyum. Dista mulai mengetahui kelakuan manja suaminya terhadap sang mama. Sungguh jauh berbeda saat menghadapi orang luar, apa lagi rekan bisnis dan karyawannya.

__ADS_1


Daffa selalu menjadi anak manis di hadapan keluarganya.


"Daffa harus balik ke kantor ma. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus Daffa selesaikan." ujar Daffa setelah puas memeluk mamanya.


"Baru juga sebentar, sudah mau pergi aja!"


"Nanti sepulang dari kantor Daffa jemput Dista lagi, sekalian makan malam di sini." bujuk Daffa.


"Kalian nginap ya?" tawar Ratih penuh harap.


"Dista sih terserah mas Daffa saja!" jawab Dista.


"Lihat nanti aja ma!" jawab Daffa sambil mencium pipi kiri dan kanan mamanya. "Daffa pamit."


Kemudian beralih mencium kening sang istri. "Aku pergi ya, bersenang-senaglah sama mama." ucap Daffa sambil mengelus puncak kepala Dista.


"Iya mas, hati-hati!"


Daffa melangkah pergi meninggalkan kedua wanita yang sangat penting dalam kehidupannya.


"Papa masih di restoran ma?" tanya Dista setelah Daffa tak terlihat lagi.


"Iya, biasa papa pulang sore." ujar Ratih.


"Kalau mas Daffy? Aku sudah lama tidak pernah bertemu dengannya." tanya Dista penasaran.


"Daffy masih di Singapura, mengurus hotel di sana yang ada sedikit masalah katanya. Sekalian mengunjungi Karin." ucap Ratih sambil terkekeh.


"Mas Daffy kapan menikah sama mbak Karin, mereka berdua pasangan yang serasi."


"Mama doain yang terbaik untuk mereka. Semoga saja memang mas Daffy berjodoh dengan mbak Karin." ucap Dista.


"Amin. Makasih sayang, kamu menantu terbaik buat mama!"


Dista tersenyum mendengar pujian dari mertuanya.


Tak terasa matahari hampir tenggelam seluruhnya. Dista beristirahat di kamar Daffa yang luas dan mewah. Kamar yang didominasi warna hitam dan abu-abu. Menambah kesan maskulin.


Ceklek.


Terdengar suara pintu dibuka. Dista menoleh kearah pintu. Dilihatnya Daffa sudah berdiri di sana.


"Mas, sudah pulang?" sambut Dista.


"Sini tasnya. Mas Daffa mau langsung mandi?" tanya Dista sambil mengambil tas dari tangan suaminya.


"Nanti saja, aku capek mau rebahan dulu sebentar." jawab Daffa.


"Mau aku buatkan teh atau kopi?" tawar Dista.


"Teh saja sayang!" kemudian Daffa merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Sepuluh menit kemudian Dista telah kembali dengan secangkir teh dan beberapa potong kue.


"Ini mas tehnya, diminum selagi hangat."


Daffa bangun dan mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Meraih cangkir dan menyesap isinya.

__ADS_1


"Kita jadi menginap di sini mas?" tanya Dista.


"Kamu maunya gimana?" tanya Daffa balik.


"Kita nginap saja. Mas Daffa kelihatannya capek, kasian kalau harus kembali ke apartemen. Lebih baik istirahat di sini saja!" bujuk Dista.


"Oke" jawab Daffa.


"Mau aku pijat?" tawar Dista dengan senyum menggoda.


"Boleh!"


"Tapi sebentar saja ya, setelah itu mas Daffa mandi. Aku mau bantu bibi menyiapkan makan malam." ujar Dista.


"Kan sudah ada bibi, ada mama juga. Ngapain kamu repot-repot! Mending bantuin mas Mandi." goda Daffa dengan tatapan nakalnya.


"Ih.. mas Daffa mulai deh!" protes Dista masih dengan memijat pundak Daffa. Daffa tertawa karena selalu berhasil membuat pipi Dista Semerah tomat 🍅


Makan malam berlangsung menyenangkan. Anggota keluarga tampak kompak, bercengkrama dengan hangat. Hanya Daffy yang tidak hadir, karena masih berada di luar negeri.


Malam ini Daffa dan Dista menginap. Membuat mama Ratih semakin bahagia.


Keesokan harinya, Daffa berangkat ke kantor setelah mengantar Dista ke apartemen. Sesampainya di lobby kantor, Beny telah menunggunya.


"Selamat pagi pak Daffa!" sapa Beny.


"Pagi!" jawab Daffa singkat.


"Apa agenda ku hari ini, apa pagi ini ada rapat?" tanya Daffa.


"Iya pak, nanti jam sembilan ada meeting dengan PT. Cahaya Plastindo. Kemudian pukul 2 siang Anda ada jadwal untuk meninjau pengerjaan proyek baru " terang Beny.


Usai meeting pagi, Daffa kembali ke ruangannya. Ia menyenderkan punggungnya pada kursi kebesarannya.


"Ada apa Della?" tanya Daffa lewat interkom.


"Ada seorang wanita yang ingin bertemu anda pak, dia menunggu di lobby."


"Siapa? Aku tidak ada janji dengan siapapun hari ini."


"Namanya nona Fany pak! Apa Bapak mengenalnya?"


Daffa tampak berpikir, apakah yang dimaksud adalah Fany mantan pacarnya.


"Kamu suruh dia ke ruangan ku." perintah Daffa.


Tok..tok..tok..


Della membuka pintu, kemudian masuk diikuti seorang wanita cantik di belakangnya.


"Permisi pak, ini adalah nona Fany yang ingin bertemu dengan anda." ucap Della.


"Kamu boleh keluar." perintah Daffa. Setelah Della menutup pintu. Fany berjalan mendekati Daffa.


"Selamat siang Fa, sorry kalau aku ganggu waktu kamu!" ucap Fany dengan senyum manis.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2