Perjanjian Cinta Ladista

Perjanjian Cinta Ladista
Aku milikmu


__ADS_3

Setelah meletakkan ponsel ke tempatnya semula. Daffa kembali memeluk tubuh polos sang istri. Mengecup puncak kepala Dista, beralih kening, mata pipi dan berakhir di bibir.


"Hemmm... " Hanya ******* malas yang Daffa dengar. Mungkin istrinya itu benar-benar lelah. Baru kali ini Dista tidur Sampai sesiang ini. Daffa tersenyum dan kembali memejamkan mata. Tak mau mengusik mimpi sang istri. Ia memutuskan untuk kembali tidur.


Dua jam berlalu. Dista mulai menggeliat. Meregangkan otot-otot tubuhnya yang serasa remuk. Perlahan-lahan Dista membuka matanya. Tepat di hadapannya wajah teduh sang suami yang sedang tertidur.


Sungguh tak henti hentinya Dista memandangi wajah tampan suaminya. Tak ada cela sedikit pun. Semuanya terlihat sempurna.


Disentuhnya perlahan, mulai dari alis, kelopak mata dengan bulu halus nya, hidung dan berakhir di bibir sensual milik Daffa.


Dista tersenyum mengagumi ciptaan Tuhan yang sungguh sangat sempurna. Hingga sebuah suara mengagetkannya.


"Apakah aku begitu tampan?"


"Ih, mas Daffa. ngagetin aja deh!!" omel Dista yang merasa jantungnya akan melompat.


"Hehehe... habisnya kamu ganggu orang tidur. Masa muka suaminya diobok-obok!!" ujar Daffa.


"Emang air diobok-obok." Dista terkikik.


"Mas Daffa, kamu janji jangan ninggalin aku ya!" ucap Dista serius. "Aku sudah memberikan semuanya. Jangan kecewakan aku!" pinta Dista dengan memanyunkan bibirnya.


Daffa tersenyum dan berkata" Aku akan selalu mencintaimu, melindungi mu dan hidup bersama mu sampai maut memisahkan!"


"Janji??" tanya Dista sambil menyodorkan jari kelingkingnya.


"Dasar bocah!" ledek Daffa. Tapi tetap menerima uluran jari sang istri.


"Iya janji!" ucap Daffa sambil menautkan kelingking mereka.


"Aku milikmu mas, milikmu seutuhnya."


"Iya sayang, aku juga milikmu seutuhnya!!" jawab Daffa dengan membelai rambut Dista dan mengecupnya.


"Mas Daffa..." rengek Dista.


"Kenapa sayang?"


"Aku lapar!" ucap Dista dengan rona merah di pipinya.


"Kita pesan makanan online aja ya! Biar kamu nggak perlu repot-repot masak. Kamu pasti capek!!"


"Iya mas, badanku rasanya remuk semua! Ini semua gara-gara ulah kamu mas!!" kesal Dista.


"Tapi kamu suka kan? Buktinya kamu menikmati dan men desah dengan liar!" ledek Daffa.


"Mas Daffa, nyebelin!! Awas kamu ya." Dista memukul-mukul dada bidang sang suami. Daffa hanya terkekeh.


Dista beranjak hendak ke kamar mandi. Saat membuka selimut, matanya membulat mendapati drinya polos tanpa busana.


"Dimana bajuku mas?"


"Ngapain cari baju, katanya mau ke kamar mandi?"


"Aku kan malu!"

__ADS_1


"Aku kan sudah melihat semuanya tadi malam. Kenapa harus malu?" goda Daffa.


"Ih, nyebelin!" ucap Dista sambil menepuk pundak suaminya.


Akhirnya Dista memutuskan untuk pergi ke kamar mandi dengan memakai selimut. Tapi baru akan melangkahkan kakinya,


"Aaggghhh...." teriaknya membuat Daffa kaget.


"Kenapa sayang?" tanya Daffa khawatir.


"Itu, sakit!!" ucap Dista meringis sambil menunjuk bagian bawahnya.


Daffa tersenyum "Ya sudah biar aku gendong ke kamar mandinya!"


"Nggak usah mas, aku bisa sendiri!" tolak Dista. Tapi Daffa Tek menghiraukannya. Dengan cekatan Daffa membopong sang istri menuju ke kamar mandi.


Baru saja Daffa keluar dan menutup pintu kamar mandi. Tiba-tiba Dista berteriak lagi.


"Kenapa lagi sayang?" dengan cepat Daffa kembali masuk ke dalam kamar mandi.


"Hemm... perih! Pas aku pipis, rasanya perih banget mas!" rengek Dista.


Daffa tersenyum kemudian mendekati Dista.


"Maaf ya karena membuat mu tidak nyaman." Daffa mengelus pipi istrinya.


"Kenapa minta maaf mas, kamu nggak salah. Aku hanya belum terbiasa. Dan ini adalah pertama kalinya, jadi pasti sakit." ucap Dista sok dewasa.


Daffa kembali tersenyum manis. " Ya sudah, sini aku bantu mandi!"


"Tidak menerima penolakan!" jawab Daffa tegas.


Setelah selesai dengan ritual mandi bersama, yang mereka lalui sekitar dua puluh menit. Karena memang hanya mandi saja. Daffa menahan gejolak dalam dirinya untuk menyentuh Dista lagi Karena ia tahu Dista masih kesakitan dan merasa tidak nyaman.


Daffa segera memesan makanan melalui aplikasi di hapenya. Tiga puluh menit kemudian makanan yang mereka pesan sudah datang.


Dista melahap makanan itu dengan rakusnya. Seakan belum makan selama seminggu. Daffa menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Setelah selesai makan, Daffa membereskan bekas makan mereka. Daffa juga tak segan mencuci piring dan sendok yang mereka gunakan tadi.


Daffa kembali duduk di sofa dekat istrinya.


"Sayang, nanti siang aku ada meeting dengan rekan bisnis. Teman dekat papa juga, jadi meetingnya agak santai. Apa kamu mau ikut?" tawar Daffa.


"Apa nggak ganggu kerjaan mas Daffa?" Dista merasa tak enak hati kalau sampai mengganggu pekerjaan suaminya.


"Nggak lah, cuma membahas sedikit pekerjaan. Selebihnya pasti cuma ngobrol santai." terang Daffa. "Kamu ikut ya!"


"Iya mas!"


"Pak Rendra juga bawa anaknya. Katanya sih mau dikenalkan sama aku!"


"Apa??" pekik Dista. "Maksudnya, mas Daffa mau dijodohkan dengan anak pak Rendra??"


"Isshh... pak Rendra juga tahu kalau aku sudah menikah, meskipun beliau nggak bisa datang waktu itu. Lagi pula anak pak Rendra cowok!" tegas Daffa.


Dista hanya nyengir menyadari kebodohannya.

__ADS_1


"Ya sudah nanti aku temani kamu. Jam berapa kita berangkat?" tanya Dista.


"Dua jam lagi! Apa kira-kira itu mu sudah nggak sakit? sudah bisa jalan normal?" tanya Daffa penasaran.


"Entahlah!" Dista mengedikkan bahunya.


Pukul 11.30


Beny sudah menunggu di lobby apartemen. Ia juga sudah memberi tahu Daffa akan kedatangannya.


Beberapa menit kemudian, Daffa dan Dista keluar dari lift. Dista berjalan sangat pelan, mencoba menormalkan langkah kakinya yang masih terasa nyeri di **** *************.


Beny yang menyaksikan itu memberanikan diri untuk bertanya.


"Mbak Dista baik-baik saja?" tanya Beny penasaran.


"Iya pak Beny, aku baik-baik saja."


Mereka segera meninggalkan apartemen. Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di sebuah restoran mewah.


Saat memasuki restoran mereka disambut oleh seorang waiters. Dengan sigap waiters tersebut mengantarkan Daffa dan rombongan menuju ruang privat yang sudah dipesan sebelumnya.


Tampak pak Rendra duduk di sebuah kursi dengan penuh wibawa. Segera ia menyapa Daffa.


"Nak Daffa, selamat datang!" sapa Rendra.


"Iya, selamat siang om. Bagaimana kabarnya, sehat?" tanya Daffa berbasa-basi.


"Iya, Alhamdulillah aku sehat. Kamu sendiri sehat? bagaimana dengan orang tua mu? Maaf om belum sempat mampir!" mereka mengobrol santai sebelum memulai membicarakan tentang bisnis.


"Papa dan mama baik-baik saja om. Oh ya, kenalkan ini istri saya."


Dista menyalami Rendra. " Dista om, senang bertemu dengan anda!" ucap Dista ramah.


"Aku Rendra, teman papa mertua mu." ucap Rendra sambil terkekeh.


"Dista, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Rendra.


"Hemm... saya tidak ingat om, meski menurut saya om Rendra sangat familiar." jawab Dista, ia juga merasa familiar dengan laki-laki paruh baya di hadapannya itu.


"Om Rendra kan tinggal di luar negeri, bagaimana mungkin bisa kenal dengan Dista?" timpal Daffa.


"Kamu benar juga hahahaha..." Rendra tertawa.


"Oh ya, dimana anak Oma Rendra? Bukannya seharusnya ikut bersama on Rendra?" tanya Daffa karena ia tak melihat ada orang lain selain Rendra.


"Dia sedang pergi ke toilet." jawab Rendra.


"Nah itu dia datang!" ujar Rendra.


Semua menoleh ke arah pintu.


"Ramon?!" gumam Dista.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2