
Halana menatap Mommy dan Daddy Aslan bergantian Halana duduk di samping Aslan dengan tenang.
"Halana sebenarnya kalian kan udah lama dan hampir mau setahun.." Mommy Aslan menjeda ucapannya.
"Ehmm.." Menatap Daddy Aslan.
"Aslan sebenarnya punya kekurangan gak bisa merasakan rasa sakit dan indra pengecap rasanya itu gak peka Aslan juga punya masalah gak bisa merasakan emosi, ehm.. Halana apa kamu bisa membantu Aslan sepertinya juga Aslan dekat sekali dengan kamu belakangan ini apa kalian bisa cocok," ucap Mommy nya Aslan.
"Tidak terlalu mom," kata Aslan.
Mommy Aslan menganggukan kepalanya menatap Halana berharap Halana mengatakan sesuai harapannya.
"Tapi, Mommy Maaf," ucap Halana.
"Halana bukan gak bisa tapi, emang gak bisa karena Halana tahu maksud dari ucapan Mommy, Mom, Aslan gak mungkin bisa sembuh total normal, Aslan cuman butuh orang yang cocok yang nyaman, Mommy juga harus bisa cari wanita sepadan seperti ingin mommy, Anak Mommy Aslan gak akan sakit lagi mungkin kalo aku gak sama-sama, Kalo Mommy dan Daddy mau memisahkan pernikahaan ini Aku gak papa," ucap Halana berpura-pura kuat. Mommy Aslan seketika terdiam. Halana sebenarnya ungin bicara seperti ini kemarin setelah Mommy Aslan selesai menelpon tapi, malah sekarang bicaranya.
Ternyata Halana mendengar pembicaraannya. Gagal sudah semuanya rencana mommynya Aslan.
"Tidak! Halana.. Jaga bicaramu, Saya kira kamu itu bisa membuat anak saya kembali normal malah kamu bilang dia gak bisa sembuh," cecarnya membuat geram ketika akan menampar Halana Aslan menghentikannya. Daddy Aslan juga menghentikan Istrinya marah-marah.
"Mommy jaga aja kesehatan gak baik Mommy terus marah," ucap Aslan dengan lembut.
"Saya permisi keluar," Halana melangkah keluar dan menutupnya lagi. Edgar dan Zoela sempat melihat Halana menunduk dan mengusap pipinya.
"Terlalu tinggi Harga dirinya," mencibir Halana yang baru saja keluar. Aslan menatap Mommynya.
"Mommy. " Panggilan Aslan menatap mommynya.
"Besok kalian cerai saja," Mommynya langsung menoleh menatap Aslan bicara tanpa beban.
"Apa maksud mommy? Kenapa berubah gini," ucap Aslan menatap Daddy, Daddynya hanya menganggukan kepala detik kemudian mengerjapkan matanya pelan sekali.
"Mommy gak terima sayang anak mommy pasti bisa sembuh Mommy cuman pengen kamu bisa bahagia ngerasaain rasa senang dan sedih sayang," ucap Mommynya. Aslan menatap Mommynya.
"Mommy tahu Halana itu udah berusaha memahami Aslan tapi, Aslan aja yang ngejauh. Maaf Mommy (Aslan menatap Mommynya) Aslan itu suka sedikit niruin senyuman Halana, Aslan rasa semua yang Halana liatin dari emosinya itu natural gak Bohongan gak di buat-buat."
"Tapi, Nak Halana bilang kamu gak akan sembuh. Mommy gak terima itu sayang, Mommy itu cuman pengen kamu itu bahagia kamu gak harus ngerasaain yang namanya hampa sungguhan."
Aslan bangkit dan pergi dari hadapan Mommynya.
Bukan kah lebih jahat Mommynya dari pada Halana yang mengatakan jika Aslan tidak akan bisa normal Mommy yang melahirkannya masih tidak terima jika dirinya memiliki kekurangan itu Apa yang Aslan lakukan selama ini belum cukup untuk mommynya yang masih kurang jika Aslan memang tak normal.
Aslan keluar dari ruangannya seketika itu Arga menghela nafas kasarnya.
"Aku sudah katakan biarkan saja semuanya sesuka putramu jika sudah begini jangan salahkan aku lagi karena semuanya kau yang buat semakin rumit," kata Arga. Ayla terduduk lemas.
Di ruangan pegawainnya Halana baru saja masuk Jenna yang melihat Halana aneh dan semua temannya kaget karena Halana menangis.
Jenna menatap Halana membawa tas seketika menghentikannya.
"Halana lo mau kemana," ucap Jenna.
__ADS_1
"Gue pulang tolong izinin gue ama Bu Dinar kalo dia mecat ambil aja upah gue," ucap Halana pasrah Jenna terdiam.
"Gampang banget ngomong pecat." Jenna menatap aneh dan bingung. Halana berlalu pergi meninggalkan ruangan pegawain kebersihan.
Setelah Halana pergi Aslan baru saja datang Halana melangkah keluar kantor dan menaiki taksi menuju Stasiun kereta api.
Halana pergi tak lama Aslan keluar Aslan langsung mengambil mobilnya di parkiran dan pergi mengejar taksi Halana.
Ketika itu Taksi itu berjalan cepat dan Aslan ketinggalan jauh.
Baru saja akan menyalip Aslan tak lihat mobil Kontainer lewat dan seketika menabraknya dengan kencang. Mobilnya hancur terseretbeberapa meter dari tempat di tabrak beruntung mobil memiliki pengaman baik kemungkin cedera parah untuk Aslan bisa di hindarkan hanya cedera ringan.
Semua orang hanya diam menatap kaget tidak ada yang percaya itu semua mobil polisi datang Edgar yang mengikuti Aslan sejak mobilnya keluar kantor. Edgar sudah memiliki firasat tak baik jika bosnya ini pasti ugal ugalan.
Benar saja baru Edgar sampai dan mengerem mendadat seketika itu mobil Aslan yang tepat di depannya di tabrak mobil kontainer yang langsung pergi setelah menabrak.
Edgar keluar mobil dan langsung menghubungi semuanya.
Di kantor Zoela dan Ayla bersama Arga keluar dengan berjalan cepat menuju lobi depan mobil sudah disiapkan.
Sejak mengetahui Aslan kecelakaan Ayla terus menangis sempat pingsan tapi sadar lagi.
Zoela mengemudikan mobilnya diatas rata-rata untuk cepat sampai pada Aslan dan Edgar.
Di tempat kejadian Tak lama Ambulan datang polisi dan juga petugas lainnya.
Arzen dan Tez datang dengan wajah sama terkejutnya.
"Kalian urus beberapa hal mencurigakan kita bagi tugas jika ini sulit," ucap Edgar pada Arzen.
Setelah Aslan di bawa Ambulan Edgar juga buru-buru masuk mobil dan mengikutinya sampai rumah sakit.
Aslan di larikan kerumah sakit dengan keadaan yang darurat. Sopir Ambulan kaget saat beberapa mobil sirine juga mengiringi laju Ambul agar cepat sampai.
"Sepertinya yang kecelakaan ini bukan orang biasa," Kata sopir Ambulan yang kagum.
"Serasa bawa irang yang paling di segani negara kalo kayak gini, Bisa jadi kita kayak bawa anak presiden apa anak orang paling kaya di negara ini," kata perawat di belakang.
Xx
Halana baru saja turun di stasiun buat nenangin dirinya.
"Kalo aja semuanya... (Menghela nafasnya) gak seharusnya kayak gini mungkin aku gak akan sakit hati lagi," Halana melangkah pelan masuk ke dalam stasiun duduk dan melihat lihat kereta datang dan pergi sampai jam sembilan malam dengan minum es kopi.
Setelah puas dan lega Halana pulang ke rumah.
Aslan dalam kondisi darurat sampai harus ada oprasi dadakan semua timdokter berkeringat dingin karena tahu siapa yang mereka tangani, Sudah hafal Rumah sakit Tanah air jika Xv company punya putra semata wayang yang sangat disayangi apa lagi beberapa dokter sempat melihat wajah Ayla dan Arga tambah keringat dingin mereka, bukan masalah oprasi tak berjalan baik. Tapi, keluargaer mereka apa akan hidup lebih lama.
"Lebih baik bawa Ayla pulang Zoe." Arga berkata tegas pada Zoela.
"Enggak.. Gak.. mau aku mau liat Aslan sampai sadar, Arga," ucapnya masih dengan tangis.
__ADS_1
"Ayla pikirin kesehatan kamu, aku disini jaga Arga kamu pulang, Zoe bawa pergi Ayla," kata Arga tegas lagi.
Zoela membantu Ayla yang lemah dengan menuntunnya keluar rumah sakit.
"Bilang pada Joe.. periksa tempat kejadian. Dan Arzen?" Arga menatap Edgar.
"Sudah Tuan, Arzen di posisi," ucap Edgar dengan tenang.
Di rumahnya.
Halana masuk kedalam rumah seketika itu Mommy Aslan menampar wajah Halana tiba-tiba dengan keras dan melempar surat cerai didepan wajah Halana dengan kasar bersamaan pena.
"Tanda tangan itu dan jauhi putraku kau biang masalah, Aku seharusnya tidak membuat pernikahan berbahaya ini untuk putraku, Aku tak ingin kehilangan putraku kau penyebab Aslan kecelakaan dan sekarang tidak pasti keadaannya, Kau pergi sekarang dari hadapanku," ucap Mommy Aslan sambil menangis juga marah.
Halana terdiam tidak mengerti tatapan matanya kembali panas dan kembali mengeluarkan air mata.
"Apa maksud Mommy Aslan kecelakaan," ucap Halana pelan lemah seketika Mommynya Aslan pingsan dan dibawa masuk oleh Inah dan Zoela karena terlalu steres dan juga sedih kondisinya tak baik lagi.
Beberapa menit kemudian Dikter selesai memeriksa Mommynya Aslan. Setelah Dokter periksa ternyata kondisinya tidak baik dokter menyarankan untuk membawanya kerumah sakit.
Halana duduk di atas sofa memegang surat cerai.
"Kenapa semuanya seperti ini," ucap Halana memegang berkas perceraian itu Seketika sebuah sapu tangan di berikan pada Halana.
"Nyonya jangan bersedih Tuan pasti mengingin kehadiran Nyonya, saya akan mengantarkan Nyonya," ucap Arzen yang ternyata mengulurkan sapu tangan.
"Terimakasih tapi, sepertinya aku harus tanda tangan ini," ucap Halana memang harus melakukannya, seketika Arzen menghentikannya mengambil pena itu dari tangan Halana.
"Sebaiknya Nyonya ikut saya," ucap Arzen.
Halana sulit percaya pada orang lain sekarang tapi, bagaimana jika Arzen memang benar ingin menunjukkan sesuatu Halana mengangguk dan ikuti dengan Arzen pergi.
Di ruang Icu perlahan kondisi Aslan membaik.
Dokter yang sejam sekali bergantian masuk dengan dokter lainnya memeriksa keadaan Aslan terkejut bukan main.
Ini mustahil terjadi pada manusia biasa tapi, Aslan Xavir cepat sekali memalui masa keritisnya hanya dalam waktu beberapa jam.
Aslan di pindahkan kerruangan rawat biasa.
Di rumah Aslan, Mommynya masih berbaring dengan infus di tangannya karena menangis hingga lemah.
Zoela tak melihat Halana tapi ketika bertanya pada Inah yang sejak tadi ada di luar kamar utama mengatakan melihat Arzen membawa Halana pergi.
"Makasih Inah," kata Zoela langsung menghubungi Arzen.
Di lampu merah Arzen menghentikan mobilnya dan mengangkat telepon dari Zoela.
"Yaa Maam," Sahut Arzen menatap kedepan dengan aerphone di telinganya.
"Iya," kata Arzen melirik Halana yang menatap keluar jendela.
__ADS_1
"Baiklah jaga Nyonya Muda Halana, nyonya besar kondisinya tak baik, Usahakan jangan ada keributan didekat Tuan Arga," ucap Zoela di telpon tersambung dengan Arzen.
Di rumah sakit sekarang Arga ada di ruangan rawat Arga