
Lyra merasakan ketegangan pada suaminya, ia menyatukan kedua tangan mereka, "Sudahlah, tidak apa - apa. Aku tidak keberatan dipanggil seperti itu, sekarang rumor dengan Mike sudah selesai. Ayo kita akhiri," bisiknya pada Max.
"Iya, Paman. Itu yang diinginkan Gabriela, agar kita terpancing. Jika meladeni perkataan wartawan, itu tidak akan ada ujungnya," Mike menimpali.
Max menarik nafas panjang, ia mencoba bersabar. "Baiklah, kita akhiri sekarang."
Mike memanggil salah satu staff wawancara, "Kami selesai, tolong tutup. Katakan jika ingin wawancara denganku tentang film terbaru, mereka boleh bertanya. Biarkan Sutradara Jade dan Pamanku pergi." Pintanya.
"Baik, Tuan Mike." Jawab sang staff.
"Baiklah, klarifikasi tentang hubungan antara Sutradara Jade dan Tuan Mike kami akhiri sampai disini. Jika ada pertanyaan seputar Film terbaru Tuan Mike, silahkan lanjutkan bertanya."
"Tapi Pertanyaan tadi belum terjawab!" teriak para wartawan.
Max mengangguk memberi perintah pada para bodyguard di bawah stand panggung, dengan cepat para bodyguard itu membuka jalan kembali. Ia merangkul Lyra dalam pelukannya dan berjalan di jalan terbuka di tengah kerumunan wartawan kemudian pergi dari sana.
__ADS_1
***
Seorang wanita cantik tersenyum tipis melihat konferensi pers saudara kembarnya di televisi bandara, saat matanya melihat wajah Max mantan kekasihnya senyuman di bibirnya semakin merekah, "Aku telah kembali, Max."
Wanita berwajah mirip dengan Lyra itu memakai kaca matanya, ia menarik koper keluar bandara. Sebuah mobil sudah menunggunya diluar sesuai kesepakatan, ia segera masuk ke dalam mobil.
Sekitar 20 menit mobil berhenti di sebuah Mansion super megah, supir membuka pintu untuknya. Wanita itu mengeluarkan satu kaki jenjangnya ke luar mobil, lalu menarik seluruh tubuh sexy nya keluar. Moana berdiri menatap Mansion besar seperti milik Max dulu, ia membuka kaca mata hitam nya.
"Kau sudah datang, Moana? Ah, bukan. Namamu adalah Nara, selamat datang." Gabriela memeluk tubuh Moana.
Gabriela mengangguk, "Ayo, masuk. Waktu kita masih panjang, jadi sebaiknya kita bersantai lebih dulu." Ajaknya.
Moana mengangguk, wanita yang kini berambut panjang itu semakin terlihat mirip dengan Lyra. Dulu ketika menjadi anak jalanan karena berasal dari Panti asuhan, ia selalu memangkas pendek rambutnya seperti laki - laki. Pergaulan bebas di jalanan membuatnya terjerumus dalam hal - hal terlarang, karena alasan itu lah ia dengan berat hati dulu harus pergi meninggalkan Max.
Ia adalah seorang pecandu berat, saat itu Max tidak mengetahui tentang kecanduannya pada obat - obatan terlarang. Kini ia sudah sembuh, menjalani rehabilitas selama beberapa tahun dan bekerja keras di LN membuatnya kini bisa bertemu Max dengan percaya diri.
__ADS_1
"Kenapa kau senyum - senyum?" tanya Gabriela saat melihat mantan kekasih Max itu mengulum bibirnya.
"Aku hanya teringat saat berpacaran dengan Max, saat itu dia sering berperilaku nakal. Bahkan rambutnya selalu berantakan tak pernah serapi seperti sekarang," Jawab Moana, mengingat Max hatinya terasa hangat.
Hati gabriela sebenarnya sangat cemburu, tapi ia harus memanfaatkan wanita yang sedang bersamanya ini. Sekali tepuk akan banyak nyamuk yang mati, bukan?
"Kau sudah melihat Max?" tanya Gabriela.
"Ya, di konferensi pers hari ini di TV. Dia masih setampan dan matanya masih terlihat senakal dulu," Ucap Moana sangat ceria.
"Kenapa kau percaya padaku, Moana?" tanya Gabriela lagi.
Moana menatap wajah Gabriela dengan intens, "Kau mempunyai banyak bukti jika Lyra memang telah merebut Max darimu, lalu kenapa kau mencariku dan memintaku datang? Apa kau juga percaya padaku?" Moana bertanya balik.
Gabriela hanya mengedikan bahunya, ia tersenyum manis, "Kita lanjutkan obrolan ini nanti, ayo pilih kamarmu dulu. Nanti jika kau ingin tinggal sendiri, aku bisa mencarikan sebuah Apartemen mewah untukmu."
__ADS_1
Mereka berdua tersenyum palsu, saling menyembunyikan perasaan dan siasat mereka masing - masing. Bagi mereka berdua ini semua adalah permainan, permainan gila yang akan menghanguskan salah satu dari mereka atau akan membinasakan semuanya sampai tak tersisa.