
Beberapa hari kemudian keadaan mulai tenang, rumor - rumor sedikit mereda. Meskipun masih banyak bisik - bisik tak baik tapi karena gosip itu tidak bersangkutan dengan Mike, di lokasi syuting para staff dan kru pun fokus bekerja kembali. Para penggemar Mike pun sudah tak menyerang Lyra lagi.
"Sutradara Jade, apa adegan ini akan memakai pemeran pengganti? Loncatan ini terlalu berbahaya untuk Nona Annabel." Ucap sang Asisten Sutradara.
"Baiklah, kamu carilah tinggi dan tubuh yang pas dengan tubuh Annabel." Jawab Lyra, ia sedang memeriksa beberapa naskah yang harus di edit.
Ia mengedarkan pandangannya, ia melihat Mike sedang menghapal dialog naskahnya dengan Annabel sang artis utama. Lyra menyukai wanita itu, pribadi Annabel sangat tulus tidak dibuat - buat seperti aktris wanita lainnya. Ia berjalan mendekati mereka, "Besok kita akan pindah lokasi syuting, sebuah Villa di pesisir pantai. Aku sudah meminta ijin pada Pamanmu agar mengijinkan kita syuting di Villa-nya, Mike."
"Baiklah, kau baik - baik saja? Mengenai rumor tentang adik tirimu dan Gabriela jangan terlalu kau pikirkan," Mike menatap Lyra dengan pandangan baru, sekarang ada rasa persaudaraan di hatinya.
"Tentu saja, ahya Annabel... nanti seorang pemeran pengganti akan menggantikanmu dalam adegan meloncat dari atas lantai 2." Info Lyra.
"Baik, Sutradara." Annabel mengangguk tersenyum manis.
"Kau manis sekali Annabel, sangat cocok dengan Mike." Iseng Lyra seraya ngeloyor pergi dari sana.
Annabel dan Mike tiba - tiba terlihat canggung, keduanya mengipasi wajah mereka dengan kertas naskah. Para asisten mereka maju mendekati mereka dengan membawa kipas saat melihat mereka berdua seperti kepanasan.
__ADS_1
"Darren, ambilkan aku minum," Mike tiba - tiba merasa haus.
"Oke," jawab Darren.
"Tunggu, bawakan dua minuman dingin. Kamu suka minuman apa, Annabel?" Mike menghentikan langkah asistennya lalu melirik ke arah Annabel.
Annabel terkejut ia tak menyangka Mike akan menawarinya, "Aku ingin jus asparagus, terimakasih."
"Kau dengar itu, Darren. Pergilah," ucap Mike.
Kini mereka tinggal berdua, Mike beberapa kali membenarkan duduknya ia merasa salah tingkah di depan Annabel.
"Kamu kenapa?" tanya Annabel heran melihat tingkah lelaki yang duduk di kursi sampingnya.
Mike menggeleng, " Kamu mempunyai saudara?" tanyanya tiba - tiba diluar tema naskah.
"Kenapa tiba - tiba kau penasaran denganku?" Annabel menaruh naskah yang sedang di pegangnya ke atas meja, ia menatap tajam Mike.
__ADS_1
"Kenapa kau begitu serius? Aku hanya sedikit penasaran dengan lawan mainku, jika keberatan menjawab kau tidak perlu menjawabnya," decak Mike kesal.
"Sekarang kau kesal?" sebelah alis Annabel terangkat, tidak mengerti akan sikap Mike.
"Tidak! Baiklah cukup, ayo lanjutkan latihan kita." Mike menarik nafas, ia kini kesal dengan tingkahnya sendiri.
"Aku anak yatim piatu, berada di panti asuhan sampai usiaku 11 tahun. Sepasang suami istri yang tidak bisa memiliki anak selama 15 tahun di pernikahan mereka akhirnya mengadopsiku, jadi aku tidak mempunyai saudara," Jawab Annabel tiba - tiba.
Seketika Mike mengalihkan tatapannya dari naskah, ia menatap Annabel dengan simpatik. Ia merasa mereka berdua sangat mirip, sama - sama telah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya.
Annabel menggelengkan kepalanya. "Jangan melihatku seperti itu, Mike. Sedikitpun aku tidak pernah mengasihani diriku sendiri, aku tidak bisa terima kau menatapku dengan rasa kasihan."
"Aku tidak mengasihanimu. Aku hanya teringat Ibuku yang sudah lama menghilang dan juga teringat Ayahku yang sudah meninggal," Mike menggusap air mata di sudut matanya.
"Maaf, Mike. Aku tidak tau. Kau menangis?"
"Sedikit, kau tau Annabel? Sepertinya kita punya kemiripan," Mike akhirnya tersenyum, ia dulu menganggap semua artis wanita selalu memakai kedok di wajahnya, mereka selalu berpura - pura berwajah manis dan polos terlalu sangat munafik. Tapi Annabel berbeda, wanita itu tak segan menceritakan kehidupan aslinya.
__ADS_1