
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Yang mulia.. "
Suara derap kaki yang semakin mendekat membuat panik Xio yang sedari tadi melakukan tugas nya.
Baskom berisi air hangat itu telah berganti warna menjadi kemerahan.
Tak.. tak.. tak..
Quen mengetuk kipas di tangan nya ke sisi kursi dengan berirama.
Kemudian dua orang dengan pakaian ninja muncul.
"Aman kan dua orang ini ke tempat yang tidak bisa di kesan. "
Quen menyerah kan semua bukti tentang keterlibatan mereka, hingga tidak menyisakan apapun.
Blush...
Dua orang dengan pakaian mengerikan itu menghilang begitu saja. Xio dengan cepat menuangkan air bercampur darah di abu pemanas ruangan, mengaduk nya dengan pelan hingga tak berbekas. Setelah itu mereka semua kembali ke ruangan masing masing dan menampilkan wajah seperti tidak terdapat aktifitas sebelum nya.
Setelah kepergian orang orang suruhan kaisar Zhaoyang, Serena kembali menatap wajah Quen dengan lekat.
"Aku membutuh kan penjelasan. "
Serena menyesap cairan bewarna hijau itu dengan santai, seolah olah menunggu dengan sabar untuk Quen menceritakan semua nya.
"Saingan mu.. aku telah menemukan jejak keberadaan nya. "
Ucap Quen sambil memain kan kipas di tangan nya.
"Dugong? "
Tanya Serena penasaran.
Quen memutar malas bola mata nya.
"Hei... tak bisa kah kau memanggil nama orang dengan benar? "
Serena mendengus.
"Si ondel ondel itu, apa nya yang bagus! Seharus nya waktu itu , aku langsung menghabisi nyawa nya ?"
Ketiga wanita tangguh itu kembali terdiam dengan pemikiran masing masing.
"Lalu.. sekarang bagaimana? "
"Apa nya? "
Quen mengangkat sebelah alis nya.
Serena mengeretak gigi nya dengan kesal.
"Itu si permaisuri gayung. "
Serena memutar tubuh nya menghadap langsung kearah Quen.
"Apa yang kau lakukan kepada nya? "
Tanya Serena lagi.
Quen tersenyum tipis, lebih kearah menyeringai. membuat nya tampak mengerikan hingga Serena dan Xio bergindik.
__ADS_1
"Dia bergerak terlalu lambat, sehingga semua orang menginginkan kematian nya. Jika saja, bawahan nya itu tidak datang tepat waktu.. mengurusi orang orang dari pembunuh bayaran, tentu tidak akan mudah. "
"Hah... "
mata Serena melotot.
"Suami nya, kaisar Zhaoyang mengutus kan untuk melenyap kan permaisuri nya sendiri. "
Lanjut Quen lagi.
"Gadis berwajah kaku itu datang pada ku, mengatakan.. jika wanita itu menginginkan bantuan untuk menyelamat kan orang orang nya. Bahkan pada saat bersamaan, orang orang kita mengikuti seseorang dari istana Long, dan kau tahu apa yang selanjut nya.
Aku memasuk kan seseorang untuk di jadi kan korban, lebih tepat nya karna ketidak sengajaan. "
"Quen... kau memang selalu gila. "
Pekik Serena dengan wajah tak percaya.
Quen mengangkat acuh bahu nya.
"apakah kita harus mengeluarkan wanita itu dari penjara di tempat ini Quen? Di sana pasti terasa tidak menyenang kan. "
Serena merasa begitu bersemangat.
"Hei... kita harus membuat pertunjukan terlebih dahulu. Setelah datang ke sini, kenapa tidak membuat kerusuhan. "
Quen meneguk pelan teh milik nya, sambil tersenyum.
Xio dan Serena hanya bisa menggeleng lemah melihat tingkah wanita yang telah di karuniakan sepasang malaikat.
"Jika kakak ipar kaisar tahu kelakuan mu Quen, aku tak yakin dia masih mencintai mu dengan sepenuh hati."
candaan dari Serena membuat Xio menahan senyuman nya.
Quen mencebik dengan wajah acuh.
"Hais... aku muak dengan kehidupan seperti ini. "
Runtuk Serena pada akhir nya.
🌾🌾🌾
"Soso.. ugh.. Suoxue.. "
Suara rintihan sesekali terdengar.
Tampak wanita dengan penampilan acak acakan itu kesusahan bergerak. satu rantai membelenggu kaki nya.
"emm... "
"Soso.. soso.. "
setelah lenguhan terdengar, permaisuri yang di lempar ke penjara dingin tampa perasaan itu kembali sedikit berteriak.
Gerakan besar di dalam kegelapan yang hanya di sinari lampion yang tak begitu terang sangat terlihat kontras.
"Permaisuri Lien.. "
"Ya.. aku disini! " seru nya terdengar lega.
"ya dewa.. syukurlah kau baik baik saja. "
"Xixi.. dimana Xixi? "
Mata itu menatap kesekeliling, memutar tubuh nya kekiri dan kekanan. Lalu merangkak dengan susah payah kearah wanita dengan kondisi yang tidak di ketahui.
"Apakah mereka berhasil menyelamat kan nya? "
__ADS_1
Tanya nya lagi dengan wajah penasaran.
Permaisuri Lien menahan perih di perut nya.
"Tenang lah, mereka pasti akan membantu kita. "
ucap nya berusaha menenangkan.
Suoxue melenguh lega. Kemudian setelah tersadar diri nya kembali mendekat kearah wanita tak beruntung itu.
"Bagaimana dengan anda yang mulia ? "
Permaisuri Lien menghembus kasar nafas nya .
"Hanya luka kecil, dan itu tidak akan membuat ku lenyap. "
Jawaban dari nya itu membuat gadis didepan nya mengangguk pelan.
"Apa yang sedang kau lakukan? "
tanya nya lagi saat Suoxue tampak meraba raba dinding kokoh yang terbuat dari tanah berbatuan itu.
"Mencari kemungkinan untuk kita keluar dari sini.. "
gadis itu menjawab tampa menoleh kan kepala nya.
Permaisuri Lien menarik tubuh nya kebelakang untuk menyandar kan tubuh nya, namun sial. Rantai yang di ikat di kaki nya membuat nya terkunci.
"Yang mulia.. "
Suoxue merangkak mendekat, membantu tubuh ramping itu untuk tetap duduk.
Permaisuri Lien yang melihat satu penjepit rambut terbuat dari tembaga yang cukup kokoh, seketika langsung menarik nya dan membuat surai panjang milik Suoxue tergerai ke tanah.
"Apa yang sedang ingin anda lakukan, permaisuri? "
Suoxue terjengkit kaget.
Permaisuri Lien mengacuhkan pertanyaan dari bawahan nya itu, namun sibuk dengan benda tajam ditangan nya. Diarah kan ke lubang gembok yang mengunci kaki nya.
"Krekkk... "
Suara rantai terlepas membuat mereka berdua waspada.
"Bagaimana anda melakukan hal itu? "
tanya gadis berwajah datar itu terlihat penasaran.
"Hanya sebuah trik kecil.. "
ujar permaisuri Lien santai, lalu mengembali kan hiasan rambut milik Suoxue kembali.
"Kita harus segera keluar dari sini.uh.. huk.. uhuk.. "
sambung nya sambil terbatuk, akibat tendangan dari salah satu pembunuh bayaran yang berusaha menghabisi Jian Mi.
"Anda harus beristirahat. "
ucap Suoxue sambil membantu menyandar kan tubuh permaisuri Lien ke tembok.
"Terimakasih.. "
Suoxue hanya menoleh sebentar, lalu kembali melakukan aktifitas nya memeriksa keadaan sekeliling.
.
.
__ADS_1
bersambung