
Max tersenyum melihat istrinya keluar dari tempat syuting, dia berjalan mendekati Lyra, "Sayang..."
Kepala Lyra yang menunduk sedang memeriksa ponselnya seketika terangkat, "Max! Kamu sudah datang. Aku baru saja mau meneleponmu, sini peluk... aku sangat merindukanmu," seraya berlari kecil menghampiri suaminya.
Max menarik tubuh kecil istrinya ke dalam pelukannya, ia mencium bibir Lyra sekilas, "Sepertinya aku yang lebih merindukanmu."
Lyra tersenyum, "Ayo pulang."
"Tidak, putri manis kita memerintahku untuk membawamu jalan - jalan. Ainsley bilang padaku untuk membawamu makan enak, membelikanmu eskrim. Jadi Nyonya Max, maukah kamu pergi jalan - jalan?"
"Tentu suamiku, mari pergi." Lyra mengaitkan tangannya pada lekukan lengan suaminya, seraya tertawa renyah ia menarik tubuh kekar Max berjalan bersamanya.
"Bagaimana jika pergi makan ke hotel, lalu menginap disana? Aku akan menyiapkan kamar seromantis mungkin, anggap saja malam ini adalah honeymoon kita yang tertunda." bisik Max.
"Kau nakal! Haha..."
"Kau setuju, baiklah aku akan menyuruh Daniel menyiapkan kamar untuk kita, sayang."
Max menelepon Daniel, ia berbicara beberapa patah kata lalu mematikan panggilannya. "Selesai! Ayo pergi."
***
Gabriela baru saja mendapat laporan dari anak buahnya jika Max sepertinya akan ke sebuah Hotel bersama Lyra. "Max akan pergi ke Hotel bersama wanita itu, pergilah. Semakin kau sering muncul itu akan membingungkan Max. Kapan kau siap menggantikan saudari kembarmu?"
"Sebentar lagi, aku masih membiasakan cara berjalan, cara berpakaian dan juga semua raut wajah Lyra. Tunggu 1 atau 2 minggu lagi agar semua sempurna. Apa kau sudah bicara dengan Linda? Suruh dia mendekati dan berpura - pura baik pada Lyra, suatu hari Linda akan sangat berguna," Ucap Moana, ia lalu berjalan ke arah lemari memeriksa gaun yang akan dipakainya malam ini.
__ADS_1
"Sepertinya dress warna peach itu yang sedang dipakai Lyra, tadi anak buahku memberikan fotonya hari ini," ucap Gabriela.
Moana menarik dress yang dikatakan Gabriela, ia memasang di tubuhnya berputar seraya menatap cermin besar, "Oke."
"Ini tampilan Lyra hari ini, kau bisa memoles wajahmu seperti dia. Aku akan menunggumu di bawah, setelah siap anak buahku akan mengantarmu ke hotel." Ujar Gabriela seraya memberikan foto Lyra hari ini.
Moana hanya mengangguk.
"Kau belum bertemu Ibu kandungmu, kan?" selidik Gabriela.
"Belum, aku membenci Lyra karena dia mendapatkan kasih sayang dari Ayah dan Ibuku bahkan cinta Max. Sedangkan sejak kecil aku selalu menderita, Ibuku juga tidak akan aku maafkan." Sorot mata Moana berubah tajam.
***
Max tersenyum. " Berhenti disini," ucapnya pada sang sopir.
Mobil seketika berhenti, Lyra dengan tidak sabar keluar dari mobil. Max menyusulnya dan mengaitkan telapak tangan mereka berdua.
"Kau pasti belum pernah berjalan kaki sepanjang hidupmu, Max. Tapi sejak remaja jika sedang kekurangan uang aku akan berjalan kaki untuk menghemat uang," kenangnya.
"Kata siapa aku belum pernah berjalan kaki? Saat pacaran dulu dengan Moana, aku sering dia ajak makan dipinggir jalan. Moana wanita sederhana, bahkan dia sedikit tomboi. Tapi itu lah yang aku suka darinya, dulu." Max mengingat kembali saat bersama mantan kekasihnya itu.
"Kau pertama bertemu dengannya dimana?" tanya Lyra penasaran.
"Di lampu merah, dia sedang mengamen. Kebetulan dia bernyanyi di depan mobilku saat aku akan berangkat ke Perusahaan. Karena terpesona dengan suara dan wajah cantiknya, setiap hari aku menyuruh supirku agar mengambil jalan disana jika ke Perusahaan."
__ADS_1
"Lalu?"
"Lalu aku memberanikan diri mengajaknya bicara, memintanya bertemu di kafe terdekat. Moana mengangguk setuju, dari sana kami sering bertemu. Tapi Moana sering mengatakan dia tidak suka penampilan rapihku, keesokan harinya aku memakai pakain kasual dan memberantakkan rambutku." Mata Max menerawang, ia menghela nafas.
"Kau masih merindukannya?" tanya Lyra tiba - tiba.
"Tentu saja tidak sayang, hanya saja karena dia meninggalkanku tanpa berpamitan aku merasa seperti kisahku dengannya tidak pernah usai. Sayang, aku tidak lagi mengharapkannya karena aku sudah tidak menyukainya lagi. Moana adalah kisah masa laluku, sedangkan kamu adalah seluruh hidupku." Max menarik tubuh istrinya, mengangkat wajahnya lalu menciumnya lembut.
Lyra melepaskan pagutan Max dari bibirnya, "Aku tau, kau selalu bilang dia mirip denganku kan? Aku sebenarnya ingin menceritakan ini padamu, tapi aku selalu lupa. Aku mempunyai saudari kembar Max, namanya Nara. Saat kecil kami terpisah karena masalah orang tuaku, aku bersama Ayahku dan Kak Nara bersama Mamaku. Apa Moana mempunyai keluarga?"
Mata Max membelalak terkejut, "Kau kembar dan kalian terpisah?"
"Max, kenapa kau terkejut?"
"Usia berapa kalian terpisah?" desak Max.
"Kata Mama sekitar usia kami 2 tahun, Mama kehilangan Kak Nara saat umurnya sekitar 4 tahun. Ada apa?"
Wajah Max memucat, "Moana bilang dia ada di panti asuhan sejak usianya 4 tahun, dia hanya mengingat Ibunya tapi itu pun tidak jelas. Sayang, apa Moana adalah saudari kembarmu?"
Tubuh Lyra seketika lunglai, ia berpegangan pada suaminya, "Max, apakah itu benar? Apa kau mempunyai foto Moana?"
"Ada, aku akan menyuruh staff kepala rumah mengirim foto Moana yang ada di laci meja kerjaku di rumah."
Tak lama sebuah file masuk ke dalam ponsel Max, itu adalah foto Moana yang berambut pendek. Wanita itu sedang tersenyum bahagia ke arah kamera dengan Max yang memeluk Moana dari belakang.
__ADS_1