
Aslan datang sendirian ke acara makan malam tanpa siapapun Halana juga datang sendiri tanpa bersama siapapun tidak tahu siapa yang mengundang mereka ternyata teman Halana dan suaminya adalah kolega Aslan. Ais yang waktu itu bertemu Halana di taman ketika Halana baru saja kembali dari rumah mommynya Aslan.
Tanpa Aslan dan Halana tahu jika Teman mereka ini sudah kerja sama dengan seseorang dan hadiahnya jika berhasil adalah sesuatu yang besar.
Tapi, keluarga temen lama Halana ini tidak ingin Hadiah, mereka memang benar-benar ingin Halana dan Aslan bersama kembali hanya bantuan kecil lagi pula juga suaminya Ais atau temannya Halana ini senang jika melihat Halana senang.
Aslan duduk di kusi makan meja marmer panjang lengkap dengan berbagai suguhan hiasan meja makan menarik sepertinya memang untuk banyak tamu karena sangat panjang hanya ada alat makan lilin berbentuk bunga di tengah dan tisu juga serbet, ketika Aslan datang Gavin menyambut Aslan dan baru datang langsung di sambut untuk duduk saja. Asla duduk tanpa curiga.
"Selamat datang Aslan." Kata Gavin koleganya yang ternyata suami dari teman lama Halana yang waktu itu bertemu di taman kota.
"Iya," sahutnya.
Halana di sambut nyonya rumahnya dan di minta tolong sesuatu.
"Tapi Ais.. Gue kan masih..." Halana ragu. Ais menepuk tangan atas Halana.
"Bentar aja ke meja makan sana duluan gue nyusul lo nanti," ucap Ais berjalan menjauh menuntun putranya.
"Ais gue kan.. ngapain juga sih gue disini lo nih gak jelas." Kesal Halana Ais malah meminta segera kesana di antar pelayan.
Sebenarnya ini bukan rumah pribadi melainkan tempat yang disewa untuk sebuah acara mirip Vila tapi, lebih mewah karena ini sama dengan Mansion istana seorang adipati, Acara makan-makan ada di luar ruangan ini letaknya di belakang dekat taman pemanggang daging atau beberapa lauk untuk pesta bakar-bakar dan ada juga meja kecil bula di pojok sana banyak buah dan ada minuman di susun rapo, di meja sebelahnya, ketika pandangan Halana mengederkan ke meja makan seketika itu sosok yang beberapa hari ini tak terlihat ada didepan matanya.
Dia yang sekarang Aslan ada disana, ini termasuk Vila milik keluarga Brhatadika. Duduk disana tatapan mata mereka juga bertemu. Halana memutusnya lebih dulu. Tidak sadar jika memang benatr itu Aslan.
"Siapa yang ada di meja itu," Halana mendekat dan ketika akan menduduki kursi seketika itu Aslan menoleh lagi menatap dengan lembut.
Gavin sudah pergi sebelum Halana masuk kesana, dan tidak ada disana, Halana hanya melihat pria didepannya yang tidak asing.
"Kenapa.." Halana tidak melanjutkan ucapannya dan kembali berdiri sadar kalo itu adalah Aslan.
"Aku tidak tahu jika kau mau datang ke tempat seperti ini," Kata Aslan tiba-tiba menghentikan langkah Halana yang akan pergi.
__ADS_1
"Siapa yang mau datang siapa yang akan datang itu gak penting Aku kemari karena teman lamaku mengundangku," kata Halana marah pada Aslan tiba-tiba.
Halana pergi begitu saja Aslan memperhatikan dari kejauhan.
Aslan tidak mengejarnya langsung tapi, ketika Gavin baru saja datang dan duduk Gavin langsung menoleh melihat Halana yang baru saja pergi dan tatapan Aslan tak lepas..
"Maaf tapi, sepertinya aku harus pulang mendadak." Kata Aslan dengan tenang. Gavin pura-pura tidak peka.
"Secepat itu, baiklah tidak masalah terimakasih datang walapun belum membicarakan banyak hal, tidak masalah." Kata Gavin dengan wajah pura-pura kecewa.
Halana menenteng tas dan sepatunya berjalan di pinggir pantai malam-malam.
Tempatnya tidak jauh dari pantai maka itu Halana pilih pergi ke pantai di malam hari walaupun anginnya kencang, dress yang di pakainnya juga pendek tipis.
"Kenapa dia ada disini." Halana duduk diatas pasir memeluk kakinya dengan perasan kesal perlahan hilang di bawa angin pantai. Kesal karena Aslan di undang untuk datang. Memainkan jari kakinya pada pasir.
Tiba-tiba sebuah mantel hangat menutupi bahu Halana dan melindungi bagian yang terbuka dari tubuh Halana.
"Kenapa kau mengejarku kenapa tidak biarkan aku pergi saja, aku ini tidak ingin melihatmu lagi," ucap Halana kesal.
"Tapi, aku terus ke arahmu, Aku datang kemari karena tahu kau datang, Mommy ingin bicara denganmu, Mommy merasa bersalah." Kata Aslan dengan wajah menatap ke depan.
Halana menatap dari samping lalu menggeleng.
"Tidak aku tidak akan kembali, Pergilah sana jangan ganggu aku." Halana mendorong Aslan pergi.
Aslan hanya mundur kebelakang .
"Baik aku yang pergi!" Halana berjalan tanpa alas kaki membawa sepatunya dan masih menggunakan mantel hangat Aslan, jika jujur memang malam ini sangat dingin.
Berjalan sendirian di tengah malam tanpa siapapun tanpa sadar Halana melewati kumpulan orang-orang mabuk.
__ADS_1
Halana terus saja berjalan dan tidak berisik.
Tiba-tiba Halana di teriaki dan di lecehkan membuat Halana malu langsung menampar orang yang mengatainya.
"Kalian yang Badjigan.. Kalian itu sadar aku tahu salah satu saja yang mabuk kalian lainnya enggak, aku tidak mengganggu tapi, mulut mu mengganggu," ucap Halana.
Seketika yang melecehkan Halana tertawa.
"Tahu ternyata dia. Kalo gitu temenin kita kita malam ini cantik," Katanya seketika membuka kaosnya dan mendekat pada Halana.
Seketika itu Aslan memegang tengkuk orang itu mengangkat ke atas dan menghantamnya ke tanah langsung. Semuanya tercengang bersamaan menatap ngeri apa yang ada didepannya.
"Ingin pergi," ucap Aslan dengan santai.
Halana hendek menjauh seketika tangan Aslan langsung meraihnya dan menghentikannya.
"Iya.. ka-kami pergi," ucap orang orang itu dan tak lupa membawa serta temannya yang terluka lecet itu.
Di tempat acara Ais dan Gavin menatap keluarga Xavir Berhatadika dan juga keluarga besar Alexander dan beberapa orang lainnya.
"Hampir aja kita berhasil," ucap Mommynya Aslan.
"Udah Tante," ucap Rayhan Raxen. Rayhan ini adalah paman dari Arkan Arkan juga salah satu teman Aslan mereka berbeda beberapa tahun dan yang Rayhan nikahi adalah putri keluarga Xavier Bundanya Rama. Untuk kenapa bisa bundanya Rama keluarga Xavier itu karena masa lalu kakek dan Neneknya Aslan dan itu bisa terjadi lalu memiliki Bundanya Rama yang sekarang sudah menjadi istri dari Rayhan Raxen.
"Rayhan, Aslan itu susah di bujuknya Aku tahu pasti dia udah ngerencanain sesuatu kenapa dia mau dateng, pasti dia udah nyelidikin semuanya dan mau dateng kemari," ucap Mommy Aslan seketika Arga menatap istrinya yang sedang berpikir ketika itu mata mereka bertemu pandang.
"Aslan dan Halana diluar mereka datang kembali," ucapan itu membuat semuanya kalang kabut, seperti hal tak perlu dan konyol ini semua adalah ulah Mommy nya Aslan.
Arga dan Rayhan juga Arkan dan Arjuna, mereka hanya duduk dan menatap para oelayan dan wanita membantu Mommynya Aslan.
"Dinda, duduk!" Kata Arkan seketika membuat Dimda menoleh.
__ADS_1
Edgar dan Fio membantu Anna dan Zoela.