Pernikahan Berbahaya

Pernikahan Berbahaya
Pilihan


__ADS_3

Pagi hari yang cerah Fio duduk di meja makan di depan masakan yang baru selesai ia masak semoga saja rasanya tak terlalu buruk padahal sudah di cicipinya dengan baik.


Edgar keluar kamarnya dengan pakain Rapi, ketika akan memaki sepatu Fio mengabilnya seketika menaruhnya lagi di rak sepatu sandal.


"Tidak bisa tidak boleh berangkat dulu, sekarang ayo sarapan ama Gue, cape-cape gue masak dari jam empat pagi subuh gue jeda sekarang makan, Edgar," ucapan Fio seperti seorang ibu yang kesal dengan anaknya yang sulit sarapan pagi.


"Aku akan memakan sarapan..."


"Pokoknya di rumah Ayo," Fio mengulurkan tangannya Edgar menatapnya.


Ada senyum garis tipis di wajah Edgar ketika sikap Fio aneh padanya.


Edgar berdiri sendiri Fio langsung memberikan Edgar untuk duduk di kursi dan mengambilkan sedikit nasi sayur dan lauk.


Fio menatap Edgar yang mulai mencicipi masakannya.


Seketika Edgar terbatuk Fio langsung memerikan segelas Air.


"Apa gak enak rasnaya?" Edgar menggeleng dengan masih terbatuk batuk seperti tersedak.


"Belum aku coba ini, kamu ngeliatinnya gak enak deket banget," ucap Edgar seketika Fio duduk dan menatap Edgar dengan wajah santai tapi, grogi.


Edgar mulai menyuap kuah sayur lalu nasi dan juga lauk.


Beberapa detik kemudian Edgar pergi ketoilet.


"ADUH... Edgar.. Lo gak papa kan," ucap Fio ketakuan jangan jangan ada racunnya makanannya.


Fio segera pergi mencoba makanannya dan ternyata tidak ada rasa aneh semuanya normal.


"Kurang ajar gue di kerjain," ucap Fio.


Ketika akan membantu Edgar karena muntah.


Edgar malah pingsan didepan kamar mandi. Fio menatap tak suka pasti pura-pura ketika akan membangunkannya ternyata Fio salah, Edgar benar-benar pingsan.


Beberapa menit kemudia Edgar sadar dengan wajah pucatnya.


"Lo kenapa kok.." Melihat wajah Edgar menahan sakit Fio merubah raut wajah khawatirnya dan memegangi tangan Edgar.


Bingung harus apa.


"Ambil obat... di lemari... atas ....dekat toples merah di dapur," kata Edgar setengah-setengah bertahan dari rasa sakitnya.


Fio segera mencarinya dan terus mencari sampai menemukannya ternyata obat.


Fio mengambil gelas dan air minum juga obat itu di bawa pada Edgar dan di berikan Fio membuka satu persatu dan memberikan tiga macam obat satu satu.


Edgar langsung meraihnya dengan badan gemetar dan keringat dingin ketika sudah meminum airnya Edgar lega. Obat juga masuk kedalam tubuhnya.


Fio sedikit bernafas lega.


"Lo kenapa kenapa kayak tadi Lo gak masuk kerja aja.. Biar gue izinin lewat Halana ya," ucap Fio khawatir Edgar mengangguk menurut saja. Edgar melebarkan tali dasinya lebih lebar hingga lepas tali dasinya dan membuka kancing atasnya.


Fio berbalik melihat kondisi Edgar tak baik Fio berinisiatif mengambil kaos dan celana rumahan.


Memberikan pada Edgar membantunya berganti dengan telaten didepan wajahnya tanpa malu.


Edgar menarik garis senyum tipis melihat Fiona di sosok lainnya.

__ADS_1


"Lo alergi?" Kata Fio.


Edgar mengangguk dengan lemah keringatnya perlahan berkurang Fiona membantu Edgar berbaring di sofa dengan bantalnya.


Fiona jadi kasihan.


"Maafin gue, gue gak tahu kalo lo punya Alergi, Alergi apaan lo," ucap Fio menatap Edgar.


"Bawang putih, aku gak biasa makan makanan yang bawang putihnya banyak," Edgar menjawab dengan suara lemah.


Xx


Waktu siang berlalu sekerang Edgar lebih baik Fiona baru pulang dari tempatnya bekerja karena izin pulang cepat.


Fiona melihat Edgar dengan pakaian rapi langsung menghampitinya dengan cepat.


Laah..


"Lo kenapa udah rapi, apa lo udah gak sakit," refleks tangan Fio menyentuh dahi Edgar bawah dagu dan leher juga tengkuknya juga memeriksa pergelangan tangan Edgar Fiona juga memeriksa detak jantung Edgar.


Edgar menatap dengan bahagia apa yang Fio lakukan menempelkan telinga didada bidangnya ini baru pertama kali bagi Fiona jika Edgar sudah sering dan itu hanya Fiona tanpa sadar tidur dengan kepala diatas dada Edgar.


"Aku akan keluar hari ini Nyonya Muda Halana ulang tahun, Kamu bantu Halana untuk memilih bunga jangan bilang kalo ada sesuatu nantinya," kata Edgar akhirnya bicara.


Fiona mengangguk mengerti.


Toko Bunga Dfz, yang dekat dengan Butik Xv. Fio menarik Halana membawanya masuk kedalam untuk membantu memilihkan bunga Edelwis kesukaan Ibunya Edgar karena hari ini baru saja pulang dari rumah sakit.


"Lo ngapain sibuk narik gue masuk," kesal Halana.


"Yaelah Lan.. Lo kan udah pengangguran sejati gue ini gaji kecil tombokin lah dikit palingan lima belas apa dua puluh ribu buat mertua gue," jujur Fio menatap Halana malu.


Halana luluh..


"Gue sedih jadinya makasih banyak ya, gue kira lo bakalan sombong setelah kita tahu lo istrinya Pak Aslan."


'Mereka gak tahu yang sebenernya, Kalo akhir dari pernikahan ini juga gak akan baik,' batin Halana menatap Fio yang menatapnya sendu.


Mereka menghabiskan waktu membeli bunga di toko sampai jajan makan dan ngobrol sebentar.


Xx


Halana pulang kerumah setelah mengantar Fio ke rumahnya.


Halana kedatangan tamu yang membuat Halana terdiam sebentar.


"Hallo kak apa kabar?" Halana terdiam


"I-iya. Siapa ya," ucap Halana bingung sendiri.


"Retta panggil aja gitu biar gampang langsungkan," katanya membuat Halana semakin canggung.


Halana menoleh kesamping ternyata ada Mommynya Aslan dan Inah didapur.


"Kamu dari mana sayang kenapa gak.."


Mommy Aslan menatap Halana dan Retta.


"Oh.. Dia sepupu Aslan kenalin ya dia itu istrinya Aslan menantunya tante Ayla, kamu jangan tinggal disini karena kurang baik," nasehat Mommy Aslan pada Retaa.

__ADS_1


Halana meringis.


"Ehm... kalo gitu aku keatas pergi dulu Retta." Halana pamit pergi meninggalkan Retta sendiri dan mommy aslan kembali ke dapur.


"Dari mana?" Suara itu dari Aslan yang baru keluar dari kemar mandi ketika Halana masuk ke dalam kamarnya.


"Aku dari luar pergi dengan Fio kenapa tumben banget tanya," Halana pergi untuk mengambil pakaian gantinya.


Baru Halana keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap seketika itu Halana tidak melihat Aslan.


Halana acuh saja dan pergi berganti pakaian.


Keluar dari kamar merasakan suasan rumahnya sepi Halana merasa aneh.


Pergi lagi ke dapur Halana tidak melihat siapapun.


Aneh Halana kembali lagi pergi keruang tengah tiba-tiba Halana di tutup kain hitam dan di ikat.


Halana berontak dan menarik tangan juga kakinya dari tali tidak bisa teriak mulutnya di tutup kain.


Halana di masukan kedalam sebuah tempat yang luas dan sendirian tiba-tiba dari belakang Halana di tarik kasar kain hitamnya sampai Halana terkejut siapa yang menariknya.


Aslan.


"Halana kamu tidak akan meninggalkanku sebelum kamu memberikanku anak, Aku tidak bisa bersikap baik sama seperti sebelumnya, Kamu melihatku yang sekarang berarti kamu sudah nyaman dengan aku yang dulu," smirk aneh Aslan seketika ada didepan wajah Halana.


"Aku tidak bisa melepasmu tanpa ada bayaran yang cukup, bilang jika kau tidak bisa membayar Harga dirimu dan mengandung anakku itu bisa." Melepas ikatan tangan dan mulutnya Halana. Aslan kembali menegakkan tubuhnya menatap Halana.


Plaak...


Tamparan keras Halana sampai membuat Aslan menolehkan wajahnya kesamping paksa.


Ini adalah yang pertama kali yang membuat Aslan di tampar dengan sangat keras.


"Benar pilihan ku buat jauhi kamu," ucap Halana dengan air mata.


" Apa semua lelaki itu tidak bisa melihat wanita dari perasaannya," Halana seakan lupa jika Aslan tidak memiliki emosi.


"Yaa.. Kamu benar aku bisa membayar segalanya dengan harga diriku karena gak ternilai, Heh," Halana terkekeh hambar sambil mengusap air matanya.


"Aku ikhlas menolongmu," Halana menunjuk dada Aslan dengan jari telunjuknya ekspresi merapatkan giginya marah.


"Aku tak butuh di tolong." Aslan memegang telunjuk Halana berhenti menudingnya.


Halana tersenyum dengan air mata masih mengalir.


"Oiya.. Bodoh berarti aku kira begitu... terus, apa maumu," ucap Halana lalu menatang aslan.


"Anak." Satu kata dengan nada di tekan dan tatapan tegas juga wajah serius.


Seperti sebuah kejutan yang membuat Halana ingin menjerit sakit sekarang bukan senang tapi, menangis darah jika bisa.


"Anak.. Apa anak bisa membuat semuanya membaik? Gak" Halana kembali bicara menantang Aslan.


Aslan berdiri berjalan kesamping lalu berbalik dan menghadap Halana.


"Aku ingin itu untuk membuatmu menjadi wanitaku, Harga dirimu tak ternilai sampai seluruh dunia aku berikan padamu itu juga belum cukup, Aku lupa.. Haah," Aslan tersenyum aneh seperti bukan senyuman.


"Aku tidak punya Dunia." Lanjutnya kata Aslan seketika membuat Halana menatap jijik dan lupa jika Aslan sedang sakit.

__ADS_1


'Apa aku memang harus memilih ini,' kata batin Halana menatap Aslan yang membuatnya terlihat tak berdaya.


"Aku tidak mau pergilah jangan ganggu aku," Halana mendorong Aslan menjauh dan Halana pergi dari hadapan Aslan.


__ADS_2