
Moana masuk kembali ke kamar gadis kecil keponakannya itu, ia melihat pria yang dicintainya sudah pulas terbaring di kursi pinggir ranjang putrinya.
"Max, kau tidak tau penderitaanku agar bisa kembali padamu. Bertahun - tahun menahan semuanya hanya satu harapanku bertahan dari dunia kejam ini agar bisa kembali bersama denganmu. Bukankah kau dulu menerima Lyra karena dia mirip denganku? Bukankah aku lah wanita yang sebenarnya kau cintai? Kembalilah padaku, Max. Kenali aku..." lirihnya.
Moana maju menuju lemari mencari selimut lalu setelah mendapatkannya ia menyelimuti Max, "Aku mencintaimu, Max..." ia mengecup pipi Max.
"Emm, aku juga mencintaimu sayang," gumam Max tanpa membuka mata kantuknya.
"Kau masih terbangun?" tanya Moana.
"Aku sangat mengantuk, aku akan kembali tidur, " jawab Max masih tak membuka matanya.
"Baiklah, tidurlah."
"Kamu juga sayang..." gumam Max.
Moana tersenyum, wajah manis Max masih tetap sama saat tertidur. Tangannya mengelus pipi lelaki itu dengan lembut, ia menghela nafas pelan lalu berjalan keluar dari kamar untuk tidur di kamar Lyra.
Esok paginya tubuh Moana terasa sesak, ia perlahan membuka kedua matanya. Max sedang memeluk tubuhnya erat, mata lelaki itu sedang menatapnya lembut.
__ADS_1
"Morning, kesayanganku..." Max mengecup bibir wanita di sampingnya.
Moana tersenyum bahagia, "Morning Max, kamu tidak berangkat ke Perusahaan?"
Max mengangkat tubuhnya bangun, "Putri kita masih manja tapi tubuhnya sudah tidak panas. Tadi saat aku bangun aku mencarimu tapi tidak ada di kamar Ainsley, jadi aku kesini. Ayo bangun, kita akan sarapan."
"Gendong aku bangun," manja Moana seraya kedua tangannya terangkat ke atas.
Max tersenyum melihat kemanjaan istrinya, "Ayo, Nyonya Max..." seraya mengangkat tubuh mungil istrinya dan menggendongnya turun dari ranjang.
"Sana cuci wajahmu, Nyonya. Aku akan turun, kata Mamamu barusan anak - anak sudah menunggu," Max mengecup kening istrinya lalu berjalan keluar kamar.
Max mendekati kedua anaknya, "Mommy kalian sedang bersiap dan sebentar lagi turun, ayo sarapan lebih dulu."
Salah satu staff Mansion datang menghampiri meja makan, "Nyonya, seorang pria bernama Tuan Noah datang."
"Daddy!" teriak twins mereka segera berlari menuju pintu depan.
Max hanya tersenyum ia mengikuti anak - anak mereka di belakang.
__ADS_1
"Max, jangan salah paham dengan Noah. Dia adalah seorang Dokter dan pernah menyelamatkan Lyra saat terjatuh yang membuat kakinya terkilir. Selama beberapa tahun ini mereka hanya berteman, hanya saja anak - anak yang kekurangan kasih sayang Ayahnya sudah menyayangi Noah dan menganggapnya Daddy mereka," Ibu mertuanya menjelaskan.
"Baik Ibu, tidak apa - apa. Lyra sudah menjelaskannya padaku." Lelaki itu tersenyum.
"Baguslah..." Vennie mengangguk lalu ikut mengikuti kedua cucunya.
"Daddy Noah!" Ainsley segera memeluk tubuh pria tinggi dan juga sangat tampan itu.
"Oh, my girl. Beberapa bulan tidak bertemu kamu semakin tinggi, sini Daddy lihat wajahmu yang menggemaskan ini," ucap Noah seraya memeriksa wajah Ainsley satu - persatu seperti perkataannya.
"Xixixi, Daddy Noah tetap yang terbaik..." gadis kecil itu mengecup sayang pipi Noah.
"Daddy Noah, kamu tidak merindukanku?" manyun Archie.
Noah menurunkan tubuh Ainsley, ia lalu merentangkan kedua tangannya, "Sini peluk, tentu saja Daddy kangen."
Archie segera merangkulkan kedua tangannya di leher sang Daddy, Noah segera mengangkatnya berdiri untuk menggendongnya.
"Archie, kamu sudah besar. Apa tidak malu masih digendong?" cemburu Max, tadinya ia merasa senang ingin mengenal lelaki yang pernah menjaga istri dan kedua anaknya tapi sekarang ia merasa cemburu melihat kedekatan mereka.
__ADS_1