
Saat sarapan pagi hari itu Lyra merasa mual, ia berlari ke kamar mandi disusul Max, "Ada apa, sayang?"
"Oeekk..." Lyra terus saja memuntahkan sarapannya.
Max dengan telaten memijit pelan leher belakang istrinya.
"Max, bisakah kamu suruh pengurus rumah membawakanku alat test kehamilan. Aku sudah telat 10 hari, pergilah."
Mata Max membelalak terkejut, "S-sayang... kamu..."
"Bawakan dulu, aku harus mengetesnya," wanita itu mengelus pipi klimis suaminya.
Seketika pria itu berdiri, ia setengah berlari keluar kamar dengan cepat menyuruh pengurus rumah membeli alat test kehamilan.
Tak selang berapa lama, alat test kehamilan menunjukkan 2 garis merah, "Sayang, a-aku hamil."
Max terperangah tak percaya, setelah beberapa bulan ini ia selalu pergi berobat ternyata itu berhasil. Ia memangku tubuh istrinya, "Ahhhh makasih sayang, kita akan mempunyai anak lagi. Aku akan menjadi seorang Daddy kembali, aku berhasil sembuh!" Lelaki itu memutar - mutar tubuh Lyra dengan tertawa bahagia.
"Ya, selamat sayang. Kau akan menjadi seorang Daddy kembali." Lyra menciumi wajah suaminya.
__ADS_1
"Ayo pergi periksa ke Dokter, aku akan menyiapkan mobil," semangat Max.
"Tunggu nanti, kamu terlalu bersemangat Max." Lyra menggeleng merasa lucu melihat tingkah suaminya.
"Nanti malam acara syukuran film akhirnya finish, kita harus pergi dan sekarang aku harus mengurus gaun dan penampilanku untuk nanti malam, besok baru kita pergi ke Dokter."
"Baiklah," senyum Max.
Saat makan siang Lyra bahkan memuntahkan masakan berbau laut, ia seketika mual mencium bau masakan seafood.
"Oh, jauhkan itu dariku Max. Udang itu bau sekali!"
"Ada apa Mom?" tanya si gadis kecil Ainsley.
"Ah, ya Mom. Daddy Noah besok akan datang, boleh aku menemuinya? Bolehkah Daddy?" mata kecil Ainsley mengedip - ngedip menatap Ayahnya.
"Apa putri Daddy ini sedang merayu Daddy? Kenapa matamu berkedip - kedip, hehe.." Max terkekeh.
"Ya, aku takut Daddy marah dan tak mengijinkanku bertemu Daddy Noah. Xixi..." gadis kecil itu ikut terkekeh seperti Daddy-nya.
__ADS_1
"Tentu saja boleh, nanti undang dia ke rumah kita."
"Wow, benarkah? Terima kasih Daddy." Ainsley turun dari kursi makan dan menghampiri sang Daddy dan mengecup pipinya.
"Sama - sama, sayang."
***
Malam itu pesta diadakan di ballroom luas dan megah, Max dan Lyra sudah berada disana. Semua tamu yang diundang akan mendatangi mereka berdua untuk bertukar sapa, semua para pemain termasuk pemain pengganti ikut hadir di acara itu.
"Sayang, kenapa kau tidak mau menerima uang ku untuk acara ini? Aku merasa gagal sebagai suamimu." Max cemberut protes karena istrinya tak mau menerima uangnya sepersen pun.
"Gajiku selama bertahun - tahun ini sangat banyak Tuan Max, aku adalah seorang Sutradara terkenal dengan gaji fantastis. Kau meragukan kekayaanku?" sebelah alis Lyra terangkat sengaja menyombongkan kekayaan dan karir suksesnya.
"Hahaha... kau memang wanita idaman para pria. Sepertinya aku tak boleh memandangmu dengan sebelah mata Nyonya Max, ckck..." Max malah tertawa mendengar istrinya menyombongkan diri.
"Tenang sayang, kekayaanmu untuk anak - anak kita nanti. Aku hanya membutuhkan cintamu Max, bayi kita di dalam sini membutuhkanmu. Aku tidak ingin seperti kehamilanku dulu, tak ada kamu disampingku." Ucapnya seraya mengelus perut ratanya.
Max menarik tubuh istrinya, "Aku akan selalu berada di sampingmu, sayang."
__ADS_1
Lyra tersenyum bahagia.
Di salah satu meja, Linda memutar gelas di tangannya, ia menatap wajah bahagia saudari tirinya. "Tertawa lah selagi kau bisa, Lyra. Malam ini terakhir kalinya kau bisa tersenyum," ucapnya seraya mendekatkan gelas berisi anggur lalu meminumnya.