
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mentari mulai kembali bersinar terang, seakan kekacauan tidak pernah terjadi di dalam istana megah tersebut, para tamu juga mulai meninggal kan kediaman masing masing, mengingat kondisi istana Long Hong yang tidak begitu bersahabat.
Begitu juga dengan kediaman yang di tempati tiga wanita tangguh itu, namun seperti nya mereka berbeda. Jika semua orang sibuk berbenah, ketiga nya malah sibuk mengatur strategi.
"Seren.. "
Quen melangkah pelan sambil mengikat tali gaun nya yang baru saja dia kenakan.
"Kau sudah menyiap kan semua nya? "
tanya nya kembali.
Xio datang mendekat, lalu menuangkan teh hijau kedalam mangkuk bercorak burung Phoenix itu dengan hati hati.
"Aku sudah menyiap kan nya dengan rapi. "
Dengan gerakan cepat, di sibak nya gaun berwarna merah muda itu. Tampak deretan senjata kecil bersembunyi di dalam nya, berjejer dengan rapi. seperti seragam khas tentara terpilih.
Quen tersenyum lebar, kepala nya sesekali mengangguk tanda kepuasan.
"Kau memang yang terbaik. "
ucap nya lagi.
Xio juga ikut terpesona dengan keahlian istri dari pangeran kedua itu.
"Aku tak akan main main untuk nyawa seseorang! "
seru Serena dengan senyum tipis.
"Yang mulia pangerang Zhang Xiu Huat datang berkunjung. "
Teriakan kasim terdengar begitu jelas dari luar kediaman. Bersamaan pintu di dorong dengan pelan oleh para pengawal.
Serena segera merapi kan pakaian nya, di ikuti Quen dan Xio. Ketiga nya segera bangun dan membungkuk kan tubuh.
"Salam yang mulia pangeran Zhang. "
Pangeran Zhang menatap ketiga wanita cantik itu satu persatu, kemudian tatapan lekat nya jatuh kewajah Quen.
Kini tidak ada senyuman yang sebelum nya dia tunjukkan.
__ADS_1
"Silakan duduk kembali. "
Ucap pangeran Zhang dengan ekspresi sulit.
Quen hanya mengangguk pelan dengan wajah santai.
Lalu segera duduk diikuti Serena.
"Apa tujuan sebenar nya dari kedatangan para putri kekaisaran selatan ke kekaisaran Long Hong? "
pertanyaan meluncur, bahkan sebelum bokong kedua gadis dari masa depan itu mencapai bantalan kursi mereka.
Serena meremas pinggir gaun nya untuk tetap menyadarkan akal sehat nya. Mengingat bagaiman pria dihadapan nya ini terlihat begitu lembut dalam berbahasa, membuat setiap kata kata nya bagaikan rancun berbisa.
"Apa yang anda bicarakan yang mulia, tentu saja memenuhi undangan yang seperti saudara anda harap kan. "
jawab Quen tetap dengan ekspresi tenang.
Pangeran Zhang tertawa sinis, mengibas kan hanfu nya lalu duduk dengan angkuh.
"Yang mulia permaisuri kekaisaran dengan empat pilar pendukung, sungguh bukan gelar yang biasa. "
Para pengawal dari kekaisaran Hongly langsung bersiaga dengan pedang di tangan mereka.
Quen menumpu kan sebelah tangan nya di senderan kursi lalu tersenyum dengan sangat mempesona.
Ucap Quen seakan memuji pria di hadapan nya.
"Namun, selagi tidak mengganggu.. Kami juga tidak akan melakukan apapun. "
Sambung Quen lagi.
Kedua belah pihak saling menatap dengan intens, seolah saling berperang dalam diam.
"Jauhi kekaisaran Barat, apapun yang anda cari.. Disini bukan tempat yang pas untuk orang orang anda, anda selalu hidup dengan kenyamanan. Jangan membangun kan Naga yang terlelap, atau anda tidak akan bisa kembali dengan selamat.Segera pergi, selagi memiliki waktu dan jangan campuri apapun dari istana dan kekaisaran kami. "
Setelah mengatakan kalimat sarat akan makna, pria berwajah lembut itu segera bangun lalu berbalik pergi di ikuti oleh para bawahan nya.
Quen, Serena dan Xio segera bangun dan membungkuk kan tubuh mereka sebagai penghormatan.
"Kita harus segera bertindak, aku juga berubah haluan. Setelah semua nya selesai, kita tidak perlu berada di sini lebih lama. Habisi wanita itu segera mungkin. "
Quen menoleh kan leher nya kearah Serena dan Xio, lalu melangkah kedalam ruangan pribadi milik nya.
Serena mengepal kan tangan nya dengan mata terpejam.
"Wanita sialan, jika kau tidak kembali membuat masalah besar dan mengancam keselamatan putra ku. Aku juga akan melupakan keberadaan mu. Gong zu.. kita akan saling menyapa tidak lama lagi. "
__ADS_1
Xio juga menarik nafas nya dengan berat, kemudian ikut melangkah kearah tempat dimana Quen berada.
"Maaf kan hamba tuan muda, kali ini.. untuk menuntas kan sebuah masa lalu yang kembali datang, kami harus pergi jauh untuk sementara. "
Di mantap kan langkah nya, tidak ada raut ketakutan diwajah yang begitu lembut itu.
"Semua harus segera berakhir. "
ketiga wanita hebat itu saling membatin di tempat yang berbeda.
🥀
🥀
Di lorong lorong dingin, suara langkah langkah kaki begitu terdengar jelas. Membuat dua sosok wanita yang terlelap segera terbangun. Cahaya minim membuat kedua nya tidak bisa membedakan siang dan malam, bau pengap menguar keseluruh penjuru.
Suara percakapan mulai terdengar menggema di tempat itu, bisa di pastikan jika mereka seperti berada di dalam sebuah goa atau bangunan bawah tanah.
"Ku dengar, permaisuri malang telah dikirim ke penjara dingin tadi malam? "
seseorang mulai berbicara.
"Jangan membicarakan apapun di sini, kau tahu.. Dinding dinding kokoh ini bahkan bisa menjadi dewa kematian untuk kita. "
Seseorang lain nya menanggapi.
Setelah terdiam sesaat, orang yang bisa di pasti kan yang pertama membuka suara kembali melanjut kan kalimat nya.
"Aku hanya tidak percaya, jika yang mulia permaisuri bisa mengorban kan selir agung akibat kemarahan. "
"Haiyo.. Diam lah, nyawa ku lebih berharga dari pada mendengar kan ucapan mu. "
kedua nya kembali terdiam dan membuat suasana hening seketika.
"Yang mulia permaisuri.. "
panggil Suoxue dengan suara berbisik.
Permaisuri Lien mengangkat tangan nya agar gadis bawahan nya itu tetap tenang. kedua nya mengamati sudut sudut ruangan itu secara menyeluruh, semua nya tampak begitu mustahil untuk membebas kan diri.
"Quen.. aku mengandal kan mu. "
batin Permaisuri Lien sambil memaikan sesuatu ditangan nya.
.
. bersambung
__ADS_1