
Ranjang rumah sakit didorong masuk ke dalam ruangan unit darurat dengan tubuh lemah Lyra diatasnya. Max ingin menerobos masuk tapi beberapa perawat menahannya, "Tunggu diluar, Tuan! Jangan menghalangi para Dokter!"
Max menyerah, tubuhnya terkulai lemas di depan pintu ruang darurat saat pintu tertutup, "Kamu dan anak kita harus bertahan, sayang..."
Jovanca mendekati putranya, "Max..."
Seketika mata Max menatap wajah Ibunya yang membengkak mengerikan, tatapannya turun ke sebelah tangan Ibunya yang terkulai. "Mah, ada apa denganmu? Sedang apa Mama dirumah itu? Bukankah Mama akan berlibur ke LN?" Max berdiri menghampiri Ibunya.
"Mama juga diculik, saat perjalanan di bandara. Baru kemarin Mama dipindahkan ke rumah itu. Max, Lyra dan cucu mama akan selamat. Mama yakin..." Jovanca terisak menangis.
Max menatap heran pada Ibunya, merasakan perubahan pada diri Ibunya itu. "Ayo obati luka Mama, tangan Mama sepertinya sangat parah."
Setelah beberapa jam, seorang Dokter akhirnya keluar. Sang Dokter membuka masker, "Apakah pasien istri Anda, Tuan?" tanyanya.
Max mengangguk, "Ya Dokter, bagaimana keadaan istri saya dan bayinya?"
"Anda bisa lega sekarang, Ibu dan janinnya berhasil diselamatkan. Tapi istri Anda membutuhkan perawatan yang sangat lama, janin istri Anda masih sangat rentan dan bisa keguguran kapan saja. Anda harus menjaga pola makan, pikiran dan hati istri Anda. Jangan biarkan istri Anda stress atau terlalu memaksakan dirinya berkaktifitas berat."
"Baik Dokter, kapan istri saya keluar dari dalam?"
__ADS_1
"Tunggu sebentar lagi, sebaiknya Anda menyiapkan kamar rawat untuk istri Anda." Dokter pun pergi dari sana.
Max dengan cepat memesan ruang rawat terbaik di rumah sakit itu, dia lalu kembali menunggu di depan ruang gawat darurat.
Max teringat Moana, dia segera menelepon Daniel, "Bagaimana keadaan disana?"
"Tuan, Gabriela berhasil kabur dibantu beberapa anah buahnya yang selamat. Kami mengejarnya tapi kami kehilangan jejaknya."
"Lalu, Moana?"
"Maaf Tuan, sebelum kami mengejar Gabriela aku sudah memeriksa ke sekeliling rumah tapi Moana hilang. Aku sempat melihatnya berlari keluar gerbang luar, disana ada genangan darah. Aku tidak tau apa yang terjadi padanya."
"Iya, Tuan."
Max menutup panggilan, dia menghela nafasnya. "Kemana Moana? Apa yang harus aku katakan pada Lyra? Lyra tak boleh stres..." lelaki itu menyenderkan kepalanya ke dinding menutup matanya frustasi.
Saat mendengar suara pintu terbuka seketika matanya terbuka, Max melihat para perawat mendorong keluar ranjang dengan tubuh Lyra di atasnya. "Sayang..." teriaknya seraya berjalan mendekati ranjang.
Kedua mata istrinya masih terpejam, dia mengikuti para perawat mendorong ranjang ke ruangan yang telah dia pesan.
__ADS_1
Menunggu 2 jam akhirnya mata Lyra dengan perlahan terbuka, dia mengerjapkan matanya beberapa kali, "Uhh..." lirihnya.
Max mengangkat tatapannya ke wajah istrinya, "Sayang, kamu sudah sadar."
Kepala Lyra menengok ke wajah suaminya, "Max, anak kita?" ucapnya seraya menyentuh perutnya.
"Baby kita baik-baik saja sayang, anak kita kuat sepertimu." Setetes air mata lolos dari mata Max.
Lyra menghapus air mata di wajah suaminya, "Maaf sudah membuatmu khawatir..."
Max menggeleng, "Aku yang salah, aku minta maaf."
"Shhh, aku sudah tidak apa-apa Max. Dimana Mamamu, kak Nara?"
Mau tak mau Max harus berbohong, "Mama sedang dirawat di kamar lain, sedangkan Moana selamat dia sedang istirahat di rumah Mamamu."
"Syukurlah, Max."
Max mengenggam tangan istrinya, menciuminya terus menerus.
__ADS_1
---Like Komen Rate 5. Tinggalkan jejak biar gak sepi wkwk ♡