
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kaisar Zhaoyang berjalan cepat mengikuti langkah permaisuri Lien Xin Xin di depan nya.
Rahang pria nomer satu di kekaisaran Long Hong itu mengeras akibat amarah yang memuncak. Perlakuan berani dari permaisuri nya itu.
Andai saja para tamu kekaisaran sedang tidak berada di istana, mungkin nasip wanita yang di di jadi kan pertukaran kerja sama itu telah berakhir di tanah bebatuan.
"Berani sekali si bodoh tak berguna itu mengacuh kan dan mempermalukan kedudukan ku di depan para putri kekaisaran Han. Sungguh tidak sayang akan nyawa. "
maki kaisar Zhaoyang pelan, di sela sela langkah kaki nya.
"Yang mulia.. "
Pangeran Zhang muncul dari salah satu lorong istana.
Kaisar Zhaoyang segera menghentikan langkah nya dengan malas, memejam kan mata nya untuk menstabilkan emosi yang memuncak.
"pangeran ini memberi salam kepada yang mulia. "
Pria dengan aura positif itu segera membungkuk kan sedikit tubuh nya.
"Salam juga untuk mu. "
Wajah marah tersebut segera berubah seperti biasa, dengan senyuman tipis. kedua tangan nya tersilang kebelakang tubuh ramping nya yang berotot.
"Bisa kah kita membicarakan masalah yang telah terjadi di malam perayaan yang mulia? "
Setelah mendapat kan anggukan dari Kaisar Zhaoyang, kedua nya berjalan beriringan di ikuti oleh jendral Liu yaosan dan mentri pertahanan Rui.
...
Permaisuri Lien yang merasakan jika sudah tidak ada yang mengikuti nya dengan cepat memutar arah ke samping kediaman Sakura.
Lalu berhenti di salah satu gazebo paling ujung taman sakura.
"Yang mulia.. "
Jian Mi mendekat dengan tergesa gesa. Kepala permaisuri Lien segera terangkat.
"em.. em.. yang mulia. "
Gadis kepercayaan permaisuri Lien tersebut terbata.
"Apa yang ingin kamu katakan Jian Mi? "
ucap permaisuri Lien dengan sebelah alis yang terangkat.
Jian Mi berdiri dengan gugup sambil memilin jari nya.
"Yang mulia.. hamba rasa, yang mulia akan berada dalam masalah besar karena telah mengacuh kan yang mulia kaisar. "
Permaisuri Lien hanya memijat kening nya, masalah yang ia fikir kan saat ini bukan tentang kemarahan pria dengan fikiran mesum itu, tapi.. mengenai tentang asal usul dua wanita yang baru saja dia temui.
__ADS_1
"Biar kan aku sendirian.. "
mata sendu nan tajam itu menatap kosong kearah pepohonan yang di tumbuhi bunga bunga sakura yang bermekaran.
"Yang mulia.. "
Jian Mi kembali merasa gelisah untuk junjungan nya, sedang kan Suoxue segera menahan bibir mungil gadis kepercayaan permaisuri Lien itu untuk kembali melanjutkan ucapan nya.
Mereka segera membungkuk kan sedikit tubuh nya, lalu berjalan mundur.
"Hah... "
******* keluar dari bibir permaisuri Lien.
Tangan ramping itu mulai mmenuangkan teko seperti botol berisi teh hijau kedalam mangkuk keramik. Dan menyesap nya dengan anggun.
"Quen alana, alana compeny, pengusaha muda, dunia bawah. "
kalimat yang di ucap kan oleh wanita yang mengaku putri dari sebuah kekaisaran itu terngiang di kepala nya.
Dan yang harus dia ketahui, orang orang itu berasal dari dunia yang sa dengan nya.
"Andai saja kaisar sialan itu tidak muncul di waktu yang salah, aku pasti sudah mengetahui segala nya. hufh.. "
helaan kembali terdengar dari bibir tipis tersebut.
"Apakah hanya dia yang berasal dari masa depan, atau semua diantara mereka berasal dari dunia yang sama dengan ku? "
ucap permaisuri Lien kembali menebak sebuah kebenaran.
Sebuah suara yang penuh akan kepura-puraan terdengar dari arah bawah gazebo. Membuat wanita itu sedikit memutar tubuh nya .
"Sungguh hari yang indah bukan? "
ucap nya lagi sekedar berbasa basi.
Permaisuri lien meletak kan mangkuk teh di tangan nya dengan malas.
"Selir Ming Mei.. "
bibir tipis itu menyunggingkan senyuman penuh tanda tanya.
"Seperti nya angin sedang bergerak melawan arah, sehingga membuat seseorang terdampar di kediaman sederhana milik ku. "
kata kata menusuk langsung di muntah kan oleh permaisuri Lien tanpa berniat untuk bersikap baik.
Selir Ming Mei terkekeh pelan sambil menutup bibir nya.
"Haiyo.. permaisuri Lien, anda sungguh tidak ingin berbasa-basi dengan selir ini. Setidak nya, biarkan selir ini ikut menikmati secangkir teh kediaman Sakura. "
Tangan selir Ming Mei terkepal erat melihat ketidaksukaan yang di tunjukkan secara langsung oleh wanita yang dahulu sering mendapat penganiayaan oleh selir agung para wanita kaisar yang lain nya.
Mata permaisuri Lien menyipit tajam, lalu kembali secepat nya ke ekspresi datar.
"Ah.. baik lah, maaf kan akan ke terus terangan diri ku selir.. "
__ADS_1
Sudut bibir permaisuri Lien terangkat.
"Jian Mi.. "
ucap nya dengan nada yang sedikit keras untuk memanggil bawahan nya yang berada tidak terlalu jauh dari mereka semua.
"Hamba yang mulia. "
gadis itu datang dengan tergesa gesa lalu segera membungkuk.
"siapkan semangkok teh hijau untuk selir Ming Mei. "
Ucap nya dengan posisi tubuh yang tidak berubah.
"ah..maaf kan aku yang tidak mengizin kan diri mu untuk segera duduk. "
sambung nya bersikap seakan menyesal karena melupakan jika wanita kaisar itu masih setia berdiri di tempat nya.
"Dasar jal*ng rendahan, berani nya kau mengacuh kan aku. "
runtuk selir Ming Mei penuh amarah di dalam hati nya.
"Apakah anda mengatakan sesuatu? "
wajah selir Ming Mei mendadak pucat, saat mendapat pertanyaan mendadak dari permaisuri Lien.
"Selir ini tidak mengatakan apapun permaisuri. "
Ucap nya sambil menjatuhkan tubuh nya untuk menduduki salah satu sisi di gazebo indah tersebut.
"Ku rasa.. anda harus memperbaiki tata bahasa yang anda gunakan selir kelima. "
Pandangan tidak suka menguar dari wajah selir Ming Mei.
"Aku adalah permaisuri kekaisaran ini, apapun yang terjadi antara diri ku dan kaisar tidak akan mengubah apa yang seharus nya aku miliki.
Status mu berada di tempat yang paling bawah,coba lah untuk bersikap selayak nya wanita di kediaman istana. "
Tangan selir Ming Mei terkepal erat di balik lengan gaun yang ia gunakan.
"permaisuri.. kenapa anda berubah menjadi begitu tinggi hati. Bukan kah selama ini bahkan yang mulia kaisar juga tidak mengakui anda? Posisi seperti apa yang maksud? apakah posisi sebagai wanita yang begitu tidak berguna. "
Bibir merah menyala itu mengeluarkan kalimat kalimat lembut namun begitu mematikan.
Jian Mi menunduk kan kepala nya mendengarkan hinaan untuk junjungan, gadis itu bahkan hampir menitik kan air mata nya.
"Selir kelima.."
permaisuri Lien mengetuk pelan jari nya di sisi pembatas gazebo.
"Aku sungguh sangat merasa kasihan untuk anda, seorang putri dari mentri kekaisaran mencoba mengibaskan sayap nya untuk terbang lebih tinggi. bukan kah seekor gagak tidak akan pernah menjadi merak. "
Kembali mangkok putih berisi cairan hijau itu terangkat di udara, memberikan gerakan bersulang untuk tamu tak di undang.
"Kau.. "
gigi selir Ming Mei menyatu dengan erat menimbulkan bunyi dari gesekan yang di paksakan.
__ADS_1
.
. bersambung