
Seketika itu tanpa di undang ada sekelompok orang datang dan membawa senjata dan salah satunya adalah mobil mewah hitam dan menurunkan orang dengan kalung rantai emas juga rokok yang masih menyala juga di hisapnya menghembus asap rokoknya ketika sudah berdiri didepan kolam depan pintu utama rumah Aslan.
Saat itu juga para pengawal rumah Aslan berdatangan dan berdiri membuat barisan menghalangi orang asing itu masuk.
"Haay.. Haay... biarkan aku masuk aku tak punya urusan dengan kalian, Aku berurusan dengan Xavier karena berani menyekap anak ketua Malvonso."
"Kalian tidak bisa masuk apapun alasannya," ucap seorang lelaki dengan badan besar dan pakaian jas dan kemeja hitam.
"Cih.. Kalian bercanda.. menyingkirlah sebelum kami membuat kalian meregang nyawa," ucap orang dengan tongkat bassball.
Mereka semua bergeming. Merasa tidak di tanggapi ancamannya orang itu maju dan menyerang langsung seketika itu terdorong dan di tangkis lalu jatuh seketika.
Orang itu bangkit dan dan mundur dengan wajah malu dan marah.
Halana yang ingin tahu berjalan keluar kamarnya dan melihat sangat ramai orang sepertinya.
Mengintip lewat jendela.
‘Apa dan siapa yang mereka bawa senjata dan banyak banget,' kata dalam hatinya menatap serius dan menyipit ke arah gerombolan orang yang datang dari mengintip lewat jendela.
‘Ada yang mau tawuran tapi, ini wilayah pribadi orang apa dia orang gila, aneh.'
Halana masih menatap apa yang segerombolan orang-orang itu dari jendela.
Seketika itu tepukan di bahunya di tepis.
Dan Halana menoleh ternyata Inah dan di belakang Inah ada Aslan baru datang.
"Kenapa..." Ucap Inah menatap jendela lalu Halana lalu jendela lagi.
"Haah.. enggak Itu gue cuman.. Mau liat itu, itu lo orang-orang kenapa pada kemari emang Aslan Ketua Rt Apa ketua RW sampe pada kemari atau mereka mau numpang tanya tapi, kan gak mungkin." Halana terdiam ketika Aslan mendekati dan berdiri berganti tempat dengan Inah yang sebelumnya ada di depan Halana.
"Masuk kedalam."
"Laah.. kenapa kan udah di dalam," ucap Halana menjawab saja kata Aslan.
"Halana.."
"Apa Aslan..." Menatang lagi. Aslan mendekat dan menggendong Halana seketika akan melangkah pergi seketika itu pintu depan terbuka kasar. Halana dan Aslan terdiam.
__ADS_1
Aslan berbalik dengan masih menggendong Halana.
"Wah..wah... Sedang ada acara pribadi ternyata. Wanita? Oh.. Yaa.. Kukira Xavier memiliki kelainan seperti Gay.. Misal," ucap orang dengan rantai emas itu.
"Qerto," ucap Aslan.
Orang dengan rantai emas di panggil Qerto itu tersenyum miring sambil melangkah mendekat tangannya sebelah di masukan saku celana.
"Yaa. yaa.. Yaa.. Ayo cepat-cepat.. masalah ini harus selesai dan aku ingin beristirahat."
Halana turun dari gendongan Aslan dan berdiri menatap Qerto.
Qerto menatap Halana dengan tatapan ingin memangsa.
Aslan menarik Halana ke belakangnya seketika Halana terkejut dan menatap punggung Aslan.
Aslan memasukan kedua tangannya kdalam kantong hoddie nya berdiri menutupi Halana.
"Pergilah dari hadapanku sebelum..."
"Apa.. sebelum apa Xavier.. Kau yang membuat masalah duluan sekarang waktunya aku menutut balas."
Qerto mendekatdan menembak Aslan si bahu atasnya. Halana terdiam beberapa detik.
Menghajar orang itu hingga babak belur Aslan seketika melempar keluar dan di tangkap para anak buahnya.
"Bereskan mereka Arzen," ucap Aslan lalu pergi dari sana.
Arzen langsung bergegas dan Aslan melangkah dengan tenang kembali menggendong Halana masuk ke dalam rumah.
"Aslan tangan lo, Lukanya tembakannya Aslan turunin gue," ucap Halana seketika Aslan menurunkan Halana. Berganti menarik tangan Halana masuk ke dalam kamar. Halana duduk di ranjang seketika Aslan membuka hoddie nya yang memperlihatkan atasan tanpa kaos lagi dan bahunya sudah sangat parah.
Tanpa disuruh Halana pergi mengambil kotak obat dan mengobati Aslan. Baru akan membantu, Aslan sudah merebut kotak obat itu lagi secara kasar.
"Aslan!" Kesal Halana. Aslan bergeming.
Halana menarik kotak obat, tisu, juga kapas luka dan penjepit luka mengambil peluru. Tidak menperdulikan Aslan.
Dengan singkat peluru keluar Halana sengaja menyiram betadin masuk ke dalam luka dalamnya tapi, Aslan tak berekspresi apapun. Aslan malah menatap cermin Halana berusaha jail lagi dengan menekan Luka sedikit dalam dan sengaja di tekan kasar.
__ADS_1
Halana jadi ngilu sendiri dan menyudahi bercandanya.
Selesai di obati Halana terdiam dan Aslan pergi mengambil pakaiannya.
"Apa dia gak sakit kenapa gue yang kesakitan ngilu sendiri. Sebenernya kenapa Si Aslan ini," ucap Halana.
Aslan datang lagi dan menghampiri Halana lalu berterima kasih dan pergi.
Ketika itu dengan berani Halana menarik Aslan yang sedang mode biasa hingga berbalik dan memenusuk jarum lancip di bawah kupingnya tidak dekat dengan urat nadi.
Aslan terdiam menatap Halana seketika itu Halana menekan jarum itu lebih dalam dan ketika ekspresi lainnya tak muncul Halana langsung sadar mencabut jarumnya dan Aslan terdiam menatapnya. Ketika wajah Aslan menatap ke cermin Aslan tetap tenang, Halana terdiam.
"Gue.. Minta maaf.. Gue gak maksud buat lo," ucap Halana seketika lemas dan mundur perlahan.
Aslan menyentuh bawah telinganya dan ada darah disana.
Aslan terdiam.
"Sepertinya Kau curiga sekarang," ucap Aslan dengan tenang.
"Aku harus pergi," ucap Aslan. Halana terdiam dan menatap kepergian Aslan.
Baru pintu kamar tertutup Halana langsung gemetar ketakutan.
"Gak.. Gak mungkin kalo Aslan itu monster."
"Ini pasti ada yang salah, Aslan punya detak jantung Aslan pasti udah terbiasa sama luka-luka." Halana bergerak ke atas kasur dan duduk dekat dengan nakas ketika melirik nakas Halana melihat ponselnya.
Halana mencari sesuatu di internet dan menemukan apa yang selama ini ia lihat dari ekspresi Aslan dan juga mencari tahu tentang penyakit Aslan yang tidak bisa merasakan rasa sakit.
Halana menghela nafasnya dan menyisir rambutnya dahi kebelakang.
Halana harus mencari tahu lebih dalam Halana tidak bisa diam saja. Selama sepuluh bulan tinggal dangan Aslan Halana tahu seperti apa Aslan berkspresi seperti menatap orang itu dulu baru dia melakukannya atau wajahnya seperti orang berpikir lalu mengeluarkan ekspresi apa yang akan dia keluarkan.
Halana dan Inah ada di dalam kamarnya Inah sekarang. Halana menatap Inah dengan tatapan tajam juga sedikit tersenyum.
Inah sangat canggung ketika tiba-tiba Halana mendatanginya di tengah malam.
"Jika Rahasia di pendam terus pasti akan ketahuan bukan?"
__ADS_1
"Iya.. Nyonya, Memangnya Rahasia apa yang nyonya ingin tahu sampai waktu istirahatnya Nyonya susah-susah datang menemui saya memangnya Tuan tidak marah?" ucap Inah dengan wajah yang bingung.
Halana juga bingung dengan dirinya sekarang dari sikapnya tadi membuat luka pada leher Aslan, Saat itulah Halana merasa tak nyaman dan risih bersamaan dengan sms waktu itu.