Permainan Gila IN A WEDDING

Permainan Gila IN A WEDDING
Hanya Ingin Max.


__ADS_3

Sopir membuka pintu mobil, kaki panjang Max keluar disertai tubuh tegapnya. Setelah berdiri diluar lelaki itu melongok ke dalam mengulurkan sebelah tangan, "Ayo, sayang."


Wanita pengganti istrinya itu tersenyum manis dari dalam mobil, ia menerima uluran tangan suaminya turun dari dalam mobil.


Max memeluk tubuh istrinya dengan hati - hati menaiki anak tangga menuju pintu depan rumah. Moana tersenyum senang mendapatkan perhatian yang luar biasa dari mantan kekasihnya.


Drttt... Drrrttt...


Ponsel Max bergetar, "Sebentar, sayang. Halo, Ibu Mertua?"


"Max, ponsel Putriku tidak aktif. Ainsley badannya panas, jika nanti kalian sudah pulang dari Pesta bisakah langsung kesini?" terdengar nada suara khawatir Ibu Mertuanya.


"Kami sudah pulang, tunggu! Kami akan segera kesana!" Max mematikan panggilan.


"Sayang, putri kita sakit. Ayo pergi ke rumah Mamamu." Max merangkul tubuh Istrinya menuruni tangga kembali.


Moana memutar bola matanya, Sial! Ini lah yang aku khwatirkan, kedua anaknya! Wanita itu menggerutu dalam hatinya.


Sopir membawa kembali kendaraan beroda empat mewah itu menuju Mansion Ibu Lyra.


"Princess Daddy, ada apa?" Max merangkul tubuh putrinya yang terbaring lemah di atas ranjangnya.


"Aku sepertinya flu, Daddy," jawab gadis kecil itu tanpa semangat ceria seperti biasanya.


"Mama sudah memberinya obat pereda demam, tapi dia terus ingin bertemu Mommy-nya," ucap Vennie.

__ADS_1


"Tadi siang masih tidak apa - apa, apa karena cuaca yang berubah - rubah?" Max bergumam.


Moana menggigit bibirnya, di Mansion Gabriela dia sempat latihan menjadi seroang Ibu tapi sekarang dia sangat gugup.


"Mommy, peluk aku..." manja gadis kecil yang sedang sakit itu.


Moana melangkah dengan pelan menghampiri ranjang putri saudari kembarnya itu, ia tersenyum kaku.


Max menatap heran istrinya, "Sayang?"


"Ah, maaf. Mungkin sedikit kecapean, sini sayang Mommy peluk," Moana segera memeluk Ainsley.


"Baiklah, kalian menginap disini saja dulu. Archie, ayo pergi ke kamarmu," ajak sang Nenek pada cucu lelakinya.


Archie mengangguk tapi sorot matanya menatap heran pada sikap gugup Mommy-nya. Bocah lelaki itu lalu mengendikkan bahunya, ia mengikuti sang Nenek keluar dari kamar saudari kembarnya tak menghiraukan lagi keanehan Ibunya.


"Baiklah, aku ganti pakaian dulu," Moana mengangkat tubuhnya dari pinggir ranjang dan berjalan keluar kamar.


Setelah diluar wanita itu celingak - celinguk mencari kamar Lyra, ia melangkah dengan ragu.


"Kamu mau kemana, Nak?" suara Ibunya mengagetkannya.


"Aku mau berganti pakaian, tapi aku sangat haus ingin mengambil mi-minum dulu," gagap Moana.


"Pergilah ke kamarmu, Mama akan suruh Art untuk mengantarnya nanti," ucap Vennie.

__ADS_1


Moana hanya terdiam, akhirnya ia menenangkan dirinya. "Aku lupa ada sesuatu yang harus aku berikan pada Mama, itu ada di kamarku. Ayo Mah, kita ke kamarku dulu."


Vennie menatap putrinya tak mengerti tapi dia mengangguk dan berjalan lebih dulu menuju kamar putrinya.


Moana menarik nafas lega, ia mengikuti langkah Ibunya masuk ke sebuah kamar besar tidak jauh dari kamar Ainsley keponakannya.


"Barang apa?" tanya Vennie.


"Sebentar, aku merasa sudah menyimpannya di dalam lemari," seraya membuka lemari pakaian berpura - pura membuka laci - laci dan kotak persegi di dalam lemari, "Ah, apa aku menaruhnya di Mansion Max?!" ia menepuk jidatnya.


"Memangnya penting?" bingung Vennie.


"Aku membelikan Mama kalung untuk hadiah ulang tahunmu 2 hari lagi, ya ampun aku lupa menaruhnya dimana!" sandiwara Moana.


"Xixixi... dasar putri Mama ini. Kamu masih saja pelupa, ah Lyra andaikan kado Mama tahun ini spesial..."


"Mama ingin kado spesial apa?" tanya Moana penasaran akan Ibu kandungnya itu yang setelah belasan tahun akhirnya bisa bertatap wajah.


"Mama berharap Tuhan akan mempertemukan Mama dengan saudari kembarmu, Nara. Seperti Mama menemukanmu di jalanan saat kamu hamil, andai Takdir mempertemukanku dengan Nara seperti kita..." ucapnya sedih.


Apa maksudnya bertemu Lyra di jalanan saat Lyra hamil? Bukankah Gabriela bilang mereka bertemu sudah lama sejak Lyra remaja dan mereka sangat bahagia dan Mama melupakan keberadaanku dan tak ingin mencariku? Dalam hatinya Moana kebingungan.


"Sudahlah, bagaimanapun Mama tidak akan pernah berhenti mencari saudarimu. Mama yakin putriku itu akan datang padaku sepertimu, sayang." Vennie memeluk putrinya seraya mengelus sayang rambut putrinya itu.


Tubuh Moana menegang, sudah lama ia tidak mendapatkan pelukan dari seseorang yang menyayanginya. Terakhir kali Max lah yang memeluknya dengan penuh kasih sayang, bahkan lelaki itu berjanji akan menjadikan dirinya wanita satu - satunya.

__ADS_1


Aku tidak boleh terpengaruh dengan ini! Aku hanya ingin Max! Aku hanya ingin dia!


__ADS_2