
Aslan terbaring dengan luka parah di kepala dan juga bahunya.
"Jika kasusini di alami orang dengan gen tidak seperti Tuan muda mungkin beda cerita atau sampai... Maaf, tidak selamat tapi, Tuan muda masih memiliki seribu nyawa, Maaf jika saya menyinggung beberapa hal pribadi Tuan muda," ucap Dokter yang ada bersama Arga menatap Aslan yang berbaring di atas banngkar.
"Katakan," Kata Arga masih menatap putranya.
Dokter mengangguk dan meminta beberapa keterangan medis dari dua dokter di sampingnya. Salah satunya dari laporan medis dokter pribadi Aslan.
"Saya melihat dari catatan medis Tuan muda tubuhnya memiliki gen unik juga, seperti metabolisme, ketahan tubuh dan berbagai hal unik di dalam Tuan muda itu membuat saya kagum karena beberapa hal menakjubkan itu hanya Ada Satu dari Seratus orang punya sebagai penyembuh alami dengan waktu penyembuhannya sangat cepat."
"Bisa di katakan tubuh Tuan muda itu tidak akan mudah sakit karena dari awal sampai sekarang Tuan muda selalu menjaga sistim imunnya dengan sangat baik dan sudah kelewat baik," kata dokter lagi.
"Mungkin terdengar belebihan tapi, saya bisa jamin dalam beberapa menit kedepan Tuan muda akan segera sembuh," ucap Dokter wanita itu lagi, dokter Emelly yang menangi Aslan sekarang.
"Terimakasih karena sudah mau datang kemari susah payah aku yakin Samuel pasti akan mengomel panjang lebar," kata Arga.
"Jangan dengarkan orang bodoh itu, pekerjaan saja seperti orang kejaksaan tapi, sampai sekarang tidak memiliki istri malah mengadopsi anak," kata Emelly.
"Kalo gitu bagaimana Dengan kabar Retta?" Kata Arga tiba-tiba.
"Wah.. wah.. ada apa ini jangan sampai kau mau menjadikan putriku menantu keduamu ya," kata Emelly.
"Tidak," elak Arga.
"Yaa dia baik, mungkin dia akan datang mampir sesekali. Ehm.. Sudah kalo gitu silakan istirahat Xavier keluarga Alexander mungkin juga akan berkunjung melihat rekannya seperti ini," kata Emelly.
Lalu pergi keluar beberapa menit keluarnya Emelly dari sana sempat berpapasan dengan Halana hanya tersenyum.
Awalnya Halana akan masuk bersama Arzen tapi Tez menatap Arzen. Arzen mengangguk Tez mengizinkannya.
Masuk ke dalamHalana melihat ada Edgar dan Daddynya Aslan duduk memejam kan mata bersandar.
Halana melihat itu takut.
"Siapa?" Matanya terbuka dan melihat Halana.
Daddy Aslan bangun dan berdiri dengan tenang. Edgar mengikuti langkah Daddy Aslan mendekat ke Halana.
Seketika Halana menangis dan merasa sangat sedih ketika akan mendekat ke Aslan, Halana melihat ada Daddynya disana menatapnya tajam Halana menatap Aslan lagi di atas bangkar rumah sakit.
"Kemana saja kau Halana, Jaga Aslan aku harus pulang, Arzen temani Halana," ucap Daddynya Aslan pada Arzen juga Halana wajahnya tetep datar.
__ADS_1
Dengan malu Halana menganggukkan kepalanya.
"Maafkan aku Daddy," Kata Halana takut takut Halana menatap wajah Deddynya Aslan menatap Halana semakin dingin rasanya.
"Aku tidak marah." katanya melirik Aslan dan Halana.
Daddynya Aslan pergi begitu saja setelah memutus tatapannya. Halana mendekat dan duduk samping Aslan.
"Maaf Aslan Maafkan aku, Aku gak harusnya buat kamu kayak gini aku gak bisa buat kamu normal malah buat kamu kayak gini Aslan bangun aku mohon," ucap Halana memegang Tangan Aslan.
"Aku tidak mati jangan menangis," ucap Aslan dengan mata terpejam tiba-tiba membuka matanya dan melihat Halana sudah bengkak matanya dan rupanya masih berantakan. Halana masih bingung.
"Wajah mu merah kamu di tampar?" tanya Aslan memegang pipi Halana yang merah sebelah. Halana menjauhkan wajahnya langsung menatap tangan Aslan.
Halana menggeleng sambil mengusap air matanya yang keluar sedikit. Sambil menarik ingusnya Halana memberikan surat cerai pada Aslan.
"Aslan kamu baik-baik aja pasti, maaf Aslan kamu tanda tanganin ini sekarang. Aku gak bisa lagi Mommy kamu sendiri yang minta maaf Aslan." Halana mengucapkan kata maafnya berulang kali menunduk tidak berani menatap mata dan wajah Aslan. Halana melirik kiri kanan.
Aslan bangun duduk seperti biasa seperti tidak terluka parah, seketika itu Halana yang heboh ketakutan.
"Aslan aslan kamu ngapain duduk liat kamu itu luka parah," ucap Halana kesal marah-marah.
"Biarin gak sakit," ucapnya santai sekarang dengan Halana tidak sekarang juga sih kadang kadang juga ada santainya gak formal-formal banget.
"Mana sini liat," ucap Aslan meminta berkas perceraian tadi dengan kasar dari tangan Halana.
"Ini," Halana memberikannya kaget karena di tarik tiba-tiba dan melihat jika Halana juga belum tanda tangan juga disana. Aslan menatap Halana.
"Mana pennya," Kata Aslan. Halana menurut memberikan penanya.
Seketika akan menandatanganinya Aslan malah menusuk dan menyobek juga merusaknya.
"Siapa yang minta kamu cerai," ucap Aslan datar Seketika itu mengumpalkan kertas itu dan melemparnya kedalam wadah air minum. Halana mengikuti arah jatuhnya berkas perceraian itu.
"Buang itu ke tempat sampah, lalu tidur denganku," ucap Aslan.
Seketika Halana menatap tak percaya.
'Mudah dia bilang gitu tapi, yang aku rasain berbeda. Aku gak bisa kayak gini terus,' menangis batin Halana.
"Aslan tapi, itu Kan... Aslan kalo mommy kamu marah gimana," ucap Halana panik ketakutan menatap surat cerai itu.
__ADS_1
"Masih Mommy yang marah itu biasa Daddy yang marah biarin kalo kamu marah gak bisa di biarin sini tidur sebelah aku cepet," Kata Aslan Halana malah pergi saja mengitari bangkar Aslan dan akan meraih wadah minum, belum sempat malah Aslan menariknya untuk tidur bersamanya. Halana kaget tiba-tiba untung bangkar rumah sakit kuat.
"Aslan ..."
"Hem.."
"Gak jadi..."
Terasa hembusan nafas Aslan di tengkuk Halana. Seketika geli.
"Aslan... Jauhan.."
"Iya."
Aslan memeluk Halana dari belakang dan Halana seketika merasakan kehangatan dari pelukan Aslan ragu-ragu Halana tersenyum getir.
"Kamu dulu berani banget kenapa sekarang cengeng apa kamu udah cinta sama aku atau jatuh cinta?"
"Keadaannya beda." Jawaban Halana langsung Aslan tidak tidur sebenarnya masih menatap bagian belakang kepala Halana.
"Bagus lah pelan pelan kamu jadi Halana istriku, bukan Halana Syeria." Halana terdiam dengan ucapan Aslan.
Seketika itu ingatannya datang kembali tentang Aslan bilang jika mommynya memang ingin dirinya menikah dengan Halana lalu memiliki kebahagian Aslan kembali semua.
Berarti jika Halana melihat sejauh ini Aslan juga tak salah mommynya juga tidak salah tapi, Aslan dan Mommynya tak boleh seperti ini Halana merasa di paksa di tuntun awalnya di jadikan ratu tanpa syarat lalu di tuntun sempurna agar membuat semua harapan menjadi nyata.
Halana terdiam ketika memikirkan seorang ibu kehilangan tiga anaknya dan anak terakhirnya tidak bisa merasakan sakit atau emosi Halana terdiam dengan tatapan lurus ke depan.
Ketika akan memejamkan matanya seketika Halana merasakan perasaan mengelitik dan itu dari Aslan.
"Hentikan," ucap Halana berbalik menghadap Aslan.
Menatap wajahnya Aslan mengecup dahi Halana tiba-tiba Halana terdiam mematung terkejut. Menatap tak percaya.
"Jangan sedih," kata Aslan.
"Jangan menangis," ucap Aslan lagi.
"Memangnya kenapa aku sedih aku ingin aku menangis aku ingin," ucap Halana acuh.
"Tersenyum." Kata Aslan seketika itu Halana menurutinya mengangguk dengan senyumannya dan Aslan ikut tersenyum.
__ADS_1
Aslan sebenarnya bingung kenapa dirinya tak suka melihat Halana menangis Aslan lebih baik melarang Halana menangis dan sedih itu membuatnya bingung tapi, jika sudah sedih Aslan juga tidak bisa menghentikannya. Aslan tidak tahu.