Permainan Gila IN A WEDDING

Permainan Gila IN A WEDDING
Keoptimisan Lyra.


__ADS_3

Di dalam ruangan itu hanya tinggal Lyra dan Ibu mertuanya.


"Mama, sejak kapan kamu dikurung?" tanya Lyra menatap kasihan melihat wajah bengkak Ibu mertuanya, apalagi sebelah tangannya begitu saja terkulai.


"Enthlah, sejak aku berpamitan pada Max akan pergi ke luar negeri."


"Ya, Max juga mengatakannya padaku. Bagaimana Gabriela menculik Mama?"


"Saat aku dalam perjalanan ke bandara, tiba-tiba aku sudah dibawa ke sebuah rumah lalu dikurung. Tak lama aku dipindahkan kesini..."


"Aku yakin Max akan menyelamatkan kita, Mah."


Jovanca menatap Lyra, "Maafkan aku Lyra, semua adalah salahku. Kau tau? Dulu aku sangat naif sepertimu, saat gadis aku menatap dunia ini dengan pandangan indah. Tapi suatu hari seorang pria meruntuhkan keindahan itu, pria itu lebih memilih menikah dengan wanita kaya dan meninggalkanku. Pria itu adalah Ayah Gabriela."


Lyra menarik nafas terkejut.


Jovanca menghembuskan nafas pelan, "Dulu aku sangat mencintainya tapi malah pengkhianatan yang aku dapatkan, sejak saat itu aku berubah menjadi gadis yang ambisius. Aku berjanji akan menjadi wanita kaya dan akan membalas dendam pada pria itu. Kemudian aku menikah dengan Ayah Max yang seorang duda berusia 25 tahun lebih tua dariku yang bahkan sudah mempunyai seorang anak gadis. Tapi aku gak perduli, aku hanya menginginkan hartanya. Setelah berhasil menikah dan mempunyai Max, aku memfitnah Kakak Max agar bisa mendapatkan semua harta dan Ayah Max akhirnya mengusir anak tiriku dari rumah. Saat semua berjalan dengan mulus, aku mencari tau tentang kehidupan pria itu. Ternyata pria yang telah meninggalkanku telat mempunyai anak karena usia Gabriela lebih muda dari Max. Lalu aku memaksa Max menikahi Gabriela agar bisa mengambil harta yang ditinggalkan orang tuanya. Pria itu sudah meninggal bersama istrinya dalam sebuah kecelakaan, jadi aku berniat balas dendam pada putrinya. Aku sudah merencanakan balas dendam ini sejak lama, tapi aku tak pernah berpikir karena balas dendamku akan menyakiti putraku dan semua orang. Aku menyesal... " ia terisak, menyesali semuanya.


"Mah..." Lyra bangkit dari duduknya dengan menahan sakit di perutnya, ia mendekat dan duduk di sebelah Ibu mertuanya. Ia memeluk wanita yang di masa mudanya adalah gadis baik dan malah berakhir menjadi wanita haus akan kekayaan karena pengkhianatan seorang pria.


"Maafkan aku, Lyra..."


"Aku sudah memafkan Mama sejak lama, aku juga ada kabar baik," Lyra tersenyum.


Jovanca menghentikan tangisannya, ia menatap wajah menantunya.

__ADS_1


"Aku sedang mengandung lagi, Mah." Senyuman Lyra merekah.


"Ohhh, oh sayang.... selamat. Bagaimana perutmu?" seketika ia cemas.


"Sakit, tapi aku yakin janinku akan baik-baik saja," Lyra optimis.


***


Sebelum pintu Mansion Gabriela terbuka, Moana menarik nafas panjang.


Pintu terbuka, dia melangkahkan kakinya masuk dengan percaya diri. Bagaimanapun dia harus menyelamatkan saudari kembarnya!


"Kenapa kamu datang kesini? Aku sudah bilang hati-hati, kau tidak tau Max selalu mudah curiga." Gabriela menatap tak suka pada Moana.


"Tenang saja, Max pergi katanya ada keperluan bisnis. Aku juga bilang padanya ada pertemuan dengan Produser." Bohong Moana.


"Aku ingin bertemu dengan Lyra, aku hanya ingin melihat wajah menderitanya. Pertemukan aku dengannya, Gabriela."


"Tidak! Peranmu disini adalah menggantikan Lyra di samping Max, dan Lyra adalah urusanku," tolak Gabriela.


"Hanya satu kali aku ingin bertemu, kau jangan egois Gabriela. Aku juga membenci Lyra sama sepertimu, aku harus merasakan kepuasan saat melihat wajah menderitanya."


Gabriela menatap tajam Moana, "Baiklah, ikut aku. Dia aku bawa ke tempat lain..."


Mereka berdua berangkat menaiki mobil masing - masing, Moana langsung mengaktifkan alat pelacak dalam ponselnya agar diketahui oleh Max yang mengintai di sekitarnya. "Semoga kita bisa menyalamatkan Lyra, Max." Gumamnya.

__ADS_1


Mobil Gabriela beserta anak buahnya berhenti di sebuah rumah, beberapa pria berpakaian hitam mengelilingi rumah itu. Sebelum turun Moana mengamati situasi, ia lalu mengirim chat pada Max tentang situasi disana.


Moana turun dari dalam mobil, membuka kacamatanya berjalan menghampiri Gabriela di depan pintu. Tak lama pintu terbuka, anak buah Gabriela membukanya.


Gabriela terus berjalan ke dalam berbelok ke arah lorong kiri, anak buahnya yang berjaga di depan pintu lalu membuka kuncinya.


Ceklek.


Moana terus mengikuti Gabriela, ia masuk ke sebuah kamar yang berdebu dan banyak sarang laba - laba sepertinya kamar itu tidak ada penghuninya untuk waktu yang lama.


"Kalian sudah bangun?" Gabriela berdiri di depan Moana menghalangi pandangan Moana.


Kalian? Kepada siapa Gabriela bicara selain Lyra?


Gabriela lalu memindahkan tubuhnya berjalan ke samping memperlihatkan pada Moana 2 orang yang sedang bersandar duduk di lantai dingin.


"Nyonya Jovanca!" teriak Moana kaget.


Mata Jovanca beralih dari wajah Gabriela ke arah suara, "Moana?"


Lyra mengangkat kepalanya saat mendengar suara yang mirip dengannya, "K-kakak, Kak Nara?"


Tubuh Moana limbung, kakinya bergetar melihat keadaan Ibu kandung Max dan saudarinya. "Ada apa ini, Gabriela? Kenapa ada Nyonya Jovanca?"


"Ini adalah urusanku, bukankah kau juga masih ada dendam pada wanita tua itu? Dulu dia memberikan uang padamu agar menjauhi Max, bahkan kamu tidak menerima sepersen pun uang itu dan malah pergi menghilang. Bukankah karena ego-mu terluka oleh tindakan Jovanca? Aku sudah menyiksanya untukku dan mewakilimu!" Gabriela tersenyum jahat.

__ADS_1


Moana menatap wajah Gabriela yang tersenyum menyeramkan, wanita ini sudah gila!


__ADS_2