
Leticia menghampiri perempuan cantik yang baru saja masuk diantar pengawal. "Annabel."
Perempuan itu mengangguk, Leticia seketika memeluk Annabel. "Terimakasih sudah datang. Kamu datang ingin menemui Mike, kan?"
"Ya, Nyonya. Bagaimana keadaannya?"
"Ikut aku."
Annabel mengikuti langkah Ibu Mike ke dalam suatu ruangan rawat, saat masuk pemandangan di dalam kamar berbanding terbalik dengan apa yang mungkin akan dilihatnya.
Disana, Mike dengan pakaian formal dipadukan jas putih sedang memegang seikat bunga dengan suasana ruangan yang sangat romantis. Pria itu mendekati Annabel, menarik tangan mulus wanita itu.
"Annabel," Mike memberikan bunga itu ke tangan Annabel.
Annabel menerimanya tapi bibirnya tak mampu berkata-kata.
Kemudian hal yang lebih mengejutkan terjadi, Mike bersujud dengan menekuk sebelah kakinya tangan pria itu memegang sebuah kotak berisi sebuah cincin bertahtahkan berlian.
"Will you marry me, Annabel? Aku mencintaimu, biarkan aku menjagamu dan anak kita."
__ADS_1
Tubuh Annabel bergetar, air mata bahagia membasahi wajahnya. "Mike?"
"Aku tau putramu adalah anakku, maafkan aku selama ini tak memperhatikanmu tapi percayalah aku sudah menyukaimu sejak lama. Maaf aku tak ada di sampingmu saat kamu hamil dan melahirkan, maaf atas semuanya."
"Mike, para penggemarmu tidak akan menerima. Kamu adalah idola mereka... aku-"
Mike berdiri dia menghentikan ucapan Annabel dengan bibirnya, mencium wanita itu dengan lembut lalu melepaskan pagutannya. "Aku akan mundur menjadi seorang aktor, demi kamu anak kita dan masa depan kita. Ayo menikah, aku berjanji akan selalu menjagamu."
"Mike..." Annabel tak percaya apa yang di dengarnya tapi dia akhirnya mengangguk. "Ya, Mike. Aku bersedia!"
Mata Mike seketika berbinar, dia memeluk wanita itu memutarnya dengan bahagia. "Terimakasih, Annabel. Aku mencintaimu."
Pengumuman tentang mundurnya Mike dari dunia hiburan dan juga pengumuman tentang pernikahan dengan Annabel serta berita tentangnya yang sudah menjadi seorang Ayah dengan bayi tampan, sekali lagi membuat kehebohan selama beberapa hari.
***
Moana tersenyum membaca berita tentang Mike, "Wah, aku ikut bahagia untuk kalian."
"Kau sedang melihat apa? Kenapa tersenyum senang, aku belum pernah melihat wajahmu seperti itu," tanya Demon seraya memeluk wanita simpanan nya itu, tangannya meremas dada kenyal Moana.
__ADS_1
"Bukan apa-apa, hanya berita hiburan. Sekarang jawab pertanyaanku Demon, kenapa kau menyusul kesini? Apa kau tidak percaya padaku memegang kerjasama dengan Tuan Will?"
Demon tersenyum, "Sayang, aku hanya merindukanmu. Lagipula istriku sibuk mengurus anak kami, lalu siapa yang akan mengurusku kalau bukan kamu?" Pria itu mulai menciumi leher jenjang Moana.
Moana menggigit bibir menahan rasa jijiknya, kenapa dia harus menjadi wanita bodoh dengan menerima pria kejam seperti Demon? Pria itu mencubit ****** dadanya, dia menahan rintihan rasa sakitnya.
"Jangan menahan errangan nikmatmu atau rasa sakitmu Moana! Aku bilang aku tidak suka! Bersuara lah!" bentak pria itu.
Kali ini Demon membuka gesper celana, satu tangannya menarik gaun malam Moana. Saat punggung telanjang wanita itu terekspos, Pria kejam itu mencabuk punggung Moana dengan gesper di tangannya.
"Arghtttt!" Moana akhirnya menjerit kesakitan.
"Bagus, kalau kau tak berteriak aku akan lebih menyiksamu!" Demon akhirnya melepaskan gesper di tangan nya, tangan lelaki itu mulai menggerayangi tubuh wanita simpanan nya itu. Bibirnya menelusuri setiap lekuk tubuh polos Moana, membuatnya seketika bergairah dan dengan kasar memasukkan bagian bawahnya yang sudah mengeras masuk ke dalam milik Moana.
Moana tak ingin menjerit ingin menahan rasa sakitnya, dia tak ingin Demon merasa puas. Tapi dia juga tak ingin disiksa sampai sekarat seperti sebelum-sebelumnya, apalagi harus memohon ampun pada pria bejat seperti Demon.
Moana akhirnya melepaskan suara errangan kesakitan nya, membuat pria itu semakin beringas menggaulinya.
"Ahhh... Moana sejak dulu tubuhmu membuatku candu... ahhh..." gumam Demon ditengah errangan nikmatnya, tubuhnya bergerak liar di atas Moana.
__ADS_1
Semakin lama Demon semakin bergairah, tapi Moana malah semakin mati rasa tubuhnya sudah pasrah menerima perlakuan Demon padanya.