
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Berita tentang kejadian di kediaman Lili menyebar dengan cepat keseluruh kediaman lain nya di istana, tidak terkecuali kediaman Phoenix milik ibu suri Sashuang.
"Benar kah begitu? "
Ibu suri Sashuang bertanya dengan ekspresi tak percaya.
"Hamba tidak berani berbohong yang mulia. "
Jawab seorang pelayan dengan cara berlutut di lantai.
wanita cantik berusia hampir setengah abad itu kemudian bangun dari duduk nya,lalu berjalan mondar mandir dengan kipas di tangan nya.
"Terus awasi Lien'er, dan laporkan kepada pangeran Zhang Xiu huat jika putri ku mendapatkan masalah saat aku tidak berada di istana Hong long. "
ucap ibu suri Sashuang dengan wajah khawatir.
"Sesuai perintah yang mulia. "
jawab gadis pelayan itu sambil membungkuk, lalu merangkak mundur, dan berdiri dengan cepat meninggal kan kediaman Phoenix.
Ibu suri Sashuang berjalan dengan gelisah didalam ruangan nya.
"Lien'er, ada apa dengan mu. Apakah kamu mulai menyadari dan coba bertindak gegabah. Aku tidak bisa menjelas kan kepada ayahanda mu jika kamu kembali terluka. "
guman ibu suri Sashuang cemas.
🌾🌾🌾🌾
Kabar tentang keberanian permaisuri terbuang itu juga menggempar kan semua kediaman para selir. Dan di sini lah mereka, duduk berkelompok di taman istana dengan raut wajah berbeda beda.
"Kakak, apa yang akan kamu lakukan dengan kabar ini? bukan kah permaisuri Lien begitu berani menampar harga diri selir agung ? "
Tanya selir Tian Zi kepada selir Yue Yin.
Selir Yue Yin tersenyum tipis, seakan mencemooh pertanyaan yang di berikan selir keempat kaisar Zhaoyang itu.
"Apa yang perlu aku takut kan, kita hanya perlu mencuci tangan atas perkerjaan yang di lakukan oleh selir agung. "
Di jedakan kalimat nya dengan menyesap seteguk teh hangat.
"Bukan kah dia begitu ingin menempati posisi permaisuri, jadi.. kenapa kita harus ikut terjerumus dengan nya. "
Sambung selir Yue Yin lagi dengan senyuman penuh strategi tersungging di bibir merah nya.
Di balik kipas senyuman yang sama terbit di wajah selir terakhir Ming Mei.
Tidak ada yang tahu, apa yang ada di pikiran putri mentri keuangan Tuoli itu.
__ADS_1
"Adik Mei'er apa yang sedang kau pikirkan? "
Tanya selir Yue Yin basa basi, dia sangat mengetahui jika putri mentri keuangan itu sangat licik, meski mereka terlihat dekat.. di dalam istana bahkan seorang ayah bisa membunuh anak nya sendiri demi tahta.
Selir Ming Mei tersenyum lembut, kemudian menutup kipas nya.
"Ah.. tidak ada kakak. Aku hanya sedang memikirkan tentang perubahan permaisuri Lien, bukan kah ini suatu kabar yang sangat besar? "
Ucap selir Ming Mei dengan lembut.
"Hahhaaha... "
selir Yue Yin tertawa lepas.
"Apa yang kamu bicara kan adik? perubahan apa yang kamu maksud? "
tanya selir Yue yin tak meredakan tawa nya.
Wajah selir Ming Mei berubah merah, lalu dengan cepat kembali ke ekspresi semula.
"Haha.. kakak benar, mungkin aku hanya melebih lebih kan. "
Balas selir Ming mei dengan tawa lembut yang selalu dia tunjukkan.
Di dalam deretan wanita milik kaisar Zhaoyang Hong, selir kelima terkenal akan sikap nya yang begitu sopan dan lemah lembut. Tidak ada yang bisa memungkiri akan hal itu.
Putri tunggal mentri keuangan Tuoli begitu terkenal di kalangan putri kekaisaran Hong long, hingga ia bisa masuk dan naik keranjang kaisar yang terkenal akan keangkuhan nya.
"Apa yang sedang kalian bicara kan? "
Manik ketiga nya seketika berubah saat mendengar suara yang begitu familiar, dan dengan cepat ketiga nya segera bangun dan membungkuk kan tubuh mereka.
"Salam yang mulia selir agung.. "
ucap mereka kompak.
Wanita yang baru saja hadir di tengah tengah ketiga wanita kaisar Zhaoyang itu adalah selir agung Li Mei, tampak wajah nya yang begitu angkuh membuat semua orang merasa muak dan ingin menjatuh kan nya.
Jika bukan mengingat diri nya adalah wanita pilihan kaisar Zhaoyang langsung, mungkin saat ini wanita yang datang entah dari mana itu telah berakhir di jalanan.
"Apa kalian sedang membicarakan diri ku? "
Tanya nya lagi sambil menduduki sebuah kursi yang tampak kosong.
"Ah... kami tentu tidak berani. "
Selir Yue Yin menjawab dengan senyuman tipis.
Selir agung Li Mei tersenyum sinis.
"Benar kah begitu? "
tanya nya seolah tak percaya.
__ADS_1
Selir Ming Mei membuka kipas nya.
"Kakak, apa yang kakak katakan.. bukan kah yang harus kita pikirkan, bagaimana membuat permaisuri Lien sembuh kembali. "
Dia menghentikan ucapan nya, lalu melirik wajah ketiga saingan nya itu satu persatu.
"Ah.. maksud yang muda ini, bukan kah sifat aneh permaisuri Lien di karena kan kesehatan nya yang kurang baik.
mungkin, ada sesuatu yang membuat nya berubah setelah di dorong oleh kakak selir agung dari tebing. "
Selir agung Li Mei langsung bangun dari duduk nya dengan kasar, mata nya membesar sempurna. Begitu juga dengan selir Yue yin dan selir Tian Zi.
"apa yang baru saja kamu katakan? "
bentak selir agung murka.
Selir Yue yin dan selir Tian Zi melotot tak percaya, bagaimana wanita yang selalu memperlihat sikap lemah lembut nya itu begitu berani, apakah mungkin karena mengetahui kartu milik wanita kesayangan suami mereka itu.
"Ah.. kakak jangan salah paham, yang muda ini hanya tidak sengaja.. ahhhh... "
Kalimat selir Ming Mei terputus saat kepala nya seperti tersentak karena ditarik dengan keras oleh selir agung Li Mei.
"Tutup mulut mu yang kotor itu, jika kau berani berkata kata lagi. Kau akan menyesali hari ini, karena telah berani mengganggu ku. "
ucap selir agung Li Mei dengan penuh penekanan.
"Aku bisa melakukan apa saja jika seseorang menghalangi ku,bahkan melenyapkan nyawa nya sekalipun. "
sambung nya lagi sambil berbisik, kemudian mendorong kasar tubuh selir Ming Mei dengan kuat.
"Ah...
Bukk..
Selir Tian Zi dan selir Yue yin hanya berdiri tanpa berniat membantu selir Ming Mei yang tersungkur mencium tanah.
Selir agung Li Mei segera berbalik dan melangkah dengan cepat meninggal kan taman istana dengan wajah kesal, dan kedua wanita kaisar lain nya hanya menatap dengan mimik wajah senang kearah selir Ming Mei.
" Kau terlalu percaya selir Ming Mei, sekarang terima lah hasil dari kepercayaan diri mu. "
selir Yue yin berlalu dengan senyum mengejek dibibir nya, diikuti oleh Tian Zi dibelakangnya.
"Nyonya.. "
panggil pelayan selir kelima itu dengan takut.
"Bajingan sialan.. "
pekik selir Ming Mei tak terima.
.
. bersambung
__ADS_1