
Aslan mendudukan dirinya disamping Halana yang sedang makan kacang sambil nonton acara kesukaannya.
Halana melirik sekilas melihat Aslan.
"Kenapa kau duduk bersama," ucap Halana tak teralihkan.
"Memangnya kenapa kau istriku jika aku duduk disini masalah. Yang masalah jika kau duduk diatasku," ucap Aslan seketika membuat Halana geli.
Halana langsung pindah tempat duduk di sofa single.
"Matikan tvnya," ucap Aslan.
Halana menoleh dan tak menurut. Aslan bergerak mengambil remot dan mematikannya lalu menarik Halana mengajaknya keluar.
Halana menarik tangannya.
"Lepas.. kenapa kau menarik-narik tanganku sih, Lepas." Kata Halana marah dan menarik tangannya seketika Aslan melepaskannya.
"Kenapa apa kau mau apa hah," ucap Halana.
"Bagus semakin bagus ucapanmu lebih sopan. Sekarang kau tinggallah di rumah Mommy sampai besok pagi."
Halana menatap Aslan dengan ucapannya yang mengundang Halana ingin bertanya macam-macam.
Xx
Anna makan mie instan sambil menghadap layar laptopnya.
"Mama mau kemana malam begini," ucap Anna.
"Kau dirumah jangan keluar malam lagi Mama akan pulang telat," ucap Anna.
"Kok bisa memangnya apa lagi mah," ucap Anna menatap ibunya.
"Mama ada urusan jemput menantu Xavier Tuan muda minta Mama yang jemput dan anterin kerumah orangtuanya." Anna menatap ibunya yang mengikat rambutnya dan memakai blezer.
"Tapi, kan itu bisa jadi tugas suaminya, oh.. atau jangan jangan Mama ikut masalah rumah tangga ya mah.. Waah bahaya mah gak aku biarin." Anna panik menarik tangan ibunya ketika membuka pintu untuk keluar dari apartemennya.
"Apa sih Anna mama sebentar gak ada yang kamu khawatirin ini bukan masalah besar ini cuman anter jemput terus mama pulang," ucap Zoela menyangkinkan Anna putrinya sendiri.
__ADS_1
Zoela segera berangkat pergi dengan membawa mobilnya sendiri keluar area parkir apartemen.
"Mama aneh tapi, ya udahlah emang kek gitu bayarannya gede kerjaan juga banyak, Smenagat mamaku," ucapnya melambai di pintu yang baru saja tertutup.
Xx
Saapai di tempat Aslan Zoela menghentikan mobilnya melihat Halana dan Aslan sedang bicara tapi, seperti marah-marah pada Aslan.
"Apa yang mau kau lakukan kenapa harus aku pergi ," ucap Halana seketika Zoela datang dan Aslan menatap Zoela untuk membawa Halana masuk kemobilnya segera.
Halana meronta seketika Aslan berdehem menatapnya.
"Aslan ini.. Bu Zoela!" Halana kesala sendiri.
Zoela juga menarik Halana paksa. Halan menurut mau maju juga tatapan Aslan nyeremin.
Baru akan masuk ke dalam mobil Zoela seketika itu Aslan masuk ke dalam rumah, Halana menatap Aslan berbalik pergi begitu saja, juga langsung menurut masuk kemobil dan pergi bersama Zoela.
Di rumah Kedua orangtuanya Aslan.
"Kau harus berpikir bagaimana caranya semua selesai Arga," ucap Istrinya dengan kesal. Sejak tadi suaminya hanya tenang dan terus menelpon seseorang.
"Aku tidak bisa melakukan apapun karena itu adalah urusan Aslan." Sanggah Arga dengan tenang. Sesekali melirik Ayla yang berjalan-jalan mondar-mandir gelisah sekali mereka juga kadang saling menatap tapi, Ayla menatap kesal.
"Sudah ku katakan darah tinggimu tidak baik dan kau terus saja marah-marah dia pasti baik-baik saja jadi jangan melakukan semuanya berlebihan Ayla." Kata Sang suami dengan tenang. Ayla terus merintih sakit.
Terdengar suara mobil berhenti dan Ayla merasa lebih baik sedikit setelah meminum air hangat dari asisten pelayannya.
Halana dan Zoela melangkah masuk bersama.
"Halana." Suara itu membuat Halana kaget, Halana langsung menatap Zoela dan Halana menatap Mommy Aslan yang langsungmenghambur memeluknya..
"Tan.. Mommy," ucap Halana kaku sudah lama juga masih kaku. Halana bingung dengan pelukannya tiba-tiba.
Tidak sempat membalas pelukan mommynya Aslan Halana dan Zoela di tatap tajam Daddynya Aslan.
"Daddy," kata Halana gugup.
Ayla Mommynya Aslan melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Sayang kamu aman kamu baik aja, Apa kamu selalu di ganggu Dimas Apa kamu tahu dia itu.." Arga menyentuh bahu Ayla meminta tenang dulu.
Halana menatap bingung Mommy dan Daddy nya Aslan.
Ayla diam di depan Halana.
"Eh.. duduk dulu ya," ucap Mommy aslan mengajak Halana duduk dan meminta Pelayan mengambilkan air.
"Sebenernya..." Halana ingingin bicara tapi Mommynya Aslan keburu memotongnya.
"Sayang kamu sendiri dimana Aslan kenapa gak Aa.. sakit." Mommy Aslan seketika sakit lagi kepalanya.
"Halana kamu kekamar dulu istirahat, biar Mommy dengan Daddy," Kata Daddynya Aslan dengan tatapan mata sangat Khawatir menatap istrinya. Halana terdiam mengikuti mereka masuk mengantar mommynya Aslan.
Tak lama dokter datang, Halana dari jarak sedikit jauh melihat Daddynya Aslan memarahi dokter dan menarik kasar kerah Dokter.
Zoela juga sibuk dengan para pelayan. Halana ke bingungan. Ketika mau memanggil Zoela ingin bicara.
Zoela langsung pergi lagi membantu Mommynya Aslan yang terlihat memburuk keadaannya.
Xx
Di tempatnya sekarang Aslan sedang duduk tenang di dalam rumahnya berhadapan dengan Dimas Malvonso Dimas yang sama yang mendekati Halana.
"Kau pasti menyembunyikan Halana dimana dia berikan saja padaku dan aku akan kembali dengan cara yang baik juga, bagaimana? kau tidak melupakan pembicaraan kita di kantormu bukan." Kata Dimas dengan tatapan tengilnya. Aslan dengan tatapan datarnya tetap tenang.
"Apa yang kau lihat dari wanita itu kenapa kau sampai membawa ayahmu kemari apa kau tak bisa bicara berdua saja denganku," kata Aslan seperti membuat Dimas memang anak manjanya Malvonso.
"Dimas Dimas... Kau ini, benar kata Aslan tapi, Aslan aku kemari bersama anakku karena pembicaraan kita di kantormu tentang bisnis itu adalah pertukaran yang pantas dengan istrimu jika kau memberikan istrimu pada putraku Dimas, kau akan mendapatkan Tander besar itu juga proyek yang ada di benua timur." Ayah dari Dimas Malvonso, Jack Malvonso berusaha mempengaruhi Aslan dan yang hanya mereka tahu jika Aslan akan melakukan apapun untuk ambisinya.
"Oh yaa.. Sayang sekali tapi aku lebih memilih istriku di bandingkan dengan tander yang cukup besar," ucap Aslan tenang seketika berdiri.
"Jangan kira aku bodoh dengan tidak mengerti maksud kalian," kata Aslan dengan menatap datar Dimas.
"Kalian bisa keluar dan bawa semua yang kalian tinggalkan." Tegas Aslan membuat Dimas dan Jack merasa di permalukan.
"Tidak bisa aku ingin Istrimu," ucap Dimas berlari mencari Halana dan tak menemukannya dimanapun hingga terdengar baku tembak.
Dor.. Dor.. Dor...
__ADS_1
"Aku tahu kau menyembunyikannya sekarang beritahu aku dimana dia," ucap Dimas menatap Aslan yang berdiri dengan tenang satu tangan di dalam saku celana sedangkan sofa Aslan sudah rusak dengan tembakan dari pistol Dimas. Aslan menoleh menatap jack ayah dari Dimas ketika itu Dimas mengepalkan kedua tangannya marah sambil salah satunya memegang pistol.
"Lucu sekali, Tampan tapi, mengincar milik orang, Apa kau mau bercita-cita seperti ayahmu dulu," ucapan Aslan yang meremehkan Jack Malvonso seketika membuat Dimas geram.