Perjanjian Cinta Ladista

Perjanjian Cinta Ladista
10. Pahlawan bertopeng


__ADS_3

"Hallo mas Daffa...! Maaf ganggu, apa nanti siang mau aku bawain makanan ke kantor?" tanya Dista ragu-ragu.


"Aku ada meeting di luar. Lain kali aja." Suara dari seberang.


"Oh.. baiklah. Oh ya mas Daffa, apa aku boleh keluar hari ini. Aku bosan sendirian di apartemen.."


"Biasanya gak pernah izin... main nyelonong aja!" Protes Daffa.


"Hehehe... biasanya kan mama yang ngajakin, jadi ada yang tanggung jawab kalau mas Daffa marah."


"Hemmm...."


"Gimana? Boleh kan??" rengek Dista.


"Ya!"


Tut.tut..tut....


" Iihhh... gak sopan banget sih."


Dista membolak-balikkan badannya di kasur, belum terpikirkan mau kemana. Beberapa lama ia belum mendapatkan ide kemana akan mengobati suntuknya ini.


Akhirnya Dista mengganti baju dan bersiap-siap. Ia melangkah keluar dari apartemen.


"Aku ke mall aja kali ya..." gumam Dista.


Dista menyetop taksi, meminta sopir mengantarkannya menuju mall terdekat.


Di dalam mall Dista hanya berjalan-jalan, memang niatnya hanya mau cuci mata. Sayang banget duitnya kalau buat beli baju-baju mahal di mall, mending beli di pasar lebih murah, pikirnya.


Setelah puas jalan-jalan, Dista memutuskan untuk pulang. Tapi sebelum pulang ia mampir ke toko kue di dalam mall. Yah.. buat oleh-oleh, temen nyemil nanti malam. Saat akan masuk toko kue tersebut.


Bruggghh....


"Eh.. maaf.. maaf.. aku gak sengaja." ucap Dista panik.


"Dista..." panggil cowok yang gak sengaja tertabrak oleh Dista.


Dipandangi nya cowok tersebut. Sepertinya Dista tidak asing dengan orang di hadapannya ini.


"Hei.. kamu Dista kan?? "


"Iy..iya... aku sepertinya gak asing sama kamu, tapi siapa ya" ucap Dista ragu-ragu.


"Kamu beneran lupa sama aku? Aku Ramon, teman SMP kamu." seru laki-laki tersebut dengan semangat.


"Ramon..." Dista membulatkan matanya, "Apa benar kamu Ramon,, tapi kamu ...." ucap Dista menggantung.


"Kenapa.. mau bilang aku gendut!!"


"Hehee...." Dista menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Tapi bener ini kamu... kok beda banget sama Ramon yang dulu. Sekarang gak mirip Giant lagi deh..." Dista terkekeh.


"Gimana sekarang ganteng kan?? Udah mirip pahlawan bertopeng belum?" goda Ramon.


hahaha.... Dista tertawa lepas, mengingat kekonyolannya waktu SMP yang bilang pengen punya pacar seperti pahlawan bertopeng.


"Sekarang kamu kuliah atau gimana??" tanya Ramon.


"Aku.. udah nikah!" jawab Dista malu-malu.


"Apa??" Seru Ramon yang tidak percaya. Tampak kekecewaan melintas di wajah tampannya.


"Iya, aku udah menikah hampir sebulan ini."


"Kamu gak kuliah??" Ramon penasaran, bukankah Dista yang ia kenal punya cita-cita yang tinggi. Selain pintar dia juga anak yang rajin, bagaimana mungkin Dista melupakan cita-citanya begitu saja.


"Nggak. Aku kurang beruntung. Makanya saat ada cowok ganteng yang melamar ku langsung aku terima. hehehehe......" jawab Dista sambil bercanda.


"Yahh... aku telat dong!" gumam Ramon.


"hahaaa... Giant, kamu masih suka ngelucu ya ..!"


"Oh ya, kamu mau beli kue juga?" tanya Dista.


"Eh, iya. tadi mama nitip minta di beliin kue. Boleh minta no hp kamu gak??" Ramon melirik ke arah Dista.


" Boleh kok." mereka pun bertukar no hp. Setelah mendapatkan kue masing-masing mereka pun berpisah.


Tak terasa Dista pun terlelap, setelah hampir satu jam tidur. Akhirnya Dista membuka mata, kemudian ia bergegas mencuci muka lanjut menuju dapur.


"Masak apa ya... " sambil melihat-lihat isi kulkas yang sudah banyak berkurang.


"Cari resep di YouTube dulu hehe... " jari-jari lentiknya mengotak atik benda pipih di tangannya. "Masak ini aja deh... kelihatannya simpel."


Lalu Dista mengambil ayam dan beberapa sayuran di kulkas dan segera mengeksekusi sesuai tuntunan di YouTube.


Setelah satu jam lebih Dista berkutat di dapur, akhirnya selesai juga acara memasak nya. Entah mengapa Dista jadi hobi masak, apalagi kalau Daffa mau makan hasil karya nya. Langsung berbunga-bunga hati seorang Dista.


"Sudah beres, sekarang aku mandi dulu deh,." Setelah selesai menata masakannya di meja makan, Dista menuju kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.


Sudah jam 8 malam, tapi Daffa belum pulang juga.


"Apa mas Daffa lembur ya,, "


Dista masih asyik di depan tv sambil ngemil kue yang di belinya tadi. Tiba-tiba suara pintu di buka.


Ceklek....


"Mas Daffa baru pulang?" Tanya Dista.


"Hemm...!!"

__ADS_1


" Mau langsung makan apa mandi dulu mas??" Tanya Dista sambil mengambil tas kerja di tangan suaminya.


Daffa mengerutkan keningnya. Aneh,, kenapa tiba-tiba Dista menjadi seperti istri yang baik.


"Sekarang sudah tahu tugas kamu?" ucap Daffa sambil memperhatikan tingkah Dista.


"hehehe... biar mas Daffa gak marah-marah terus, jadi aku belajar menjalankan tugas istri dengan baik. Meskipun istri bohongan." Dista terkekeh.


Daffa Menaikkan sebelah alisnya.


" Aku mandi dulu.. " Daffa pun berjalan menuju kamarnya.


"Mau aku siapin air hangat mas??" sambil tersenyum manis.


"Gak usah!!"


30 menit kemudian Daffa keluar dari kamar, menghampiri Dista yang menunggunya di ruang makan.


"Kamu masak apa??" Daffa memperhatikan makanan yang terhidang di meja. Ada ayam goreng,capcay dan sambal. Orek tempe serta telur bacem.


"Mas Daffa mau yang mana?"


"Ini juga diajarin mama??" tanya Daffa penasaran. Beberapa waktu yang lalu Dista sama sekali tidak bisa masak, tapi akhir-akhir ini banyak menu yang berhasil ia olah.


"Enggak mas, aku lihat di YouTube."


"Ayo cobain dong.. nanti mas Daffa kasih masukan, biar aku belajar lagi."


"Kamu lagi belajar jadi istri yang baik ya?"


Bluusshh...


Pipi Dista bersemu merah,


"Cuma belajar jadi lebih baik, biar gak kena marah mas Daffa lagi" elak Dista sambil cengar cengir.


"Emmm... lumayan!" setelah Daffa mencicipi masakan Dista, ia memberikan penilaian. Meskipun belum bisa dikatakan lezat. Tapi cukup enak untuk kategori pemula.


"Apa ada yang kurang mas??" Dista semakin antusias.


"Sering-sering masak aja, nanti juga jadi lebih jago."


Malam itu dihabiskan oleh sepasang suami istri dengan banyak obrolan, yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.


Saat malam semakin larut, mereka masuk ke dalam kamar masing-masing. Sungguh hari yang menyenangkan bagi Dista. Akhirnya bisa sedikit dianggap ada oleh Daffa.


Meskipun Daffa bukanlah tipe orang yang kasar dan kejam, tapi sikap acuh dan irit bicaranya mampu membuat orang yang baru mengenalnya merasa terintimidasi.


Begitu pula dengan Dista, yang di awal perkenalannya juga merasa takut pada suaminya tersebut.


Tapi malam ini, Daffa bisa bersikap lebih baik dan hangat. Mau berbincang dengan sedikit candaan diselingi tawa renyah keduanya.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2