Permainan Gila IN A WEDDING

Permainan Gila IN A WEDDING
Ingin Mempunyai Banyak Anak.


__ADS_3

Sepasang suami - istri itu saling berpelukan, Lyra terus menerus mengelus punggung suaminya menguatkan. Seketika ia sadar kedua anaknya ternyata tidak pergi sekolah.


"Ainsley, kenapa kamu tidak sekolah? Dimana saudaramu?" Lyra melepaskan pelukannya dari Max seraya mengedarkan pandangan mencari sosok putranya.


"Archie tidak ingin pergi ke sekolah, aku juga tidak mau pergi," gadis kecil itu mengedikkan bahunya lucu.


"Kenapa saudaramu tidak mau sekolah?" tanya Max pada putri menggemaskannya itu.


"Entahlah, tapi ada satu anak nakal yang baru saja masuk ke kelas kami. Dia sangatttt nakal, selalu menganggu Archie!" Ainsley menggeleng - gelengkan kepala kecilnya.


Max menatap istrinya, "Aku akan mencarinya."


"Dia ada di kamar tidurku, bermain konsolku," Mike buka suara.


Tak menunggu lama Max segera pergi ke kamar keponakannya, ia membuka pintu perlahan dilihatnya putranya sedang memainkan konsol game di tangannya.


"Putra Daddy sedang bermain apa?" tanya Max seraya duduk di samping putranya itu.


Putra kecilnya itu terus menunduk tak mengindahkan kehadiran Ayahnya, tetap memainkan konsol di tangannya. Keningnya mengkerut karena sepertinya ia akan kalah dalam permainan.


"Gerakannya salah, Archie harus pergi ke arah kanan lalu mengambil senjata shoutgun dipojok atap itu. Lalu meloncat ke bawah bersembunyi di lorong itu, musuh akan datang kamu tinggal menembaknya."

__ADS_1


Tanpa berpaling Archie mengikuti intruksi dari Daddy-nya. Ia akhirnya tersenyum karena bisa menembak musuhnya, "Apa Daddy sering memainkannya?"


Mata Max seketika berbinar akhirnya mendengar putranya memanggilnya Daddy, ia tersenyum senang. "Tentu saja, Daddy sudah berada di level atas. Apa Archie ingin bermain bersama Daddy?


"Ya!" semangat putranya.


"Oke, nanti Daddy kirim pertemanan. Sekarang maukah Archie mengatakan pada Daddy kenapa tidak mau sekolah, kata saudari kembarmu putra Daddy ini diganggu anak baru. Benarkah?"


Seketika Archie melepaskan konsol mainan di tangannya lalu menaruhnya di atas kasur, ia turun dari ranjang Kakak sepupunya itu lalu berlari pergi keluar.


Max menarik nafas pelan, ternyata sangat sulit menghadapi putranya. Ia segera menyusul putranya keluar, tapi berhenti di depan lukisan Lyra yang masih terpanjang di dinding depan kamar Mike.


Lelaki itu memanggil salah satu staff Mike, ia menyuruh staff rumah itu menurunkan lukisan istrinya.


"Apa itu?" tanya Lyra penasaran.


"Lukisanmu, sahabatmu Mike sengaja membuat lukisanmu dan memajangnya di dinding depan pintu kamarnya dan belum menurunkannya." Max melirik keponakannya.


Kepala Lyra berputar memandang Mike, lelaki yang ditatapnya hanya mengedikkan bahu.


"Hanya ingin mengingatmu saat kau menghilang, sekarang aku tak perlu lagi. Bawa saja bersamamu, Paman." Mike nyengir.

__ADS_1


"Wah, cepat sekali perasaanmu berubah. Apa ada wanita lain pengganti Bibimu?" goda Max.


Sontak perkataan Pamannya membuat Mike salah tingkah, ia tiba - tiba terbayang wajah Annabel. "Ti-tidak! Mana ada!" elaknya.


Lyra menatap curiga pada Mike, "Bohong! Kau sedang berbohong Mike. Ayo katakan pada kami, siapa wanita itu?"


Mike menggeleng, ia kabur berlari pergi menuju kamarnya dan mengunci pintunya tak ingin terus dicerca pertanyaan oleh Paman dan sahabatnya itu.


"Cih! Pasti dia sedang tertarik pada wanita. Tapi Max, kenapa kau datang sendiri. Kemana putra kita?"


"Dia tadi kabur keluar kamar, aku tertahan karena lukisan ini. Lalu dimana putri kita?"


Sekarang kedua anaknya tidak terlihat.


"Tadi dia disini, apa menemui saudaranya. Biar aku yang cari mereka," Ujar Lyra seraya bangkit dari sofa dan mulai berjalan pergi ke taman samping.


Ternyata mereka ada disana, wanita cantik itu melihat kedua anaknya sedang berlari di taman, sepertinya Ainsley berhasil membuat Archie tidak cemberut lagi.


Max menyusul istrinya ia juga melihat kedua anaknya sedang bermain dengan ceria. Ia berjalan mendekati istrinya, memeluk Lyra dari belakang. "Aku ingin mempunyai banyak anak darimu, sayang."


"Jangan menyerah, kita akan terus memeriksamu ke Dokter. Kau dulu subur bisa mempunyai anak, aku yakin semua akan baik - baik saja," sahut Lyra memberi semangat suaminya.

__ADS_1


"Makasih sayang, aku mencintaimu." Max semakin mengeratkan pelukannya.


__ADS_2