Permaisuri Impian

Permaisuri Impian
Tiga puluh enam


__ADS_3

.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selir agung Li Mei mengepal kedua tangan nya dengan erat, kehadiran permaisuri Lien di atas tahta sudah membuat nya begitu marah .. Di tambah kehadiran tiga wanita asing yang datang mengejut kan mata semua orang dengan kecantikan mereka.


Manik hitam gelap itu terus menatap kearah singgasana di atas tahta kekaisaran Long Hong. Kaisar Zhaoyang seperti orang bodoh terus menatap lekat kearah meja ketiga wanita asing tersebut, yang terlihat asik dengan dunia mereka.


Selir agung Li Mei memejam kan mata nya sejenak untuk menekan amarah yang membuncah.


"Beberapa wanita di istana ini telah menyulitkan ku, kedatangan para jal*ng ini bahkan membuat semua pria bertindak bodoh. Bahkan menatap tanpa berkedip. Dasar bajing*n sialan. "


Kata kata makian terus terlontar dari bibir tebal seksual tersebut.


Kaisar Zhaoyang berbicara dengan penuh suka cita, entah mengapa hari ini perasaan nya begitu luar biasa.


Semua pujian tak henti dia lontar kan kepada para tamu kekaisaran, hingga membuat pangeran Zhang Xiu Huat jengah.


Pria dengan sebutan dewa perang itu menatap lekat kearah tamu tak terduga di perayaan kali ini. Menganalisa tentang sesuatu yang sulit dan tidak bisa terjelas kan.


Degh..


Manik teduh namun tajam milik seorang wanita yang juga berambut putih menantang langsung mata pangeran Zhang Xiu Huat.


membuat pangeran yang menghabis kan sebagian besar waktu nya di tempat pelatihan militer dan medan perang itu seakan bergetar.


Kemudian dengan cepat, tatapan tajam itu berubah kembali menjadi datar saat wanita di sebelah nya memberi intruksi. Kedua nya menunduk kan kepala sebagai sapaan.


Jendral Liu Yaosan tidak bisa menahan diri, sehingga sedikit menarik tubuh nya kesamping pangeran Zhang.


"Yang mulia.. "


Bisik nya rendah.


Pangeran Zhang segera memutuskan kontak mata dengan dua wanita berambut putih tersebut, mengalih kan pandangan nya kesamping.


"Hamba rasa,mereka orang yang di bicara kan oleh rakyat di pusat kota kekaisaran beberapa hari ini. "


pangeran Zhang kembali menatap ketiga nya dengan ekor mata, lalu menghela nafas berat milik nya.


"Mereka tidak datang dengan status yang biasa. Aku mengetahui, jika ketiga orang itu berkaitan dengan daratan barat. "


Manik jendral Liu Yaosan membulat sempurna.Lalu dengan cepat melirik kearah meja mewah tersebut.


"Aku ragu dengan kebenaran ini, tapi wajah ketiga nya begitu membuat ku sesak. Di kemudian hari, berusahalah untuk tidak terlibat dengan ketiga nya. "

__ADS_1


Sambungan dari kalimat pangeran Zhang membuat tangan kanan nya itu berusaha dengan susah payah menetralisir keterkejutan di wajah tegas nya.


"Apa pangeran Zhang bercanda.. tapi jika bercanda.. Bukan kah ini sedikit mengerikan, siapa yang tidak pernah mendengar desas desus tentang kekaisaran penguasa daratan barat. Empat pilar kehidupan, tanpa cacat. Namun kematian merenggut salah satu pilar. Tapi, di luar dugaan goncangan badai tidak meruntuh kan dinding dinding kokoh mereka. Berita tentang tiga wanita yang mengangkat senjata begitu populer di telinga orang orang militer yang siap mati di medan perang. Tiga dewy pencabut nyawa, dengan kecantikan yang di anugrahi dewa kepada mereka.


Di kata kan oleh cerita yang tidak bisa di ketahui kebenaran nya, jari jari lentik itu meneteskan setiap darah dari libasan pedang mereka. "


Jendral Liu terdengar seperti mendongeng di telinga pangeran Zhang Xiu huat, lalu segera meneguk ludah nya.


"Apakah itu mereka? "


tanya nya kemudian dengan wajah tak percaya..


Pangeran Zhang Xiu Huat terlihat begitu tenang, dan itu membuat jendral Liu Yaosan kembali menebak nebak.


"Jika itu sebuah kebenaran, pertanyaan nya.. kenapa ketiga dewy pencabut nyawa itu berada di kekaisaran mereka yang terletak di puncak yang begitu jauh. Apa seseorang dari kekaisaran ini menyinggung salah satu nya, tapi dari gosip yang beredar. Tiga wanita itu menyelamat kan pedagang kekaisaran dari ulah para bandit. "


jendral Liu Yaosan kembali menggelengkan kepala.


"Serena.. "


Quen berguman rendah, sambil mengetuk pelan mangkuk anggur seribu tahun yang baru di sajikan oleh para pelayan.



serena menoleh kan pandangan nya, lalu kembali menatap lekat kearah sembarangan arah.


guman nya rendah.


Belum sempat Quen mengangkat bibir nya, seorang pria dengan tampilan bak dewa berjalan pelan dan berada tepat di samping nya.


Mereka begitu asik dengan dunia nya sendiri, sehingga tanpa sadar semua orang melirik kearah mereka berada.


Xio dan serena segera bangun dari duduk mereka, bagaimana pun ini bukan dirumah mereka.


Pria itu di ikuti oleh beberapa orang di belakang nya.


"Salam putri mahkota Quen Han.. "


ucap nya dengan suara lembut namun terdapat ketegasan di setiap kata yang dia ucap kan.


Quen juga mendadak bangun dari duduk nya. Memperhatikan dengan intern orang yang kini berhadapan dengan nya.


"Akhir nya, setelah sekian lama kita bertemu kembali secara tak terduga. "


sambung nya ringan.


"Bagaimana anda bisa berakhir di daratan Timur dari sebelum nya pergi dengan orang orang daratan Barat? "

__ADS_1


Quen mengerut kan kening nya.


Xio berjalan pelan kearah mantan atasan nya itu karna sekarang merema semua adalah keluarga.


"Yang mulia.. Orang itu seperti seseorang dari beberapa putra mahkota kekaisaran di daratan selatan. "


Xio begitu mengingat setiap orang yang berhubungan dengan wanita berstatus permaisuri itu.


Pria tersebut tersenyum tipis, mengakui jika gadis yang dulu selalu mengekor di belakang wanita di hadapan nya kini juga tidak kalah memukau.


"Ah... "


Quen mengangkat bibir nya.


"Apakah sesuatu telah terjadi? "


Kini kedatangan beberapa orang lagi membuat ucapan Quen kembali terhenti.


"Salam yang mulia kaisar Zhaoyang Hong. "


pria dengan topeng di wajah nya itu menunduk kan kan sedikit kepala nya di ikuti Quen dan juga orang orang nya.


"Tidak.. hanya pergi menyapa teman lama. "


ucap pria dengan topeng itu kembali.


Kaisar Zhaoyang menaikkan sebelah alis nya, lalu menatap wanita dengan panggilan putri mahkota itu lembut.


"Apakah seperti itu? "


tidak tahu pertanyaan yang dia ajukan tertuju untuk siapa.


"Benar... "


Quen menjawab tanpa ragu.


Bagaimana pun, kami berasal dari daratan yang sama. jadi akan lebih baik saling memberi penghormatan.


Kedua orang itu kembali saling melempar tatapan, dan itu membuat kaisar Zhaoyang agak sedikit tidak nyaman.


"Baik lah.. dengan senang hati kaisar ini juga ingin mendengarkan cerita dari persahabatan kalian. "


ucap nya menebal kan muka.


.


. bersambung

__ADS_1


__ADS_2