Pernikahan Berbahaya

Pernikahan Berbahaya
Bicara sebentar


__ADS_3

Halana belum pulang sejak kejadian itu dan itu membuat Aslan biasa saja tapi baru sadar ketika Aslan ingin melangkah istirahat di kamar rasanya Halana tidak ada sungguhan.


"Kemana dia?" Aslan mencari Halana kesana kemari dan mencarinya juga ke tempat dimana Halana bisanya menangis berdiam diri tidak ada di manapun, semuanya sepi.


Ketika Aslan berjalan santai sambil kedua tangan masuk ke dalam kantong celananya.


Aslan melihat kursi dan duduk disana Aslan duduk diam dengan tenang baru akan menikmati malam dengan suara air mancur dan melihat ikannya yang cantik Suara orang melangkah membuat Aslan menoleh.


Halana ternyata.


"Apa kau sedang ada masalah kenapa kau pulang terlambat," Aslan bicara pada Halana yang diam saja berjalan gontai masuk ke dalam rumah. Aslan mengikutinya masuk.


"Apa aku perlu membuatmu terpaksa bicara," ucap Halana tiba-tiba.


"Aslan ceraikan aku saja sekarang," ucap Halana dengan wajah yang keras ingin marah tapi, matanya ingin menangis.


"Ada apa? Tidak bisa?" Kata Aslan pelan dan tegas wajahnya tetap datar.


"Aku tidak akan mencerikanmu," ucap Aslan lagi seketika Halana berbalik.


"Kalo gitu sekarang kamu jujur bilang kalo kamu punya penyakit." Halana menarik Aslan duduk dan memintanya bicara dengan nyaman. Membawa Halana masuk ke dalam rumah.


Aslan terdiam dan berpikir menatap Halana yang ada didepannya.


"Aku akan bicara tapi kamu apa masih mau bersamaku terus," ucap Aslan menatap wajah Halana tiba-tiba ragu bingung.


Aslan menatap Halana yang tiba-tiba menghapus air matanya seketika Halana mengangguk dengan antusias di paksakan senyum.


'Jika aku sudah selesai dengan tugasku aku akan pergi saja.' Kata Halana dalam hati.


Halana tersenyum. Aslan juga ikut tersenyum melihat Halana tersenyum Aslan mulai menceritakan semuanya. Dari awlanya dan sampai sekarang bisa menikah dengan Halana lalu rahasia kecilnya.


Xx


Aslan terdiam duduk sendirian dengan wajah yang datar. Halana didepannya menatapnya dengan tatapan datar juga. Setelah cerita malam itu mereka saling diam.


"Jadi selama ini aku salah sangka aku tak paham tentang itu maafkan aku," ucap Halana merasa bersalah dengan tindakannya ternyata penyakit Aslan memang bawaannya dari lahir, Halana malu sendiri.


"Tapi, apa yang bisa aku bantu untukmu, Mommy mu pasti sangat ingin tapi, kau tahu itu tidak bisa sembuh normal," ucap Halana dengan pelan sambil makan pagi bersama Aslan. Aslan mengangguk santai lalu menatap Halana.

__ADS_1


"Dengan Kelly aku tak bisa seperti ini aku tak bisa mengikuti senyum tawa ataupun melihatnya menangispun aku tak mau mengikutinya, Aku melihat jika ekspresisnya tak sesuai emosinya." Aslan terus terang menatap Halana tentang Kelly dan dirinya.


Halana menganggukkan kepalanya.


"Lalu ?" Halana memakan sepotong roti lagi dan mengunyahnya.


"Jadi kamu dekat dengan Kelly karena itu?" Tanya Halana dengan menatap Aslan yang memakan roti lapisnya.


Aslan mengangguk.


"Katanya Kelly bisa membuatku bahagia dan bisa membuat suasana hatiku berubah-ubah jika aku menjadi teman dekat tak lama kemarin ia menyatakan cinta lalu aku tetap sama tak ada yang bisa aku rasakan emosi campur aduk yang Kelly bilang sama sekali aku tak paham dan aku tidak tahu sampai sekarang," ucap Aslan tenang.


"Aku ingin kau tetap bersamaku aku mau karena aku ingin melihatmu tertawa tersenyum bahkan menangis aku selalu mengikuti bahkan aku sering melihatmu tertawa apa itu menyenangkan aku menyukainya dari tawamu yang aku ikuti aku merasa sedikit baik nyaman rasanya, jika orang itu tertawa karena emosinya rasanya ada sesuatu mengganggu tapi, aku tidak tahu apa itu, ya itu menyenangkan," ucap Aslan terus terang lagi.


Halana terdiam. Aslan makin bicara banyak Halana makin tak enak hati dan merasa bodoh karena melihat dan menilai seseorang dari luarnya. Ternyata aslan adalah satu dari sepuluh irang benar-benar tahu arti sunyi.


"Lalu aku harus membantumu seperti apa agar aku bisa cepat menyelesaikannya." Halana menatap Aslan wajah Aslan tiba-tiba tidak seperti tadi yang terlihat hangat. Halana sepertinya salah bicara.


"Aku tidak tahu, kau pikirkan saja sendiri," Kata Aslan lalu berdiri dari duduknya.


Aslan pergi keluar ketika itu Halana memperhatikan isi rumah rasanya Aslan tidak akan bisa jadi memiliki emosi jika ia tak memiliki keluarga atau orang yang bisa membuatnya nyaman seperti yang di bilangnya dati tapi, Aslan bisa sembuh itupun mustahil. Menghela nafas putus Aslanya Halana meminum air putih dan bergerak dari meja makan menjauh.


Xx


Sampai di tempat kerja Halana merasa risih karenan Jenna mendekatinya membawakannya sarapan dan juga bersikap baik ini sejak kemarin Halana tak tahu dengan maksud sikap mereka tiba-tiba aneh.


Halana menerima saja.


"Terimakasih.. banyak tapi, Gue udah makan.."


"Terima aja Halana gue mohon," ucap Jenna dan teman-temannya.


Halana mengangguk saja.


Kembali berjalan masuk dan mulai bekerja seperti biasa ketika itu Zoela meminta Halana membawakan minuman untuk Aslan dan tamu.


Halana mengangguk saja dan membawakannya ke tempat Aslan.


Baru masuk ternyata Mommy dan Daddy Aslan.

__ADS_1


Halana meletakkan gelas dan pergi begitu saja.


"Halana bisa kita bicara bersama." Kata Mommynya Aslan menghentikan langkah Halana terhenti berbalik. Menggaguk pelan.


Xx


Di sini Anna janjian dengan Fio tentang Edgar lelaki yang dikenalnya. Anna tidak tahu kalo sahabatnya ini sudah menikah dengan pria yang sering mereka bicarakan.


"Laah.. Emang kenapa lagi," ucap Anna sambil memakan camilannya.


Pasti Edgar lagi tebak Anna.


Fio menatap dengan wajah iba memelas.


"Gue mohon dong cari kek temen lo siapa gitu yang mau ama cowok dingin ketus dan rajin kerja ganteng ini," ucap Fio sama seperti kemarin-kemarin.


"Alamak.. Ogah gue enak aja lo yang ada klo ada apa-apa emak gue bisa tahu ntar dua jajan gue di stop. Nih ya Fiona... Gue itu kerja cuman jadi karyawan toko kecil kalo gaji gue gede gue buat masalah kagak papa tapi, gaji kecil tinggal masih di ketek emak gue.. hidup di bawa susah, ribet-ribet mati aja gue Fi!"


Fiona menatap mata Anna dengan berbinar memohon.


"Ogah!" Anna tegas.


Fiona mendengus kesal.


"Ok kita putus," ucap Fiona aneh.


"Lo apaan sih malu maluin gue gak liat nih banyak orang, putus putus gue gak suka lobang buaya kek lo," ucap Anna seketika membuat Fio langsung membekap mulutnya.


"Lambene ki di jogo Cak wedo omongane seng alus (mulutnya tuh di jaga anak perempuan tu harus lembut)," ucap Fiona dengan medoknya.


Anna mencibir.


"Halah.. laah.. Seng ngeneki baru we, seng alu seng alus kek jidatmu lunyu (Halah lah kayak gini aja baru yang lembut yang lembut kayak dahimu licin)," kata Anna kesal membalas ucapan Fiona seketika Fiona mengkaget.


"Laah... lo kok bisa kan gue asli pake bahasa itu kalo di rumah lah lo kan orang pake bahasa asing," ucap Fiona tak terima.


"Uteke ki di enggo rak lambene ae (Otaknya tuh di pake gak mulutnya aja)," ucap Anna lagi.


Fiona berdecak malas seketika menumpel mulut Anna dengan selada.

__ADS_1


"Anak kambing." Fiona puas Anna melotot kesal.


__ADS_2