
Noah menatap pintu ruang operasi, di dalam sana Nara masih berjuang antara hidup dan mati. Dia mengingat kembali permintaan Nara di dalam mobil tadi, sesaat wanita itu sempat tersadar meskipun dalam kondisi sekarat.
Flashback ON.
Noah mengikuti Max dari belakang, tapi Max tidak mengijinkannya turun langsung untuk membantu menolong Lyra karena keadaan disana sangat berbahaya. Dia hanya menunggu diluar gerbang rumah sekitar 50 meter jauhnya, tak lama terdengar suara tembak - menembak di dalam. Lalu sebuah mobil keluar, dia mengenalinya itu adalah mobil dari pihak Max yang dipakai Nara tadi pagi. Dia ingin mengikuti mobil itu tapi tembakan di dalam masih berlanjut dan dia menetapkan pikirannya akan menunggu disana sampai pertempuran di dalam selesai.
Ternyata benar saja, tak lama keluar seorang wanita dengan susah payah berjalan. Dia meloncat turun merasa mengenali wanita itu, seraya berlari dia memfokuskan pandangannya pada wajah wanita itu, "Lyra?" dia menggeleng, "Tidak mungkin, Max pasti tidak akan membiarkan Lyra seperti itu. Nara!" dia semakin mempercepat larinya.
"Nara!" Noah menekan luka di perut wanita yang sudah tak sadarkan diri itu, memeriksa denyut nadi dan hidung nafas wanita itu menipis. "Gawat!" dengan sekuat tenaga Noah mengangkat tubuh sekarat Nara dan berlari ke mobilnya untuk segera menyelamatkan wanita itu.
Dengan mengemudi diatas rata - rata Noah menyetir mobilnya, tiba - tiba Nara menarik pakaian atasnya. Dia menatap ke arah Nara, mata wanita itu terbuka sedikit. "Jangan banyak bergerak, nafasmu sudah menipis. Darahmu terlalu banyak keluar."
"No..ah... ak... u... seper.. ti..nya akan mati.. jangan... merepotkan...di..rimu... biarkan...aku..mati. Hahhh...hah.."
"Sudah, jangan bicara lagi." Bentak Noah.
"Ti...dak.. aku wanita... jahat... wanita tak berharga...nyawaku tak cukup berharga untuk.. ada... di dunia... jika.. aku mati.. atau selamat.. tolong katakan... pada keluargaku... aku pergi... ke luar negeri lagi... aku tak ingin...mereka sedih apalagi... menjadi duri dalam... rumah tangga adikku.. hahh... hah.."
"Cukup, diam! Aku adalah seorang Dokter, jika ada orang terluka aku tidak melihat seseorang dari hidupnya. Itu sudah kewajibanku menolong, jadi kamu-" ucapan Noah terhenti melihat dada Nara tenang tak bernafas.
__ADS_1
Cittttt...
Noah memeriksa detak jantung Nara, "Tidak! Tidak! Detak jantungnya berhenti!"
Noah mengangkat tubuh Nara keluar dari mobil menaruhnya di tanah, dia melakukan nafas buatan berulang kali seraya memompa jantungnya. Salah satu telapak tangannya dia tekan di bagian tengah dada wanita itu, telapak tangan lainnya dia letakkan di atasnya. Dia melakukan metode push fast, menekan dada. "Bertahan Nara! 1... 2... 1... 2..." Noah terus memompa jantungnya.
Dia mendekatkan kepalanya ke bagian jantung Nara tapi belum ada detak yang terdengar, dia tidak menyerah memompa kembali jantungnya. "Nara! Kau juga manusia, kau bilang kau tak berharga tapi bagiku tidak ada satu pun nyawa di dunia yang tidak berharga! Hidupmu, nyawamu juga sangat berharga! Jangan menyerah Nara!"
Dugh... Dugh... Dugh!
Noah menaruh kembali kepalanya di tempat jantung berada, "Ada! Detak jantungmu kembali, Nara! Ayo ke rumah sakit!" Noah dengan cepat memangku kembali tubuh Nara masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya dengan cepat.
***
8 Bulan Kemudian....
"Eaaaa.... eaaa...."
"Selamat, Baby Boy!"
__ADS_1
Suara tangisan bayi memecah suasana menegangkan di sebuah ruangan bersalin.
Bagaimana tidak? Sebelum sang bayi lahir, Lyra menjerit kesakitan saat akan melahirkan, Max membentak para Dokter dan Perawat di ruangan itu. Lyra sudah menenangkan suaminya tapi pria parno itu malah semakin menjadi - jadi.
"Max, hosh.. hosh... Jangan begini. Semua wanita melahirkan akan sepertiku, pergilah keluar tunggu disana. Aku... arghtttt..." Lyra terus mendorong bayinya untuk keluar dia menarik dan menghembuskan nafasnya berulang kali.
"Sayang... aku berjanji tidak akan membuatmu melahirkan lagi. Kalian! Cepat bantu istriku! Keluarkan bayi itu dari dalam!" Max menunjuk para petugas bersalin disana.
Para Dokter dan perawat hanya bisa menarik nafas sabar, semua orang sedang berkonsentrasi pada persalinan hanya Max yang membuat kerusuhan.
Saat bayi berhasil keluar, semua orang menarik nafas lega.
Max seketika menangis terharu tapi terlihat sangat lucu, karena berbanding terbalik dengan pria tadi yang berteriak - teriak marah. Dia mendekati bayi mungilnya, "Kau nakal! Kenapa lama sekali keluar membuat Mommy-mu kesakitan." Ucap Max disela isak tangis harunya.
Lyra hanya menarik nafas sabar melihat sekarang malah bayinya yang suaminya itu marahi, dia sudah kehabisan tenaga untuk memarahi suaminya itu.
Max lalu berjalan mendekati istirnya, dia menciumi wajah Lyra. "Selamat sayang, maaf dulu saat kamu melahirkan si kembar aku tak ada di sampingmu. Satu bayi saja membuatmu kesakitan, aku tidak bisa membayangkan saat kamu melahirkan 2 bayi. Terima kasih... Aku mencintaimu."
---Next.
__ADS_1