
Setelah Kelly di bawa pergi oleh pengawal wanita Halana sudah selesai dengan semua hal untuknya istirahat dengan nyaman.
Baru saja akan mendudukan dirinya di kursi untuk minum didepan meja pantry.
"Kau seharusnya biasa bersikap lebih sopan dan baik," ucap Aslan membuat gerakan tangan Halana untuk minum air putih berhenti.
Tiba-tiba kesal menatap Aslan di belakangnya yang sedang mengisi air dalam wadahnya.
"Lalu apa.. gue harus manis manja baek gitu ama cewek kek gitu, itu cewek lo yang cari masalah dia ogah amat gue minta maaf dan baikkin dia, Gak gue banget." Kata Halana dengan berani lalu minum air putih.
"Kau mengakui pernikahan ini milikmu?" Seketika Halana terdsak air minumnya sendiri dan minum lagi dengan pelan lalu minum lagi hingga reda dan lebih baik.
"Gak sama sekali masalahnya gue itu udah ngejauh gue pasang jarak tapi dianya mancing mulu," ucap Halana kesal menunjuk Aslan didepan wajahnya.
"Kau menantu Xavier," ucap Aslan.
"Iyaa tahu gue menantu nya Kenapa 10 th itu sebentar sekarang jalan dua tahun kayaknya, bentar lagi gue juga gak akan sampe waktu target itu gue bebas." ucap Halana dengan sombong.
"Oiya. Jika berubah berbeda," ucap Aslan mendekat seketika Halana menjauh.
Aslan semakin dekat menyamai langkah Halana yang mundur.
"Tapi, aku ingin kau tetap bersamaku," ucap Aslan.
Seketika Halana menatap lebar menahan Dada Aslan mendorong mundur dengan kuat.
"Menjauh lah." Halana mendorong dan bergerak kebelakang meja pantry jarak mereka terpisah.
"Tapi, gue gak mau, Kalo lo mau hidup sama istri jangan ama gue ama yang lain," ucap Halana.
Aslan tersenyum miring.
"Kenapa.. aku kau ingin hartaku," ucap Aslan.
"Enggak!" Jawab cepat Halana.
"Kau ingin uang?" Kata Aslan lagi.
__ADS_1
"Enggak Enggak! pokoknya," ucap Halana.
"Gue itu cuman mau hidup bebas tanpa ikatan pernikahan asalan lo tahu gue itu gak suka namanya hubungan gue gak suka cinta cowok, walaupun sebenernya gue suka sikap romantis gue itu gak suka karena semua cowok sama aja gue udah pernah sakit hati sejatuhnya gue punya rasa cinta, kedua kalinya gue gak akan pernah mau," ucap Halana dengan tegas matanya berkaca-kaca dan pergi dari hadapan Aslan.
Aslan membiarkan Halana pergi. Seketika itu Aslan merasa harus mengejar tapi, kenapa. Aslan berbalik pergi ke dalam kamarnya dan istirahat Halana pergi kerumah kaca bicara pada tanaman dan menangis sendirian.
"Apa salah gue. Nikah udah ngejalanin udah cinta gue di jebak gak mau ya kedua kalinya." Katanya sambil menangis dan mengusap kasar pipinya dengan telapak tangannya.
"Kenapa kenapa.. harus gue kenapa bukan yang lain gue cuman mau di keluarga gue jadi di sayang gue di perhatiin gue ngerasa kalo rumah dan keluarga adalah tempat gue kembali pulang tapi, setelah ada masalah ini pun gue seakan sadar banget kalo gue sendirian." Sesegukan menatap semua tanaman di rumah kaca.
Halana meletakan kepalanya diatas meja dan menangis menggambar pola dengan jarinya pola tak beraturan yang buruk.
"Hiks.. Bodoh banget.. kenapa tiap ada kesempatan gue gak kabur gue tetp disini ini udah lebih dari berbulan bulan lamanya gue disini." Katanya lagi sambil menangis."
Halana mengerang marah lalu meletakan dahinya diatas lipatan tangan menyembunyikan wajahnya dan terus menangis hingga ingusnyapun ikut keluar.
Sangat sedih menjadi dirinya. Banyak tuntutan menjadi sempurna tapi, Halana adalah gadis biasa dengan banyak kekurangan terlalu berlebihan belajar masuk rumah sakit hingga mimisan tak ada yang perduli hingga pulang dari rumah sakit. Terlalu di bebaskan hingga harus biasa menjaga dirinya agar tidak terluka sedikitpun tapi malah mental dan serangan di dalam dirinya yang membuat Halana menjadi terlihat seperti sekarang baik-baik saja adalah kata yang menggambarkan semuanya.
Halana payah kata dari banyak orang yang tidak tahu Halana. Terlalu kampungan dan jelek yang tidak tahu Halana bahkan Halana tanpa sadar memiliki sahabat yang hatinya bisa berubah dalam sekejap bisa baik bisa menjadi musuh.
Xx
Sampai di kamar Aslan. Inda dan lainnya pergi dengan isyarat Aslan.
Hanya Aslan dan Halana seketika jari tangan Aslan menyikap rambut-rambut yang menutupi wajah cantik Halana.
"Hiiks... Jangan pergi kumohon aku sendirian," Halana mengigau dengan kata yang tak pernah Aslan dengar.
Aslan tak meninggalkan Halana Aslan hanya menyelimuti Halana lalu pergi keluar kamar tak lama kembali lagi dan tidur dengan tenang disamping Halana.
Di rumah kedua orang tua Aslan. Mommynya Aslan baru mendapat kabar sesuatu yang menyenangkan sepertinya, terlihat dari raut wajahnya.
Jika kabar yang didapatkannya adalah tentang Halana dan Aslan.
"Tak perlu waktu sepuluh tahunpun aku akan tahu secepatnya," ucap Mommynya Aslan.
Lalu menutup ponsel dan pergi beristirahat di kamarnya.
__ADS_1
Senyum wajah yang mencurigakan terlihat menyeramkan.
Xx
Pagi cerah untuk awal waktu semua orang yang beraktivitas senyum indah mengembang bagus di wajah Halana.
Nan ayu cantik alami terpaan angin pagi juga embun yang perlahan menghilang bersamaan datanganya hangat mentari.
Halana berdiri di depan jalanan setapak menuju perjalanan berangkat kerja memotong jalan dengan berhenti di taman.
Halana menghidup dalam aroma rindang pepohon tidak tahu kenapa taman belakangan ini sepi sekali.
Halana terus melangkahkan kakinnya.
Di belakang Halana ternyata Dimas mengikuti tanpa sadar mereka berdua ada di tempat yang sama.
Wajah Dimas berubah rautnya ketika mengenal seorang dari bagian belakang tubuhnya.
"Ternyata tak sulit mendekati Nyonya Xavier." Katanya dengan biasa tetap santai berjalan.
Di kantor Aslan sedang berkutat dengan pekerjaan ketika baru saja selesai dan bersandar Kelly datang dengan wajah kesal dan marah.
“Aslan kenapa kamu diam aja pas aku di hajar abis-abisan sama simpanan kamu itu, Aslan kita itu udah lama bareng-bareng, kita sama-sama, apa kamu gak sayang sama aku, gak cinta atau kamu emang gak punya rasa sama aku dari awal kamu terima aku emang cuman buat ngilangin bosen kamu iya,” ucap Kelly ketika itu menyiram wajah Aslan dengan air di cangkir yang ada di hadapan Aslan diatas meja kerja Aslan.
Aslan terdiam berucap di tahan
Seketika menekan tombol panggilan pada Zoela dan Edgar untuk masuk.
“Aslan.” Zoela terkejut karena wajah Aslan basah. Aslan menatap Zoela dan Edgar dengan tatapan tajam.
“Bersih kan semua noda dan bekasnya,” ucap Aslan cukup jelas untuk Edgar.
Edgar segera menghubungi pihak kebersihan sedangkan Aslan pergi ke ruang istirahatnya dan zoela mengajak Kelly pergi.
Kelly melawan tak ingin keluar dan malah membentak Zoela.
Zoela gak kaget dengan bentakan Kelly. Zoela lebih bisa bertindak kejam tapi jika tak memikirkan tentang Xv dan keluarga Arga Xavier mungkin Zoela bisa menyentil Zoela sedikit dan membuat Kelly tak bisa bicara dengan baik.
__ADS_1
Tapi, tak bisa karena Zoela tidak perlu membuang waktu percuma.