
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Permaisuri Lien tersenyum sinis, menatap dengan malas lawan bicara nya.
"mari bersulang selir kelima, kita harus merayakan hari yang bersejarah ini bukan? "
"permaisuri Lien.. "
selir Ming Mei berteriak keras dan menghempas kan telapak tangan nya keatas meja, membuat teko dan mangkuk diatas nya bergeser.
Permaisuri Lien menegak kan tubuh nya, menatap malas kearah selir Ming Mei.
"kembali lah selir kelima, aku sedang dalam suasana hati yang buruk. "
Merasa terhina akan ucapan dan sambutan tak bersahabat dari wanita berstatus sebagai permaisuri tak di anggap tersebut, membuat warna merah memenuhi wajah selir Ming Mei.
"Anda akan menyesali semua penghinaan yang selir ini terima hari ini permaisuri. "
Dikibaskan gaun nya dengan kasar, lalu segera pergi dari halaman kediaman Sakura tanpa memberi salam terlebih dahulu.
Para bawahan nya mengekor dengan kepala tertunduk dan amarah yang sama dengan sang majikan.
Permaisuri Lien ikut bangun, suasana hati nya benar benar dalam keadaan yang tidak baik. Kedatangan selir Ming Mei menambah kacau tentang semua yang berada di fikiran nya.
"Siap kan pemandian untuk ku Jian Mi, serta panggilkan Suoxue agar segera kekediaman utama. "
Gadis periang dan berterus terang tersebut sangat di perlukan untuk memperbaiki suasana hati nya.
"Hamba mengerti yang mulia. "
Jian Mi berjalan dengan cepat mengikuti langkah kaki permaisuri Lien yang mengarah ke kediaman Sakura.
Sebelum menyentuh pintu besar, seorang pria dengan berwajah datar telah menanti nya disana.
"Salam yang mulia permaisuri Lien. "
pria tersebut membungkuk kan tubuh nya, dengan sebelah tangan tersilang di dad*.
Manik kecoklatan itu memindai pria di hadapannya dengan inten.
Hingga membuat sang tamu merasa tidak nyaman.
"Hamba membawa pesan dari yang mulia putra mahkota kekaisaran selatan kepada yang mulia permaisuri Long Hong. "
Sebuah gulungan di keluar kan dari lengan hanfu yang ia kenakan. Dan di berikan secara langsung kepada pemilik nya.
Dengan ragu permaisuri Lien mengulurkan tangan. Setelah pesan di serah kan, pria tersebut kembali membungkuk kan tubuh nya dan pamit untuk undur diri.
sedang kan permaisuri Lien hanya diam mematung dengan gulungan di tangan nya.
"Salam yang mulia.. "
Suoxue dan Qixuan datang bersamaan.
Permaisuri Lien hanya mengangguk pelan, lalu segera kembali melangkahkan kaki nya kedalam kediaman. Pintu besar segera tertutup rapat dari luar, menyisakan permaisuri Lien beserta tiga bawahan nya.
"Apakah yang mulia mendapatkan surat misterius dari seorang pangeran? "
Tanya Suoxue dengan penasaran.
Qixuan segera mengangkat tangan nya dan memberi ketukan di kening gadis periang tersebut, membuat sang empu meringis sambil mengusap kasar kening nya.
"Hei.. apa yang kau lakukan? "
pekik nya tak terima.
__ADS_1
"Diam lah, kau terus saja mengatakan sesuatu yang tak berguna. "
umpat Qixuan dengan suara rendah.
"Aku hanya bertanya kepada yang mulia, itu bagus jika seseorang mengagumi junjungan kita. Dia pantas untuk mendapatkan kebahagian. "
balas Suoxue tak ingin kalah.
Jian Mi yang baru keluar dari ruangan pemandian segera membungkuk.
"yang mulia, pemandian telah hamba siapkan. Mohon yang mulia untuk segera membersihkan diri. "
Permaisuri Lien hanya mengangguk sebagai jawaban, gulungan yang tadi di berikan pada nya masih tertutup rapi.
Setelah beberapa saat merasa jika para bawahan nya itu hanya terdiam di tempat. membuat nya harus kembali menghentikan langkah kaki nya.
"apa yang sedang kalian fikir kan, ikuti aku ke tempat pemandian. Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting. "
Jian Mi, Suoxue terjengkit seketika. Lalu segera mengangguk kan kepala mereka dengan semangat. Sedang kan Qixuan hanya menunduk kan kepala nya sebagai jawaban.
🎋🎋🎋
"Quen.. "
Serena mulai memilah semua senjata mungil nan mematikan milik nya.
Warna berkilauan menunjuk kan jika semua benda tipis itu begitu mematikan.
"Quen.. "
Kembali Serena memanggil nama sahabat nya yang sedang menatap kosong dalam posisi menyenderkan tubuh nya ke sisi jendela.
Quen melengos setelah panggilan kedua dari sahabat nya itu.
Sedangkan Xio, seperti biasa berada tidak jauh dari wanita yang sangat dia hormati.
ucap Serena mulai hilang kesabaran.
"Diam lah seren.. aku sedang memikir kan sesuatu. "
"Tentang permaisuri kayang kayang itu? "
potong Serena sambil meletakkan sebuah belati mini yang telah dia bersihkan keatas meja.
Alis Quen terangkat saat mendengar kalimat nyeleneh dari bibir Serena.
"Kayang kayang? "
ulang nya penasaran.
Serena menghembus nafas nya dengan kasar.
"Zhaoyang Hong, aku menyingkat nya dengan kayang kayang. "
Ucap Serena dengan santai.
"Nyonya.. "
Xio menutup bibir nya dengan kedua tangan.
"Kenapa? Kau selalu berekspresi menyebal kan setiap saat. "
Serena mengeluarkan unek-unek nya dengan memonyong kan bibir nya.
"Anda tidak bisa sembarangan mengucapkan kata kata nyonya erenan, karena kita berada di daerah kekuasaan pria yang terkenal akan keangkuhan nya. "
terang Xio merasa khawatir.
"Heh.. siapa yang bisa mengalah kan keangkuhan dari kakak ipar kaisar, dia tiada tandingan nya. "
__ADS_1
balas Serena.
Quen memutar tubuh nya menghadap langsung kearah serena.
"Kau mengatai jika suami ku angkuh begitu? "
Ucap Quen dengan nada berat dan tangan tersilang kedepan tubuh nya.
"Kau pemarah sekali, ingatlah.. Anak mu pebih dewasa dari umur nya, apa yang salah dengan ucapan ku? kau bertanya, sedangkan aku hanya menjawab nya saja. "
Serena mengambil gelas teh milik nya, lalu mengibaskan sebelah tangan nya.
"Jangan baperan.. "
"Kau.. "
pekik Quen.
"Hei.. apa yang ingin kau katakan tentang wanita aneh itu? "
Serena segera mengalihkan pembicaraan mereka, sebelum harimau Sumatra itu kembali mengaum kan taring nya.
"Dia berasal dari dunia yang sama dengan kita. "
Ucapan Quen membuat serena menyemburkan teh hangat milik nya, sedang kan Xio hanya terdiam mematung.
"Quen.. apa yang kau bicarakan? "
Mata Serena membulat sempurna seolah-olah menunggu Quen membenarkan ucapan nya.
"Apa kau yakin? "
Tanya Serena kembali.
Quen menarik nafas nya, lalu menatap kearah luar jendela kediaman istana Long Hong.
Matahari kian berada di puncak nya, cahaya keemasan itu menembus kecelah celah daun pepohonan.
"Dia menunjukkan itu semua dengan ekspresi dan cara nya bertarung. Bukan kah kau telah melihat nya secara langsung? "
Tanya Quen kembali.
Serena meletak kan cangkir di tangan nya, selera nya untuk meneguk cairan bewarna hijau itu menguar begitu saja.
"Bagaimana itu bisa terjadi? kita sudah terlalu lama berada di dunia ini. Bertemu dengan orang yang mengalami hal yang sama dengan kita, rasa nya sedikit aneh bukan? "
"yang mulia, apakah maksud dari perkataan anda.. Bahwa yang mulia permaisuri Hong Long juga kemungkinan melakukan perjalanan waktu seperti yang mulia dan nyonya erenan? "
Tanya Xio dengan wajah penasaran.
Serena menatap lekat wajah Quen.
"Kita akan mencari tahu itu nanti, setelah mendapat kan sesuatu yang menjadi tujuan kita. "
Mata Quen terpejam menikmati hangat nya cahaya yang jatuh ke wajah nya.
"Kita tidak memiliki banyak waktu untuk itu, suatu saat.. para pria posesif itu akan sadar jika kita membohongi mereka semua. "
Xio meremas pinggir gaun nya, sedang kan Serena menghembus nafas nya dengan berat.
"Ah.. sangat mengerikan, jika saat itu tiba. "
guman serena seraya menjatuh kan kepala nya kemeja.
.
. bersambung
(Tentang rahasia Quen dan Serena yang di ketahui oleh Xio, nanti bakalan author jelas kan . Happy Reading) 🥰🥰
__ADS_1